Rupiah Nyaris Rp18.000 Bikin Dompet Bolong, Dolar Amerika Serikat Mengamuk Tujuh Hari Beruntun!
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada Rabu, 24 Juni 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat setelah kehilangan 93 poin atau 0,52 persen. Pelemahan ini menjadi hari ketujuh berturut-turut dan menempatkan rupiah di posisi terlemah hampir dua pekan terakhir.
Pergerakan rupiah sepanjang hari seperti tak menemukan pijakan kuat. Sejak pembukaan perdagangan, tekanan datang dari berbagai arah. Dolar AS terus menguat, investor global memilih menjauh dari aset berisiko, sementara ketidakpastian status pasar modal Indonesia kembali menghantui sentimen pelaku pasar.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan arah serupa. Kurs acuan BI ditutup melemah menjadi Rp17.955 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.868 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan utama berasal dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. "Pasar melihat peluang pengetatan kebijakan moneter AS semakin besar setelah pertemuan terakhir dan pernyataan para pejabat Federal Reserve," kata Ibrahim Assuaibi.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mendekati 70 persen. Bahkan pasar sudah memperhitungkan tambahan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Situasi itu membuat dolar AS semakin menarik di mata investor global. Dana internasional bergerak menuju aset berbasis dolar karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan tingkat risiko relatif rendah.
Di tengah derasnya arus modal menuju Amerika Serikat, mata uang negara berkembang ikut terkena imbas. Rupiah tidak sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga terpantau bergerak di zona merah sepanjang perdagangan Rabu.
Won Korea Selatan menjadi salah satu yang tertekan paling dalam setelah melemah 0,89 persen. Baht Thailand turun 0,61 persen. Dolar Taiwan terkoreksi 0,41 persen. Peso Filipina melemah 0,30 persen, sedangkan yuan China turun 0,28 persen.
Dolar Singapura ikut melemah 0,17 persen. Yen Jepang turun 0,11 persen. Hanya beberapa mata uang yang mampu bertahan di jalur positif, seperti rupee India dan ringgit Malaysia.
Penguatan dolar AS juga tercermin dari lonjakan indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia. Indeks tersebut naik ke level 101,64 dan mencatat penguatan selama enam hari berturut-turut.
Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures, menjelaskan sentimen risk off global masih mendominasi pasar keuangan internasional. "Investor cenderung memilih aset aman karena ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan cukup lama," ujar Lukman Leong.
Ia menilai kebijakan moneter ketat Amerika Serikat memberi tekanan besar terhadap pasar negara berkembang. Setiap sinyal kenaikan suku bunga langsung direspons investor dengan mengalihkan dana ke dolar AS.
Di sisi lain, pasar domestik juga menghadapi tantangan tambahan. Morgan Stanley Capital International atau MSCI memutuskan memperpanjang proses peninjauan aksesibilitas pasar modal Indonesia hingga November 2026.
Keputusan itu membuat ketidakpastian baru muncul di kalangan investor. Pasar berharap MSCI memberi sinyal positif terhadap reformasi pasar modal Indonesia. Kenyataannya, evaluasi masih berlanjut.
Dalam laporan terbaru, MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market. Meski demikian, sejumlah catatan masih menjadi perhatian, termasuk transparansi kepemilikan saham, validitas free float, serta efektivitas reformasi pasar modal.
Ibrahim Assuaibi menilai keputusan MSCI memiliki dua sisi berbeda. Di satu sisi status emerging market tetap bertahan. Di sisi lain, ketidakpastian masih menggantung hingga evaluasi berikutnya. "Proses peninjauan masih berjalan dan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa bulan mendatang," ujar Ibrahim.
Ketidakpastian itu membuat investor asing memilih bersikap hati-hati. Arus dana belum masuk secara agresif ke pasar keuangan Indonesia. Sebagian investor memilih menunggu arah kebijakan dan hasil evaluasi berikutnya.
Selain faktor MSCI, kondisi geopolitik global ikut memperkeruh suasana. Ketegangan terkait isu nuklir Iran kembali menjadi perhatian pasar internasional. Pernyataan berbeda antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar memilih mengurangi risiko.
Kondisi tersebut memperkuat permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS dan surat utang pemerintah Amerika Serikat. Di pasar obligasi global, permintaan terhadap US Treasury meningkat. Situasi itu mempertebal dominasi dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Meski berada dalam tekanan, sejumlah analis menilai fondasi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Lukman Leong menyebut keputusan MSCI mempertahankan status emerging market menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap ekonomi nasional masih terjaga.
"Fundamental ekonomi Indonesia, likuiditas pasar, serta kapitalisasi pasar masih menjadi faktor pendukung penting," kata Lukman. Ia menambahkan reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas juga menjadi salah satu alasan Indonesia tetap bertahan dalam kategori emerging market.
Meski begitu, pasar tetap menunggu langkah lanjutan dari pemerintah dan regulator. Investor ingin melihat efektivitas reformasi yang telah dijalankan serta arah kebijakan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Perhatian berikutnya juga tertuju pada langkah Bank Indonesia. Sejumlah pelaku pasar memperkirakan bank sentral masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui kombinasi kebijakan moneter dan intervensi pasar.
Untuk jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi sentimen eksternal. Selama dolar AS tetap kuat dan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, menjadi gambaran bagaimana pasar global masih mendikte arah mata uang negara berkembang. Rupiah kembali kehilangan tenaga saat investor dunia berlari menuju dolar AS.
Di tengah ketidakpastian The Fed, evaluasi MSCI, dan dinamika geopolitik internasional, mata uang Garuda masih harus menghadapi jalan panjang sebelum menemukan ruang pemulihan yang lebih stabil. R-02

