Bursa Saham Asia Berdarah-Darah, IHSG Justru Ngebut Tanpa Rem ke Level 6.200
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka Juni dengan kejutan. Setelah tertekan cukup lama, indeks langsung melompat tinggi. Perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, dibuka penuh optimisme. Pelaku pasar mendadak kembali menemukan alasan untuk tersenyum.
Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG langsung tancap gas. Indeks melesat lebih dari satu persen. Dalam hitungan menit, penguatan terus bertambah besar. Angka hijau mendominasi layar perdagangan pagi.
IHSG dibuka naik hingga level 6.210. Posisi tersebut lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya. Bahkan tidak lama berselang, indeks sempat menembus kenaikan dua persen. Level 6.249 menjadi titik yang membuat perhatian investor tertuju ke Bursa Efek Indonesia.
Pemandangan ini terasa kontras dibanding kawasan Asia. Bursa Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, hingga China justru bergerak melemah. Ketidakpastian global masih membayangi pasar keuangan dunia. Namun, Indonesia terlihat berjalan ke arah berbeda.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, saham-saham konglomerat mendadak menjadi lokomotif penggerak pasar. Emiten Grup Barito tampil paling mencolok sepanjang pagi. Saham yang sebelumnya terpuruk kini bangkit dengan tenaga besar. Aksi beli langsung membanjiri sejumlah saham unggulan.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN menjadi bintang utama. Harga sahamnya menyentuh batas Auto Rejection Atas. Kenaikan itu memancing perhatian investor ritel. Aktivitas transaksi langsung melonjak signifikan.
Tidak hanya CUAN yang berpesta. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN juga melesat tajam. Saham PT Petrosea Tbk atau PTRO naik lebih dari sembilan persen. Sementara saham PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA ikut menghijau.
Di sudut lain pasar, kejutan juga datang dari DSSA. Saham Grup Sinar Mas tersebut sempat mengalami tekanan berat tahun ini. Namun, pada perdagangan Selasa pagi ini, saham itu bangkit kuat. Bahkan sempat menyentuh batas penguatan maksimal.
Saham AMMN milik Grup Salim juga ikut bergerak naik. Beberapa emiten Grup Bakrie menghijau bersamaan. Saham yang berafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro juga mengalami kenaikan. Fenomena tersebut membuat pasar terlihat lebih bergairah.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas cukup padat. Nilai transaksi menembus triliunan rupiah dalam waktu singkat. Volume perdagangan mencapai miliaran saham. Frekuensi transaksi juga meningkat tajam dibanding sesi biasa.
Sebagian besar saham bergerak ke zona hijau. Ratusan emiten berhasil mencatatkan penguatan harga. Jumlah saham naik jauh lebih banyak dibanding yang turun. Situasi ini menunjukkan sentimen pasar sedang membaik.
Sektor infrastruktur menjadi pemimpin penguatan pagi itu. Sektor barang baku ikut memberikan dorongan besar. Energi juga tampil impresif mengikuti lonjakan sejumlah emiten batu bara. Ketiga sektor tersebut menjadi bahan bakar utama IHSG.
Sebaliknya, beberapa sektor justru bergerak negatif. Teknologi masih mengalami tekanan. Konsumer primer belum mampu bangkit penuh. Sektor kesehatan juga terlihat bergerak lebih hati-hati.
Saham BREN menjadi penyumbang terbesar penguatan indeks. Kontribusinya mencapai puluhan poin terhadap IHSG. Di belakangnya terdapat BRPT dan BBCA. Ketiganya menjadi trio penggerak utama pasar.
Bank-bank besar juga ikut membantu penguatan indeks. Saham BBRI bergerak naik sejak awal perdagangan. BMRI dan BBNI mengikuti tren yang sama. BBCA juga tetap menjadi salah satu penopang utama.
Perbankan memang masih menjadi sektor favorit investor. Fundamental yang kuat membuat sektor ini tetap menarik. Saat sentimen pasar membaik, saham bank biasanya ikut menjadi incaran. Situasi itu kembali terlihat pada perdagangan kali ini.
Meski IHSG menguat tajam, satu fakta menarik tetap muncul. Investor asing masih membukukan aksi jual bersih besar. Nilainya mencapai lebih dari Rp8 triliun. Angka tersebut menjadi perhatian banyak pelaku pasar.
Aksi jual asing biasanya menjadi beban pasar. Namun, kali ini pengaruhnya tidak terlalu terasa. Investor domestik tampil lebih dominan dalam transaksi. Dana lokal berhasil menjaga momentum penguatan.
Di balik lonjakan pasar, terdapat sejumlah sentimen penting. Salah satunya adalah implementasi kebijakan baru pemerintah. Mulai 1 Juni 2026, pengelolaan ekspor komoditas strategis memasuki fase baru. Kebijakan tersebut mendapat perhatian investor.
Pemerintah membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI. Perusahaan ini akan mengelola mekanisme ekspor satu pintu. Fokusnya mencakup batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas itu memiliki nilai ekspor sangat besar.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menilai langkah tersebut penting. Menurut Airlangga, kebijakan itu bertujuan memperbaiki tata kelola ekspor. Transparansi transaksi juga menjadi fokus utama. Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala selama masa transisi.
"Sehingga nilai ekspor yang tercatat menggambarkan transaksi yang sebenarnya," ujar Airlangga Hartarto.
Selain kebijakan ekspor, pasar juga mencermati aturan baru DHE SDA. Pemerintah kini mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat likuiditas valas domestik. Dampaknya dinilai positif bagi stabilitas ekonomi nasional.
Meski demikian, tantangan global belum benar-benar hilang. Pelaku pasar masih memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi yang berjalan alot memunculkan banyak ketidakpastian. Situasi itu membuat pasar global bergerak hati-hati.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan melontarkan pernyataan yang memicu perhatian. Komentar tersebut membuat investor semakin waspada. Pasar energi ikut mencermati perkembangan terbaru. Risiko geopolitik masih menjadi bayangan besar.
Di Jepang, indeks Nikkei bergerak melemah. Topix juga terkoreksi cukup dalam. Korea Selatan mengalami tekanan pada Kospi dan Kosdaq. Bursa Australia tidak mampu keluar dari zona merah.
Namun, di tengah lautan merah Asia, Indonesia tampil berbeda. IHSG menjadi salah satu indeks dengan penguatan paling tinggi. Situasi itu menunjukkan adanya optimisme lokal yang cukup kuat. Setidaknya untuk sementara waktu, pasar domestik berhasil melawan arus.
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan indeks masih fluktuatif. Data inflasi Indonesia menjadi perhatian berikutnya. Neraca perdagangan juga akan menjadi sorotan pasar. Investor menunggu arah ekonomi nasional pada bulan ini.
Beberapa sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang tertentu. Ada yang memprediksi indeks mampu melanjutkan penguatan. Sebagian lain memilih lebih berhati-hati melihat kondisi global. Perbedaan pandangan tersebut membuat pasar tetap menarik dicermati.
Namun satu hal terlihat jelas pada Selasa pagi. Setelah berminggu-minggu menghadapi tekanan berat, IHSG akhirnya menemukan tenaga baru. Saham konglomerat, perbankan, dan komoditas menjadi bahan bakarnya. Awal Juni pun dibuka dengan cerita yang jauh lebih cerah dibanding bulan sebelumnya. R-02

