Dolar AS Makin Garang, Rupiah Tersungkur Pagi Ini ke Rp18.012
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali kehilangan tenaga pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Mata uang Garuda melemah hingga Rp18.012 per dolar Amerika Serikat setelah inflasi Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Data perdagangan pagi menunjukkan rupiah dibuka di posisi Rp17.999 per dolar Amerika Serikat. Selang beberapa saat, tekanan jual membuat kurs bergerak ke Rp18.012 per dolar AS atau melemah sekitar 0,07 persen.
Pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan arah hampir seluruh mata uang Asia. Setelah sempat menguat sehari sebelumnya, mata uang kawasan berbalik masuk zona merah.
Tekanan tersebut ikut menyeret mayoritas mata uang Asia, memperkuat posisi dolar AS, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru terhadap pergerakan pasar keuangan Indonesia.
Won Korea Selatan mencatat pelemahan paling dalam sebesar 0,34 persen. Ringgit Malaysia turun 0,17 persen. Baht Thailand melemah 0,13 persen. Dolar Singapura terkoreksi 0,05 persen. Yen Jepang serta yuan offshore ikut turun masing-masing 0,02 persen.
Gelombang pelemahan tersebut muncul sesaat setelah Amerika Serikat merilis data inflasi terbaru. Tingkat inflasi mencapai 4,1 persen secara tahunan atau year-on-year. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak April 2023.
Data tersebut langsung mengubah arah ekspektasi pasar global. Pelaku pasar mulai memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Analis pasar Bloomberg Technoz menjelaskan lonjakan inflasi membuat peluang penurunan suku bunga semakin mengecil. Pasar justru mulai menghitung kemungkinan kenaikan Federal Funds Rate pada penghujung tahun.
"Pasar telah memperhitungkan peluang kenaikan Federal Funds Rate sekitar 50 basis poin secara bertahap pada Oktober dan Desember," tulis analisis Bloomberg Technoz, Jumat, 26 Juni 2026.
Perubahan ekspektasi tersebut membuat indeks dolar Amerika Serikat menguat hingga 101,49 terhadap enam mata uang utama dunia. Saat dolar menguat, mata uang negara berkembang biasanya menerima tekanan lebih besar.
Indonesia termasuk negara yang cukup sensitif terhadap perubahan sentimen global. Arus modal asing masih memiliki peran besar dalam pasar keuangan domestik. Saat investor memilih aset dolar, tekanan terhadap rupiah ikut meningkat.
Situasi itu berbeda dengan sejumlah negara Asia lain yang memiliki fundamental eksternal lebih kuat. Malaysia serta Singapura dinilai memiliki bantalan lebih baik menghadapi perubahan arus modal global.
Tekanan tidak berhenti pada pasar valuta asing. Pasar obligasi domestik mulai merasakan dampaknya. Setelah sehari sebelumnya bergerak positif, perdagangan Jumat pagi berubah lebih beragam.
Aksi jual muncul pada obligasi tenor satu tahun, dua tahun, tiga tahun, serta lima tahun. Yield obligasi tenor lima tahun mencatat kenaikan paling tajam sebesar 22,3 basis poin hingga mencapai 7,2 persen.
Kenaikan yield mencerminkan harga obligasi sedang mengalami tekanan. Saat investor melepas obligasi, imbal hasil bergerak naik mengikuti perubahan harga di pasar.
Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi batas penting dalam pergerakan rupiah. Jika tekanan eksternal terus berlangsung, peluang pelemahan lanjutan masih terbuka. Inflasi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang terus dipantau investor global.
Selain inflasi, pasar juga mengikuti perkembangan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,5 persen.Yield tenor 20 tahun bergerak ke level 4,87 persen. Tenor 30 tahun mencapai 4,86 persen. Kenaikan tersebut memperlihatkan investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi pada aset Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat investasi berbasis dolar semakin menarik. Arus dana global berpotensi berpindah menuju aset berdenominasi dolar dibandingkan negara berkembang. Bloomberg Technoz dalam analisanya menilai level Rp18.000 akan menjadi area penting selama beberapa pekan ke depan.
"Selama inflasi Amerika Serikat bertahan di atas empat persen dan yield US Treasury mendekati lima persen, tekanan terhadap mata uang Asia masih berpotensi berlanjut," tulis Bloomberg Technoz.
Secara teknikal, pergerakan rupiah juga masih menghadapi tantangan. Area Rp17.950 menjadi titik pengujian awal. Setelah melewati level tersebut, pasar akan mengamati kemampuan rupiah bertahan di sekitar Rp18.000.
Jika tekanan global terus meningkat, pelemahan lanjutan menuju kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar Amerika Serikat masih terbuka.
Sebaliknya, peluang penguatan tetap tersedia jika tekanan eksternal mulai mereda. Area Rp17.900 menjadi batas awal penguatan secara teknikal. Setelah melewati titik itu, target berikutnya berada di sekitar Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.
Pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang masih sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan yield obligasi Amerika menjadi tiga faktor utama yang terus diamati pelaku pasar.
Selama ketiga indikator tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih tinggi. Rupiah bersama mata uang Asia lain masih menghadapi tantangan besar di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat pada perdagangan global. R-02

