Bursa RI Berdarah! IHSG Jatuh 1,23 Persen Saat Amerika Serang Iran
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk 1,23 persen menuju level 6.130 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Bursa Indonesia menjadi pasar saham paling berdarah di Asia setelah rupiah jatuh menyentuh Rp17.789 per dolar Amerika Serikat. Kepanikan investor pecah sejak pagi akibat konflik Timur Tengah yang kembali memanas dan memukul sentimen pasar global.
Layar perdagangan Bursa Efek Indonesia siang tadi berubah merah hampir tanpa ampun. Saham-saham raksasa tumbang bersamaan seperti domino tersenggol badai besar dari luar negeri. Investor ramai melepas portofolio sambil menunggu arah konflik Amerika Serikat dan Iran berikutnya.
IHSG sempat bergerak liar sepanjang perdagangan dengan level tertinggi menyentuh 6.286 pada sesi pagi. Namun, tekanan jual terus mengguyur pasar hingga indeks menyentuh titik terendah pada posisi 6.124. Penutupan perdagangan akhirnya berhenti pada level 6.130 dengan penurunan 76,15 poin.
Nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp18,09 triliun sepanjang sesi perdagangan berlangsung cukup panas. Volume transaksi melibatkan 24,88 miliar saham dengan dominasi aksi jual hampir di seluruh sektor utama. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 447 emiten melemah dan hanya 241 saham menguat.
Suasana ruang dealing desk sejumlah sekuritas terlihat tegang sejak pagi hingga penutupan perdagangan sore hari. Banyak investor memilih keluar sementara demi menghindari tekanan lanjutan menjelang libur panjang Iduladha pekan ini. Pasar seperti kehilangan tenaga setelah sentimen global datang bertubi-tubi sejak awal pekan.
Sektor industri menjadi korban paling parah dengan pelemahan mencapai 3,38 persen sepanjang perdagangan berlangsung. Saham konsumen nonprimer ikut terseret turun 2,20 persen dan sektor properti melemah 2,14 persen. Sektor keuangan juga ikut goyah setelah saham bank besar ramai dilepas oleh investor.
Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA menjadi perhatian utama sepanjang perdagangan hari ini. Nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp1,35 triliun namun harga saham turun 2,05 persen menuju Rp5.975. Saham bank besar lain seperti BBRI, BMRI, dan BBNI juga ikut terseret tekanan pasar.
Tekanan besar terhadap IHSG muncul ketika rupiah kembali terkapar pada perdagangan pasar spot sore tadi. Mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp17.789 per dolar AS menurut data Bloomberg terbaru. Angka tersebut menjadi titik terlemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka atau all time low.
Pelemahan rupiah langsung membuat investor lokal seperti terkena sirene bahaya dari pasar global hari ini. Banyak pelaku pasar memilih menahan transaksi baru sambil mengamati arah konflik geopolitik Timur Tengah. Kondisi itu membuat aksi profit taking berubah menjadi gelombang jual besar-besaran.
Ketegangan global meningkat setelah laporan serangan udara terbaru melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Media pemerintah Iran, Nour News, melaporkan serangan terjadi dekat Pulau Larak kawasan Selat Hormuz. Sejumlah personel militer Iran dilaporkan tewas dalam serangan udara tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat atau USCENTCOM ikut mengonfirmasi operasi militer tersebut melalui pernyataan resmi. Pasukan Amerika menghantam lokasi peluncuran rudal dan kapal pemasang ranjau laut milik Iran. “Operasi dilakukan demi melindungi pasukan kami dari ancaman Iran,” kata Kapten Tim Hawkins dari USCENTCOM.
Kabar perang kembali pecah membuat investor global langsung beralih menuju aset aman seperti dolar Amerika Serikat. Efeknya terasa cepat hingga pasar negara berkembang termasuk Indonesia langsung terguncang sepanjang perdagangan hari ini. Rupiah terjerembab, sementara IHSG seperti kehilangan pijakan sejak awal sesi.
Panin Sekuritas menilai konflik Timur Tengah menjadi sentimen utama sepanjang perdagangan Selasa sore tadi. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar memilih mengurangi risiko sebelum situasi memburuk. “Sentimen geopolitik masih mendominasi arah perdagangan hari ini,” tulis Panin Sekuritas dalam riset sore.
Meski suasana memanas, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru memberi sinyal berbeda terkait Iran. Trump mengaku pembicaraan dengan Teheran masih berjalan cukup baik hingga saat ini. Namun ancaman serangan tambahan tetap terlontar jika proses negosiasi mengalami kegagalan.
Pasar langsung membaca pernyataan Trump seperti bara api dekat tumpukan bensin kering di musim panas. Harapan damai muncul sebentar lalu hilang lagi setelah ancaman perang tambahan terdengar keras. Investor akhirnya memilih menekan tombol jual dibanding mengambil risiko besar.
Analis Phintraco Sekuritas melihat aksi profit taking juga memperparah tekanan terhadap IHSG hari ini. Rebalancing indeks MSCI menjelang akhir bulan ikut membuat investor asing ramai melakukan penyesuaian portofolio. “IHSG berpotensi bergerak pada kisaran 6.000 hingga 6.200,” tulis analis Phintraco.
Meski IHSG berdarah, beberapa saham grup Prajogo Pangestu justru bergerak berlawanan arah dengan pasar utama. Saham BREN melesat 10,92 persen, sementara TPIA naik 7,65 persen dan BRPT menguat 5,07 persen. Pergerakan itu membuat trader harian tetap memiliki ruang berburu cuan di tengah badai pasar.
Namun sebagian besar saham justru tumbang cukup dalam sepanjang perdagangan Selasa sore tadi. Saham MSIN ambruk 14,9 persen disusul RISE turun 14,9 persen dan TALF merosot 14,8 persen. Deretan saham kecil itu seperti ikut terseret arus deras kepanikan investor pasar domestik.
Bursa Asia mayoritas juga berakhir merah meski pelemahannya tidak sedalam pasar saham Indonesia hari ini. Indeks Straits Times Singapura turun 0,82 persen sementara Sensex India melemah 0,63 persen. Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, hingga Shanghai Composite juga ikut terkoreksi tipis.
Ironisnya, bursa saham Amerika Serikat justru bergerak menghijau pada perdagangan terakhir mereka sebelumnya. Indeks Dow Jones naik 0,58 persen sedangkan S&P 500 menguat 0,37 persen. Kondisi itu membuat banyak investor domestik semakin bingung membaca arah pasar global berikutnya.
Di tengah tekanan pasar, investor lokal kini menunggu arah baru setelah libur panjang Iduladha selesai pekan depan. Banyak pelaku pasar berharap konflik Timur Tengah segera mereda agar rupiah kembali mendapatkan napas segar. Jika tensi perang terus meningkat, tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih berlanjut.
Perdagangan Selasa sore akhirnya ditutup dengan wajah muram hampir seluruh pelaku pasar domestik. Layar merah menyala menjadi simbol kepanikan besar akibat kombinasi perang, rupiah melemah, dan aksi jual investor. Bursa Indonesia pun resmi menjadi pasar saham dengan penurunan terdalam di kawasan Asia hari ini. R-02

