Dibuka Nyungsep Pagi Hari, IHSG Mendadak Lompat Jinjit Salip Bursa Asia Akibat Manuver Asing!
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: bloombergtechnoz.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan perlawanan pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Setelah dibuka melemah dan sempat membuat pelaku pasar menahan napas, indeks utama Bursa Efek Indonesia berbalik arah ke zona hijau dan menguat hingga 0,84 persen ke level 5.933 pada pukul 09.15 WIB.
Pergerakan tersebut menjadi warna berbeda di tengah derasnya sentimen negatif yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia. Rupiah kembali bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, arus keluar modal asing belum sepenuhnya berhenti, dan keputusan MSCI menunda evaluasi pasar Indonesia masih menjadi bahan perhitungan investor global.
Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi, IHSG langsung kehilangan tenaga. Indeks dibuka turun 10,81 poin atau melemah 0,18 persen ke posisi 5.873. Tekanan jual terlihat muncul sejak awal sesi.
Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Perlahan, minat beli kembali masuk dan mengangkat indeks keluar dari zona merah. Dalam waktu singkat, pasar bergerak menuju area hijau dan terus menambah penguatan.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan volume perdagangan mencapai 3,18 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,73 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 220.019 kali.
Sebanyak 351 saham menguat. Di sisi lain, 172 saham melemah dan 158 saham bergerak stagnan. Komposisi tersebut menggambarkan dominasi sentimen beli yang mulai kembali menguasai pasar.
Pergerakan positif IHSG juga sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang dibuka menguat pada hari yang sama. Indeks KOSPI Korea Selatan, Nikkei 225 Jepang, Topix Jepang, CSI 300 China, TW Weighted Taiwan, PSEi Filipina, Shenzhen Composite China, Straits Times Singapura, Shanghai Composite, hingga Ho Chi Minh Stock Index Vietnam bergerak di zona hijau.
Meski kawasan Asia tampak lebih optimistis, pasar Indonesia tetap menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satu perhatian terbesar datang dari hasil MSCI Annual Market Classification Review yang diumumkan sehari sebelumnya.
MSCI memang masih mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market. Akan tetapi, lembaga penyedia indeks global tersebut memperpanjang masa evaluasi hingga November 2026.
Keputusan itu membuat pasar kembali memperhitungkan risiko penurunan status Indonesia ke Frontier Market jika reformasi pasar modal dinilai tidak menunjukkan perkembangan memadai dalam beberapa bulan mendatang. BRI Danareksa Sekuritas mencatat sentimen tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan psikologis investor.
"Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support 5.740–5.650, sementara 6.000–6.100 menjadi area resistance terdekat," tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam kajian perdagangan Kamis, 25 Juni 2026.
Selain MSCI, perhatian pasar juga tertuju pada pelemahan nilai tukar rupiah. Mata uang Indonesia kembali bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS, sebuah level yang selama beberapa waktu terakhir menjadi batas psikologis penting.
Pelaku pasar juga menunggu data Core Personal Consumption Expenditure (Core PCE) Amerika Serikat. Data tersebut sering digunakan Federal Reserve sebagai salah satu acuan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Jika inflasi inti Amerika Serikat masih tinggi, peluang suku bunga bertahan lebih lama juga meningkat. Situasi itu dapat memperkuat dolar AS dan memberi tekanan tambahan pada aset negara berkembang.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, muncul fakta menarik dari pergerakan investor asing. Tidak semua dana asing meninggalkan Indonesia setelah penyesuaian bobot indeks MSCI.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menemukan adanya akumulasi saham dari investor asing aktif pada sejumlah bank besar nasional.
"Dana asing aktif justru menambah posisi saat pasar melemah, bukan keluar dari pasar. Pergerakan ini menunjukkan adanya akumulasi di tengah tekanan, bukan perubahan pandangan secara menyeluruh terhadap Indonesia," ujar Wilbert Arifin dalam risetnya, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Wilbert, fenomena tersebut terjadi setelah pengumuman MSCI pada awal tahun. Ketika pasar mengalami koreksi cukup dalam, sebagian investor aktif justru melihat peluang untuk masuk.
Data yang dihimpun Mirae Asset menunjukkan kepemilikan investor aktif pada empat bank besar meningkat sekitar 1,6 poin persentase selama periode koreksi pasca pengumuman MSCI.
