Warga Riau Jadi Saksi Kunci Kecelakaan Maut Bus ALS di Muratara, Polisi Terus Menggali Fakta
Muhammad Fadli menerangkan detik-detik kecelakaan maut bus ALS kepada petugas di lokasi kejadian. (sumber: polres muratara)
SUMSEL, SabangMerauke News - Suara mesin bus malam itu kini tinggal sisa ingatan bagi Muhammad Fadli. Perjalanan yang semula biasa berubah menjadi tragedi berdarah di Musi Rawa Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang menjadi tempatnya bekerja bertabrakan dengan tangki BBM pada Rabu, 6 Mei 2026.
Kecelakaan itu merenggut 19 nyawa dan melukai dua penumpang lainnya. Api, benturan keras, dan kepanikan membuat jalur lintas Sumatera mendadak berubah mencekam. Di tengah kekacauan tersebut, Fadli menjadi satu dari sedikit orang yang berhasil selamat. Ia bekerja sebagai kernet di bus maut tersebut.
Pria 29 tahun asal Kecamatan Ujut, Riau, itu kini memikul cerita penting dari malam nahas tersebut. Polisi menjadikannya saksi kunci dalam penyidikan kecelakaan maut bus ALS di Muratara. Sampai sekarang, Fadli masih berada di Sumatera Selatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Kasat Lantas Polres Muratara, AKP Muhammad Karim, mengatakan pemeriksaan terhadap Fadli belum selesai sepenuhnya. Penyidik masih membutuhkan banyak detail dari kernet bus ALS tersebut. “Kernet bus ALS berstatus saksi kunci dan masih berada di Muratara,” ujar Karim, Rabu, 27 Mei 2026.
Selama proses pemeriksaan berjalan, Fadli tinggal sementara di pool ALS kawasan Singkut. Hampir setiap hari, namanya kembali dipanggil masuk ruang pemeriksaan untuk menjawab pertanyaan baru. Polisi mencoba menyusun ulang setiap detik sebelum tabrakan maut itu terjadi.
Penyidik belum ingin kehilangan satu detail kecil pun dari keterangan saksi selamat tersebut. Setiap potongan cerita dianggap penting demi menemukan penyebab utama kecelakaan. Mulai dari kondisi bus, situasi jalan, hingga momen sebelum benturan masih terus ditelusuri.
Karim menyebut Fadli cukup kooperatif selama penyidikan berlangsung. Polisi mengaku lebih mudah menggali informasi karena saksi kunci terus memenuhi panggilan pemeriksaan. “Besok ada panggilan lagi untuk saksi kunci dan informasi yang tertinggal akan digali,” katanya.
Di balik pemeriksaan panjang itu, penyidik sebenarnya sedang merangkai puzzle besar yang belum sepenuhnya lengkap. Polisi belum bisa memastikan siapa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Banyak saksi lain masih menunggu giliran diperiksa untuk memperkuat kronologi kejadian.
Tidak hanya mengandalkan keterangan saksi, polisi juga menggandeng ahli dari Universitas Sriwijaya atau Unsri. Tim penyidik mendatangi kampus tersebut pada Selasa, 26 Mei 2026. Langkah itu dilakukan untuk membedah aspek teknis kecelakaan secara lebih mendalam.
Polisi mencoba mencari jawaban dari banyak kemungkinan yang masih menggantung sampai sekarang. Faktor kendaraan, kondisi jalan, hingga dugaan kelalaian masih dianalisis satu per satu. Penyidik ingin hasil pemeriksaan memiliki dasar kuat sebelum diumumkan kepada publik.
“Koordinasi dengan saksi ahli dari Unsri sudah dilakukan terkait penyidikan kecelakaan bus ALS,” ujar Karim. Polisi berharap pendapat ahli mampu membantu mengurai titik awal penyebab kecelakaan maut tersebut. Sampai kini, penyidik masih terus mengumpulkan fakta tambahan dari lapangan.
Meski penyidikan berjalan hampir setiap hari, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut. Penetapan tersangka dianggap terlalu dini karena proses pemeriksaan belum sepenuhnya selesai. Penyidik memilih bergerak perlahan sambil memastikan setiap fakta benar-benar saling terhubung.
Tragedi Bus ALS di Muratara masih meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Banyak orang menunggu jawaban pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Sementara itu, warga Riau bernama Fadli masih menjadi sosok penting yang menyimpan potongan cerita dari perjalanan paling kelam tersebut. R-02

