Ritual Mistis Berujung Maut, Bocah 11 Tahun Rohul Meregang Nyawa di Tangan Ibu Kandung
Ilustrasi (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Tangisan warga Dusun Kelampaian, Desa Muara Dilam, Kecamatan Kunto Darussalam, pecah pada Rabu malam, 13 Mei 2026. Bocah perempuan bernama Almira Azzahra berusia 11 tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di rumahnya sendiri. Korban diduga mengalami penganiayaan berat oleh ibu kandung berinisial DRE berusia 41 tahun.
Peristiwa tragis tersebut langsung menggegerkan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu sejak kabar kematian Almira menyebar luas. Warga sekitar mengaku mendengar jeritan korban meminta tolong menjelang Magrib sebelum akhirnya ditemukan tidak bernyawa. Suasana kampung mendadak mencekam karena pelaku disebut mengalami kondisi tidak stabil saat kejadian berlangsung.
Korban diketahui tinggal bersama keluarga pada RT 001 RW 01 Dusun Kelampaian, Desa Muara Dilam, Kabupaten Rokan Hulu. Warga sekitar menyebut pelaku sempat melakukan ritual pengobatan spiritual terhadap korban sejak siang hari di dalam rumah. Situasi tersebut awalnya dianggap biasa hingga kondisi mendadak berubah menjadi menegangkan memasuki sore menjelang malam.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pelaku mulai bertindak agresif terhadap korban sekitar pukul 15.00 WIB sore hari. Tetangga melihat DRE memukul anak kandungnya menggunakan tangan kosong di dalam rumah keluarga tersebut. Warga sempat mencoba mengingatkan pelaku agar menghentikan tindakan kasar terhadap bocah perempuan itu.
Namun, teguran warga justru memicu emosi pelaku yang semakin tidak terkendali sore hari saat kejadian memilukan tersebut. Seorang saksi bahkan mengaku sempat terkena lemparan asbak kaleng ketika mencoba menghentikan dugaan penganiayaan tersebut. Situasi rumah korban semakin mencekam karena warga mulai ketakutan mendekati lokasi kejadian pada sore hari.
Sekitar pukul 16.00 WIB, pelaku kembali melanjutkan ritual pengobatan terhadap Almira di dalam rumah keluarga mereka. Pelaku menyebut anak kandungnya mengalami kerasukan sehingga membutuhkan ritual khusus untuk proses penyembuhan tersebut. Dalam ritual itu, pelaku diduga memasukkan rambut, karet rambut, dan potongan kertas ke mulut korban.
Kondisi Almira semakin memprihatinkan ketika warga melihat korban mulai lemas sambil menangis kesakitan di dalam rumah tersebut. Ayah sambung korban bersama warga sekitar berusaha memisahkan pelaku dari Almira agar situasi tidak semakin parah. Namun, usaha tersebut gagal karena pelaku disebut memiliki tenaga sangat kuat saat mengamuk sore itu.
“Kami sudah berusaha memisahkan pelaku dari korban, namun tidak sanggup menahannya,” ujar sejumlah saksi mata, Kamis, 14 Mei 2026. Warga mulai ketakutan mendekati rumah karena pelaku disebut bertindak agresif terhadap siapa saja saat kejadian berlangsung. Suasana dusun mendadak sunyi karena warga memilih bertahan di dalam rumah masing-masing malam itu.
Menjelang Magrib, jeritan minta tolong korban terdengar cukup keras hingga membuat warga sekitar semakin panik dan ketakutan. Namun, tidak ada warga yang berani keluar rumah karena takut menghadapi pelaku yang disebut sedang mengamuk saat itu. Tangisan Almira terdengar lirih sebelum akhirnya suara tersebut perlahan menghilang menjelang malam hari.
“Warga mendengar korban meminta tolong, namun takut keluar rumah menghadapi pelaku,” ujar saksi berinisial ST kepada wartawan. Ia menyebut situasi di dusun saat itu sangat mencekam karena suara tangisan korban terus terdengar dari dalam rumah. Banyak warga hanya mengintip dari jendela sambil berharap situasi segera kembali tenang malam tersebut.
Beberapa menit kemudian, warga akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke rumah korban secara bersama-sama untuk menghentikan kejadian tragis tersebut. Pelaku berhasil diamankan warga, sementara Almira ditemukan dalam kondisi kritis dengan luka memar cukup serius di tubuhnya. Warga langsung menghubungi bidan terdekat guna memberikan pertolongan darurat kepada korban malam itu.
Namun, akses menuju lokasi kejadian cukup sulit sehingga tenaga kesehatan membutuhkan waktu lebih lama untuk menuju rumah korban. Ketika petugas kesehatan tiba, Almira sudah dinyatakan meninggal dunia akibat gagal bernapas setelah mengalami penyumbatan saluran pernapasan. Kondisi korban membuat warga sekitar menangis histeris melihat tragedi memilukan tersebut malam hari.
Penyidik Polsek Kunto Darussalam kemudian melakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban di RSUD Rokan Hulu keesokan paginya, Kamis, 14 Mei 2026. Polisi menemukan luka memar pada bagian leher serta kepala korban saat proses visum dilakukan di rumah sakit tersebut. Selain itu, petugas juga menemukan benda asing yang menyumbat mulut korban sehingga menghambat saluran pernapasan.
Benda asing tersebut terdiri dari gumpalan rambut, ikat karet rambut, dan potongan kertas cukup besar di mulut korban. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa ritual pengobatan yang dilakukan pelaku justru memicu kematian tragis anak kandungnya sendiri. Polisi kemudian membawa pelaku menuju rumah sakit guna menjalani pemeriksaan medis tambahan setelah diamankan malam sebelumnya.
Pelaku DRE juga sempat menjalani penanganan khusus karena cincin logam di jari tangannya mengalami pembengkakan cukup serius. Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Rokan Hulu akhirnya membantu melepaskan cincin logam tersebut di rumah sakit daerah setempat. Polisi terus memeriksa kondisi psikologis pelaku guna mendalami motif dugaan penganiayaan terhadap korban tersebut.
Kapolres Rokan Hulu, AKBP Emil Eka Putra, melalui Kasi Humas, AKP Yohanes Tindoan, membenarkan kejadian tragis tersebut. Polisi memastikan korban meninggal akibat dugaan penganiayaan berat yang terjadi di Dusun Kelampaian, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu. “Pelaku berinisial DRE sudah ditahan guna menjalani proses hukum lebih lanjut,” ujar AKP Yohanes Tindoan, Kamis, 14 Mei 2026.
Jenazah Almira kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan setelah proses pemeriksaan selesai dilakukan oleh kepolisian setempat. Suasana pemakaman dipenuhi tangisan keluarga serta warga sekitar yang tidak menyangka tragedi tersebut benar-benar terjadi. Banyak warga masih terlihat syok mengingat korban dikenal sebagai anak pendiam dan ramah sehari-hari.
Kasus kematian Almira langsung memicu perhatian luas masyarakat Riau karena melibatkan anak sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga. Warga berharap polisi mengusut tuntas perkara tersebut agar keluarga korban memperoleh rasa keadilan secara hukum. Dugaan gangguan kejiwaan pelaku juga menjadi perhatian serius dalam proses penyidikan perkara tragis tersebut. R-02

