Ajakan Duel Berubah Berdarah di Belawan, Polisi Ringkus Pelaku Kurang dari Tiga Jam
Pria berinisial A (23 tahun) ditangkap polisi usai menganiaya seorang pekerja ikan teri di Belawan. (ist)
SUMUT, SabangMerauke News - Penusukan pekerja ikan teri di kawasan Gabion Belawan, Selasa, 26 Mei 2026, mendadak bikin geger warga. Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan langsung tancap gas memburu pelaku penganiayaan berdarah tersebut. Kurang dari tiga jam, pria berinisial A berusia 23 tahun akhirnya terkapar dan diamankan bersama pisau lipat silver.
Aksi cepat itu membuat suasana Gabion Belawan mendadak ramai dan menjadi perbincangan sepanjang malam. Banyak warga sempat menduga pelaku bakal kabur keluar kawasan pelabuhan yang terkenal padat tersebut. Namun, Tim Opsnal Unit Pidum Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan bergerak lebih cepat dibanding dugaan warga.
Petugas langsung mengejar pelaku usai menerima laporan korban pada Selasa sore. Pelaku akhirnya diringkus di kawasan Gabion Belawan tanpa perlawanan berarti saat pengejaran berlangsung. Polisi turut menyita sebilah pisau lipat silver yang diduga dipakai untuk menusuk korban.
Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Agus Purnomo, menegaskan bahwa gerak cepat menjadi prioritas utama penanganan kriminal jalanan. Polisi langsung menyisir lokasi setelah menerima informasi keberadaan pelaku dari warga sekitar kawasan pelabuhan. Penangkapan berlangsung cepat karena tim sudah mengantongi identitas pelaku sejak laporan masuk.
“Begitu menerima informasi keberadaan pelaku, personel langsung bergerak dan berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti,” ujar Agus Purnomo, Rabu, 27 Mei 2026. Ia memastikan kasus penganiayaan tersebut diproses sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Satreskrim juga terus memburu potensi gangguan keamanan lain kawasan Belawan.
Cerita berdarah itu bermula saat korban sedang bekerja menjemur ikan teri di kawasan Gabion Belawan. Aktivitas tersebut awalnya berjalan biasa seperti rutinitas harian para pekerja pesisir sejak pagi hari. Matahari menyengat dan aroma ikan asin memenuhi udara sekitar lokasi kejadian.
Tiba-tiba pelaku datang mendekati korban sambil membawa emosi yang sulit dikendalikan sejak awal. Polisi menduga pelaku menyimpan sakit hati lama terhadap korban sebelum insiden penikaman terjadi. Situasi berubah panas saat pelaku mulai menantang korban untuk berkelahi di depan pekerja lain.
Korban sempat memilih diam dan tidak meladeni tantangan tersebut demi menghindari keributan lebih besar. Namun, pelaku terus memancing emosi sambil mengucapkan tantangan bernada keras kepada korban. Suasana lokasi penjemuran ikan langsung berubah tegang dalam hitungan menit.
Agus Purnomo menjelaskan bahwa korban awalnya mencoba menghindari pertikaian agar pekerjaan tetap berjalan normal. Pelaku bahkan sempat mengajak duel seorang saksi bernama Firman yang berada dekat lokasi kejadian. Ajakan tersebut juga tidak mendapat respons dari saksi maupun pekerja lainnya.
“Awalnya ajakan tersebut tidak dihiraukan korban,” kata Agus Purnomo saat menjelaskan kronologi kejadian kepada wartawan. Pelaku rupanya makin terpancing emosi setelah tantangan berkelahi tidak mendapat tanggapan serius di sekitar lokasi. Ketegangan akhirnya meledak saat korban kembali didatangi pelaku beberapa saat kemudian.
Perkelahian kecil akhirnya pecah setelah pelaku terus menantang korban tanpa berhenti sejak awal kejadian. Warga sekitar sempat mencoba memperhatikan keributan tersebut dari jarak aman karena situasi terlihat berbahaya. Tidak banyak orang berani mendekat lantaran emosi pelaku tampak sulit dikendalikan.
Di tengah keributan itu, pelaku mendadak mengeluarkan pisau lipat warna silver dari tangannya. Korban langsung diserang secara brutal hingga mengalami luka sayatan dan tusukan pada tubuhnya. Kepanikan langsung pecah karena darah korban terlihat mengucur cukup deras di lokasi.
“Namun, tiba-tiba tersangka menggunakan pisau dan menyerang korban hingga mengalami luka sayatan dan tusukan,” sambung Agus Purnomo. Warga sekitar langsung bergerak membantu korban usai pelaku melarikan diri dari lokasi kejadian tersebut. Korban kemudian melapor ke Polres Pelabuhan Belawan agar pelaku segera diburu.
Laporan tersebut langsung diterima oleh Unit 1 Pidum Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan pada hari kejadian. Tim dipimpin Ipda Marcellino Damanik kemudian bergerak cepat melakukan pengejaran terhadap pelaku penganiayaan berdarah itu. Polisi menyisir sejumlah titik kawasan Gabion Belawan yang diduga menjadi lokasi persembunyian pelaku.
Pengejaran berlangsung cukup cepat karena informasi keberadaan pelaku terus mengalir dari masyarakat sekitar kawasan pelabuhan. Polisi akhirnya menemukan pelaku saat masih berada tidak jauh dari lokasi kejadian penusukan tersebut. Pelaku kemudian langsung diamankan tanpa kesempatan untuk kabur lebih jauh lagi.
Penangkapan cepat itu membuat warga sekitar mengapresiasi langkah responsif Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan dalam menangani kasus kriminal. Kawasan Gabion Belawan selama ini memang sering dipenuhi aktivitas pekerja dan kendaraan bongkar muat pelabuhan. Situasi padat tersebut kerap memicu gesekan antarmasyarakat akibat persoalan sepele.
Meski begitu, polisi memastikan keamanan kawasan tetap menjadi perhatian utama selama proses penyidikan berjalan. Petugas juga mengimbau warga segera melapor jika melihat tindakan kriminal ataupun keributan mencurigakan sekitar pelabuhan. Respons cepat laporan warga dinilai membantu pengungkapan kasus berlangsung dalam hitungan jam.
Kini pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan untuk proses penyidikan lanjutan. Polisi mendalami motif sakit hati yang memicu aksi penusukan brutal terhadap pekerja penjemur ikan teri tersebut. Barang bukti pisau lipat silver juga diamankan sebagai alat utama pengungkapan kasus penganiayaan itu.
Kasus tersebut kembali mengingatkan kerasnya gesekan kehidupan di kawasan pelabuhan yang bergerak tanpa jeda setiap harinya. Perselisihan kecil bisa berubah berdarah saat emosi mendadak meledak tanpa kendali dalam hitungan detik. Untungnya, aksi cepat polisi berhasil menghentikan pelarian pelaku sebelum situasi berkembang semakin liar. R-02

