IHSG Sempat Terbang Tinggi, Penutupan Malah Terjun Bebas
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Pagi tadi, layar perdagangan saham sempat memancarkan warna hijau yang bikin pasar kembali percaya diri. IHSG melesat cepat menuju level 6.230 setelah dibuka menguat sejak awal sesi perdagangan. Namun menjelang sore, arah pasar berubah drastis seperti cuaca panas mendadak disiram hujan deras.
Indeks Harga Saham Gabungan akhirnya ditutup melemah tipis 0,05 persen menuju posisi 6.127 pada Jumat, 29 Mei 2026. Penurunan memang terlihat kecil, cuma 2,8 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya. Namun, tekanan jual besar pada saham bank jumbo membuat suasana pasar langsung berubah tegang.
Sejak siang, pelaku pasar mulai melihat tanda-tanda tekanan yang perlahan menuju lantai bursa domestik. Saham-saham berkapitalisasi besar tiba-tiba kehilangan tenaga saat perdagangan memasuki sesi kedua. Investor asing mulai ramai melepas saham perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG.
BBCA menjadi saham paling terasa menyeret gerak indeks sepanjang perdagangan akhir pekan tersebut. Saham PT Bank Central Asia Tbk itu turun 4,60 persen menuju level 5.700. Nilai transaksinya juga sangat jumbo, mencapai Rp5,82 triliun dalam sehari perdagangan.
Tidak lama kemudian, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk ikut terseret tekanan pasar semakin dalam. BBRI turun 3,91 persen menuju posisi 2.950 sepanjang perdagangan Jumat sore hari itu. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BBNI ikut melemah 3,65 persen menuju 3.700.
Tekanan juga menghantam saham PT Bank Mandiri Tbk yang turun menuju level 4.080 perdagangan sore. Sementara saham PT Bank Tabungan Negara Tbk atau BBTN justru menjadi korban terdalam perdagangan. BBTN ambles 5,22 persen menuju level 1.270 dan langsung masuk daftar top losers.
Saat saham bank mulai rontok satu per satu, suasana pasar berubah makin tidak nyaman. IHSG yang sejak pagi bertahan hijau perlahan kehilangan napas menjelang bel penutupan perdagangan sore. Banyak investor memilih keluar lebih cepat dibandingkan dengan menahan risiko hingga pekan depan.
Nilai transaksi perdagangan hari itu bahkan termasuk salah satu yang terbesar sepanjang sejarah bursa domestik. Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi mencapai Rp50,14 triliun sepanjang perdagangan akhir pekan berlangsung. Sebanyak 47,21 miliar saham berpindah tangan dalam 2,37 juta kali transaksi harian.
Namun, derasnya transaksi tidak berbanding lurus dengan kekuatan pasar saham domestik sepanjang perdagangan. Sebanyak 409 saham ditutup melemah, sementara hanya 271 saham mampu bertahan di zona hijau. Sisanya, 137 saham bergerak datar seperti kehilangan arah sepanjang sesi perdagangan berlangsung.
Sektor kesehatan menjadi sektor paling babak belur sepanjang perdagangan penghujung pekan kali ini. Sektor tersebut turun 1,49 persen, disusul properti minus 1,09 persen sepanjang perdagangan Jumat. Sektor keuangan juga jatuh 1,04 persen akibat tekanan deras saham perbankan besar.
Padahal sejak sesi pertama, suasana pasar sempat terasa jauh lebih optimistis dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sektor barang baku bahkan sempat memimpin penguatan dengan kenaikan mencapai 4,69 persen. Infrastruktur dan energi juga ikut menghijau sebelum akhirnya terseret tekanan menjelang penutupan perdagangan.
Penyebab utama tekanan pasar datang dari kombinasi sentimen domestik dan arus modal asing keluar. Rebalancing MSCI menjadi salah satu pemicu derasnya aksi jual investor asing akhir pekan ini. Banyak pelaku pasar memilih mengurangi posisi sebelum penyesuaian indeks berlaku efektif akhir Mei.
Tekanan makin berat setelah rupiah kembali terpukul menghadapi dolar Amerika Serikat sepanjang perdagangan berlangsung. Rupiah ditutup di level Rp17.874 per dolar AS pada perdagangan pasar spot sore tadi. Angka tersebut menjadi rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah nilai tukar rupiah domestik.
