IHSG Bangkit dari Jurang, Investor Serbu Saham Murah Sampai Nyaris Tembus 6.000
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, dengan lonjakan 115,16 poin atau 1,96 persen ke level 5.999,04. Kenaikan ini menjadi titik balik setelah pasar saham Indonesia tertekan selama tiga hari berturut-turut dan sempat memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Perjalanan indeks sepanjang hari berlangsung seperti roller coaster. Saat pembukaan perdagangan, IHSG masih terlihat limbung. Indeks dibuka di area 5.873 dan sempat tergelincir hingga menyentuh level terendah harian di 5.864.
Tekanan jual yang muncul sejak awal pekan masih terasa. Pelaku pasar masih mencerna dampak peninjauan status pasar modal Indonesia oleh MSCI yang memutuskan memperpanjang evaluasi hingga November 2026.
Di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih, aksi beli perlahan muncul. Investor mulai masuk ke saham-saham yang dinilai sudah berada di level murah setelah terkoreksi cukup dalam selama beberapa hari terakhir.
Gelombang pembelian itu terus membesar sepanjang sesi perdagangan. IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di kisaran 6.056 sebelum akhirnya ditutup tipis di bawah level psikologis 6.000.
Total transaksi yang tercatat mencapai Rp13,65 triliun. Sebanyak 22,57 miliar lembar saham berpindah tangan dalam sekitar 1,7 juta kali transaksi. Data perdagangan menunjukkan 537 saham menguat, 135 saham melemah, dan 141 saham bergerak stagnan.
Kenaikan indeks kali ini tidak datang dari satu sektor saja. Seluruh sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona hijau.
Sektor infrastruktur menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan 3,81 persen. Di belakangnya menyusul sektor kesehatan yang melompat 3,03 persen. Sektor barang konsumsi primer menguat 2,50 persen, transportasi naik 2,34 persen, industri bertambah 2,24 persen, dan sektor bahan baku menguat 2,18 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan aksi beli terjadi secara luas dan tidak hanya terpusat pada kelompok saham tertentu. Mesin utama penggerak indeks tetap datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. Tiga bank raksasa nasional kembali menjadi pusat perhatian investor.
PT Bank Central Asia Tbk mencatat nilai transaksi terbesar mencapai Rp1,2 triliun. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan transaksi Rp1,11 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyusul dengan nilai transaksi mencapai Rp978 miliar.
Aktivitas tinggi juga terlihat pada sejumlah saham unggulan lain seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. Analis Phintraco Sekuritas menilai penguatan pasar saham mendapat dorongan kuat dari perubahan kondisi global, terutama penurunan harga minyak mentah dunia.
Dalam catatan riset yang dirilis Kamis sore, analis Phintraco menyebut harga minyak yang kembali mendekati level US$70 per barel memberi ruang lebih besar bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal.
“Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara sehingga kekhawatiran pasar mengenai pelebaran defisit menjadi lebih rendah,” tulis analis Phintraco Sekuritas.
Perubahan arah harga minyak terjadi setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Aktivitas pelayaran energi melalui Selat Hormuz kembali bergerak lebih normal sehingga pasar tidak lagi terlalu khawatir terhadap gangguan pasokan global.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, melihat sentimen tersebut menjadi salah satu alasan investor kembali berani mengambil posisi di pasar saham.
“Perkembangan positif terkait upaya perdamaian membuat harga minyak kembali turun ke level sebelum konflik sehingga membantu meningkatkan optimisme pasar,” kata Maximilianus Nicodemus.
Penurunan harga energi juga mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi global. Saat tekanan inflasi berkurang, peluang kenaikan suku bunga bank sentral dunia ikut menurun. Kondisi tersebut biasanya memberi ruang lebih besar bagi pasar saham negara berkembang untuk bergerak positif.
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati perkembangan domestik. Bank Indonesia mencatat aliran dana yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan obligasi pemerintah mencapai sekitar Rp105 triliun sepanjang Juni 2026.
Arus dana tersebut menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan Indonesia masih terjaga meski pasar menghadapi berbagai tantangan. Meski IHSG berhasil bangkit, persoalan yang berkaitan dengan evaluasi MSCI masih menjadi perhatian besar.
Sehari sebelumnya, pasar sempat terguncang setelah MSCI memperpanjang proses peninjauan status Indonesia sebagai emerging market. Keputusan itu membuat investor kembali menilai risiko yang mungkin muncul jika reformasi pasar modal tidak berjalan sesuai harapan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai evaluasi tersebut merupakan proses yang lazim dalam dunia investasi global. “Evaluasi seperti ini merupakan bagian dari proses yang berjalan secara berkala dan menjadi momentum perbaikan ke depan,” kata Airlangga Hartarto.
Otoritas Jasa Keuangan juga menyampaikan komitmen mempercepat berbagai langkah pembenahan yang menjadi perhatian investor global. Meski risiko masih ada, pasar terlihat memilih fokus pada peluang jangka pendek. Investor memanfaatkan koreksi tajam beberapa hari terakhir untuk mengoleksi saham-saham unggulan dengan valuasi yang dinilai semakin menarik.
Fenomena itu terlihat jelas dari lonjakan transaksi pada saham perbankan, infrastruktur, kesehatan, dan teknologi. Di jajaran saham penguat terbesar, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk melonjak 33,96 persen. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk melesat 24,81 persen. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk naik 24,38 persen.
Sementara pada kelompok saham LQ45, PT Sarana Menara Nusantara Tbk menjadi salah satu pencetak kenaikan tertinggi dengan penguatan lebih dari tujuh persen. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan PT Merdeka Copper Gold Tbk juga mencatat performa positif.
Kebangkitan IHSG pada Kamis menjadi gambaran bagaimana pasar masih memiliki daya tahan setelah mengalami tekanan besar. Investor memang belum sepenuhnya melupakan risiko dari MSCI, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga isu daya saing ekonomi nasional.
Akan tetapi perdagangan hari itu memperlihatkan satu pesan yang cukup jelas. Ketika sentimen global membaik, harga minyak turun, rupiah menguat, dan saham-saham unggulan berada pada harga yang menarik, investor tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali masuk ke pasar.
IHSG memang gagal menutup perdagangan di atas level 6.000. Akan tetapi lonjakan hampir dua persen dalam satu hari menunjukkan pasar saham Indonesia masih memiliki tenaga untuk bangkit setelah sempat tersungkur dalam tekanan yang datang bertubi-tubi sejak awal pekan. R-02