Pergerakan tersebut memberi sinyal berbeda dibandingkan investor pasif yang mengikuti komposisi indeks global. Dana pasif cenderung mengurangi kepemilikan karena harus menyesuaikan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets.
Wilbert menjelaskan proporsi dana aktif pada saham perbankan besar meningkat dari 9,9 persen pada Mei 2016 menjadi 14,3 persen pada Mei 2026. Sebaliknya, proporsi dana pasif turun dari 22,3 persen menjadi 13,8 persen dalam periode yang sama.
"Investor aktif telah mengakumulasi saham Indonesia pada level valuasi yang tertekan, meski posisi keseluruhan mereka masih berada di bawah benchmark," kata Wilbert.
Aktivitas pembelian tersebut terlihat pada sejumlah saham perbankan yang menjadi tulang punggung IHSG. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bergerak menguat ke kisaran Rp7.900 per saham dari posisi sebelumnya sekitar Rp7.850.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga naik menuju area Rp4.350 per saham setelah sebelumnya berada di sekitar Rp4.310. Kedua saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar sehingga memberi kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks.
Selain sektor perbankan, saham energi dan komoditas juga ikut menopang penguatan pasar. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) bergerak ke kisaran Rp2.200 per saham. Sementara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat menuju area Rp2.850 per saham.
Pelaku pasar memanfaatkan momentum koreksi sebelumnya untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat. Meski demikian, sejumlah lembaga sekuritas masih memilih sikap hati-hati. Phintraco Sekuritas mengingatkan adanya penurunan posisi Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026.
Peringkat daya saing Indonesia turun dari posisi 40 menjadi 48. Penurunan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
"Jika kendala tersebut tidak segera diperbaiki dan daya saing Indonesia tidak meningkat, maka berpotensi berpengaruh terhadap iklim investasi dan perdagangan," tulis Phintraco Sekuritas.
Secara teknikal, Phintraco melihat IHSG masih berada dalam tekanan setelah kehilangan level psikologis 6.000. Indikator MACD menunjukkan histogram positif yang semakin tipis. Sementara stochastic RSI membentuk pola death cross pada area overbought.
Kondisi tersebut membuat peluang pengujian area 5.750 masih terbuka. CGS International Sekuritas Indonesia juga memperingatkan kombinasi tekanan eksternal yang masih membayangi pasar.
Pelemahan rupiah, aksi jual investor asing, koreksi harga komoditas, dan lemahnya Wall Street menjadi faktor yang perlu dicermati. "IHSG diprediksi melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 5.735–5.585 dan resistance 6.030–6.180," tulis CGS International Sekuritas.
Sementara Panin Sekuritas menilai derasnya arus modal keluar dan pelemahan mata uang domestik masih menjadi hambatan utama bagi penguatan pasar.
Meski proyeksi lembaga-lembaga riset cenderung konservatif, pergerakan pagi ini memperlihatkan pasar belum sepenuhnya kehilangan tenaga. Bahkan Mirae Asset menilai sebagian besar risiko rebalancing MSCI sebenarnya telah tercermin pada harga saham saat ini.
Sepanjang tahun berjalan, arus keluar dana asing sudah melampaui Rp70 triliun atau sekitar 4 miliar dolar AS. Pada saat yang sama, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun ke bawah 0,5 persen dari sebelumnya 1,2 persen.
Angka tersebut menjadi level terendah dalam satu dekade terakhir. "Dengan keputusan MSCI kini sudah keluar dan posisi investor yang sudah sangat ringan, ambang untuk terjadi pemulihan pasar menjadi rendah," tulis Mirae Asset dalam laporannya.
Meski peluang rebound mulai terlihat, ujian besar masih menunggu hingga November 2026. MSCI akan kembali mengevaluasi perkembangan reformasi pasar modal Indonesia sebelum menentukan langkah berikutnya.
Untuk sementara, IHSG berhasil menunjukkan satu pesan penting pada perdagangan Kamis pagi. Saat tekanan datang dari berbagai arah, pasar belum menyerah. Di tengah ketidakpastian, sebagian investor justru mulai melihat peluang yang tersembunyi di balik koreksi panjang beberapa bulan terakhir. R-02