Bahkan dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp17.887 per dolar AS sore tadi. Angka tersebut membuat suasana pasar makin panas dan dipenuhi rasa waswas investor domestik. Pelemahan rupiah dianggap mampu memicu tekanan lanjutan pada saham dan obligasi nasional.
Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, melihat tekanan rupiah belum mudah berhenti dalam waktu dekat. “Rupiah masih dibayangi pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan,” ujar Harry Su pada Jumat. Risiko penurunan peringkat utang Indonesia juga mulai diperhitungkan oleh pelaku pasar global.
Harry Su menilai lembaga pemeringkat global masih mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan fiskal nasional. Moody’s, S&P, hingga Fitch disebut terus mengamati arah pergerakan rupiah beberapa waktu terakhir. Kekhawatiran tersebut membuat investor asing makin hati-hati menempatkan dana di pasar domestik.
Pelaku pasar juga masih memantau aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor atau DHE di dalam negeri. Trader menilai kebijakan tersebut belum tentu mampu memperkuat cadangan devisa nasional secara signifikan. Dana eksportir tetap dianggap berada dalam kendali perusahaan meski tersimpan pada sistem keuangan domestik.
Panin Sekuritas melihat tekanan lain mulai menghantui sektor perbankan sepanjang beberapa pekan terakhir ini. Pelemahan rupiah memunculkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam waktu dekat. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan bunga kredit dan memperbesar risiko kredit bermasalah.
“Kenaikan suku bunga BI berpotensi memengaruhi NPL perbankan saat daya beli belum pulih,” tulis Panin Sekuritas. Kekhawatiran tersebut langsung terasa pada pergerakan saham perbankan sepanjang perdagangan sesi kedua sore tadi. Investor memilih mengurangi risiko sebelum situasi pasar berubah makin sulit ditebak.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pasar masih dibayangi tekanan global dan domestik. “IHSG terkoreksi dipengaruhi pelemahan rupiah dan rebalancing MSCI,” ujar Herditya Wicaksana pada Jumat sore. Negosiasi Amerika Serikat dan Iran juga terus dipantau pelaku pasar internasional.
Herditya memperkirakan IHSG masih rawan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan pekan depan mendatang. Level support diperkirakan berada di area 6.071, sementara resistance menyentuh kisaran 6.262 perdagangan. Investor diminta tetap waspada menghadapi tekanan eksternal dan arus modal asing keluar.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, melihat koreksi pasar masih relatif terkendali. “Tekanan jual sebenarnya sudah diantisipasi oleh investor sebelum rebalancing MSCI berlangsung,” kata Alrich Paskalis Tambolang. Situasi tersebut membuat pelemahan indeks tidak sedalam kekhawatiran pasar sebelumnya.
Alrich memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak mendatar pada kisaran 6.000 hingga 6.300 pekan depan. Indikator stochastic RSI dan MACD mulai menunjukkan peluang stabilisasi pergerakan indeks domestik perlahan. Meski begitu, tekanan eksternal masih menjadi ancaman utama bagi pasar saham Indonesia.
Menariknya, saat pasar domestik berdarah-darah, sejumlah bursa Asia justru mampu menutup perdagangan di zona hijau. Nikkei Jepang, KOSPI Korea Selatan, hingga Hang Seng Hong Kong berhasil menguat sepanjang hari. Penguatan saham teknologi global membantu menopang gerak sejumlah indeks kawasan Asia.
Indonesia justru bergerak berbeda pada perdagangan akhir pekan kali ini dan terlihat lebih rapuh. Investor domestik memilih bermain aman sambil menunggu arah rupiah dan kebijakan suku bunga selanjutnya. Kombinasi tekanan rupiah dan jual asing membuat pasar terasa berat sejak siang hingga penutupan.
Perdagangan Jumat sore akhirnya meninggalkan pesan sederhana namun cukup bikin pasar sulit tidur malam ini. IHSG memang hanya turun tipis, tetapi tekanan terhadap saham bank jumbo terasa sangat dalam. Rupiah melemah, investor asing keluar, sementara pasar domestik kembali dipenuhi rasa cemas. R-02

