Rupiah Akhirnya Bernapas, Dolar Gagal Sentuh Rp18.000 Saat Minyak Dunia Tersungkur
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, di level Rp17.943 per dolar Amerika Serikat setelah sepanjang hari bergerak cukup liar mengikuti arus sentimen global. Di tengah tekanan eksternal, mata uang Garuda justru mampu mengakhiri hari dengan penguatan tipis sebesar 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Pergerakan rupiah kali ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada rangkaian peristiwa global yang saling berkaitan, mulai dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, turunnya harga minyak dunia, hingga masuknya instrumen Bank Indonesia sebagai penyangga pasar domestik.
Sejak pagi, pelaku pasar memantau perkembangan terbaru di kawasan Teluk. Selat Hormuz yang selama beberapa pekan menjadi pusat perhatian dunia, mulai kembali beroperasi lebih normal. Jalur laut yang menjadi urat nadi distribusi energi global itu kembali dilalui kapal-kapal tanker setelah tercapai kesepakatan awal untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Normalisasi jalur energi tersebut langsung berdampak pada harga minyak dunia. Minyak mentah Brent turun ke kisaran US$72 per barel, sedangkan minyak WTI bergerak di bawah US$70 per barel. Penurunan harga energi membuat tekanan inflasi global berkurang dan memberi ruang napas bagi banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan pemulihan lalu lintas energi dunia menjadi faktor penting dalam perubahan arah pasar. “Kesepakatan yang terjadi membuat aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz mulai pulih. Kekhawatiran pasokan berkurang sehingga harga minyak dunia mengalami penurunan cukup tajam,” kata Ibrahim Assuaibi.
Informasi serupa juga datang dari pemerintah Amerika Serikat. Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyebut arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hampir kembali seperti kondisi sebelum konflik meningkat. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut.
Meski situasi mulai membaik, proses pemulihan penuh masih memerlukan waktu. Sejumlah area pelayaran masih memerlukan pemeriksaan keamanan sehingga aktivitas distribusi energi belum sepenuhnya pulih seperti sebelumnya.
Di pasar Asia, penguatan rupiah berjalan seiring dengan mayoritas mata uang kawasan. Ringgit Malaysia tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik setelah menguat lebih dari setengah persen. Penguatan ringgit didorong lonjakan investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment yang tumbuh signifikan.
Peso Filipina juga bergerak menguat setelah pasar obligasi negara tersebut mencatat reli dan bank sentral Filipina memberi sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat pada bulan Agustus mendatang.
Sementara itu, rupiah memperoleh tenaga tambahan dari langkah Bank Indonesia yang memperbesar penyerapan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Lelang terbaru menunjukkan nilai yang dimenangkan mencapai Rp18 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan lelang sebelumnya yang hanya sekitar Rp5,5 triliun.
Instrumen tersebut dinilai semakin menarik bagi investor karena menawarkan tingkat imbal hasil lebih tinggi dibandingkan sejumlah instrumen lain dengan risiko yang relatif terukur.
Langkah tersebut menjadi penting karena beberapa hari sebelumnya rupiah sempat menghadapi tekanan berlapis. Selain sentimen global, pasar juga mencermati tertundanya penilaian MSCI terhadap Indonesia dan penurunan peringkat daya saing nasional dalam laporan internasional terbaru.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia terlihat aktif menjaga stabilitas pasar melalui berbagai instrumen moneter. Hasilnya mulai terlihat ketika tekanan terhadap rupiah berhasil diredam menjelang penutupan perdagangan.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR juga menunjukkan arah yang sama. Bank Indonesia mencatat kurs acuan berada di level Rp17.942 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.955 per dolar AS.
Meski rupiah berhasil menguat, ancaman dari arah Amerika Serikat masih belum sepenuhnya hilang. Pasar global masih menunggu arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed yang hingga kini memperlihatkan perbedaan pandangan di internal pengambil kebijakan.
Dari 19 anggota Federal Open Market Committee, delapan anggota memperkirakan kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi hingga akhir 2026. Sementara kelompok lainnya memperkirakan suku bunga akan bertahan pada level saat ini.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Penguatan dolar AS sewaktu-waktu masih dapat muncul jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan.
Meski demikian, sejumlah indikator domestik masih memberi ruang optimisme. Cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional juga masih berada di atas lima persen. Selain itu, diversifikasi pasokan energi membuat ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah semakin berkurang.
Di pasar saham, sentimen positif turut mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan. IHSG ditutup melonjak hampir dua persen dan mendekati level psikologis 6.000. Mayoritas sektor mencatat kenaikan dengan dukungan aktivitas beli investor domestik maupun asing.
Perdagangan Kamis menjadi gambaran bagaimana pasar keuangan bergerak mengikuti dinamika global yang berubah sangat cepat. Ketika ancaman perang mereda, harga minyak turun, arus energi kembali normal, dan bank sentral bergerak menjaga stabilitas, rupiah memperoleh ruang untuk bertahan.
Untuk perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat di kisaran Rp17.940 hingga Rp17.990 per dolar AS. “Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global. Meski begitu, peluang penguatan tetap terbuka selama tekanan geopolitik dan harga energi terus mereda,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Pertarungan rupiah melawan dolar belum selesai. Akan tetapi, perdagangan Kamis menunjukkan satu hal penting. Saat tekanan global mulai surut dan kepercayaan pasar kembali tumbuh, rupiah masih memiliki tenaga untuk berdiri dan menjaga jarak dari level Rp18.000 per dolar AS. R-02

