Tangis Dua Pelajar Pecah di Rumah Kerabat, Ayah Tiri Diduga Siksa dan Perkosa Bertahun-Tahun
Ilustrasi kekerasan seksual dan penganiayaan anak oleh orang tua. Foto: SM News/Created by AI
SUMBAR, SabangMerauke News - Malam itu suasana sebuah rumah di Nagari Lubuk Betung Hilir terlihat biasa saja dari luar. Namun, di dalam rumah kecil di Kecamatan Airpura, dua kakak beradik akhirnya memilih kabur demi menyelamatkan diri. Langkah nekat itu kemudian membuka cerita kelam yang selama ini tersembunyi rapat.
Dua pelajar berinisial W berusia 16 tahun dan S berusia 12 tahun diduga menjadi korban kekerasan seksual serta penganiayaan ayah tiri mereka sendiri. Kasus memilukan itu kini ditangani Satreskrim Polres Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Polisi juga masih memburu pelaku berinisial Z yang menghilang setelah dilaporkan keluarga korban.
Cerita itu mulai terungkap saat W sudah tidak kuat lagi menahan tekanan di rumah. Remaja perempuan tersebut kemudian mengajak adiknya pergi diam-diam menuju rumah kerabat terdekat. Saat tiba, keduanya langsung menangis dan meminta perlindungan keluarga.
Tangis dua kakak beradik itu membuat suasana rumah mendadak berubah sunyi. Keluarga awalnya bingung melihat kondisi korban yang terlihat ketakutan dan trauma. Namun, perlahan cerita pahit itu mulai keluar dari mulut keduanya.
Tante korban, Titik, mengatakan keluarga baru mengetahui kejadian tersebut beberapa hari lalu. Selama ini korban memilih diam karena takut mendapat ancaman fisik dari pelaku. Situasi itu membuat keduanya hidup dalam tekanan bertahun-tahun.
“Keponakan saya mengaku sering diancam dan dipukul kalau melawan,” ujar Titik, Senin, 25 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa korban selama ini memendam semua ketakutan sendirian. Bahkan, keluarga besar tidak pernah mengetahui kondisi sebenarnya di rumah itu.
Menurut pengakuan korban, dugaan kekerasan seksual dan penganiayaan terjadi cukup lama. Korban hidup dalam rasa takut hampir setiap hari. Mereka juga memilih menutupi semuanya karena khawatir mendapat ancaman lebih berat.
Setelah mendengar cerita tersebut, keluarga langsung bergerak cepat menuju kantor polisi. Awalnya laporan disampaikan ke polsek setempat. Namun, keluarga kemudian diarahkan untuk membuat laporan langsung ke Polres Pesisir Selatan sekaligus menjalani visum.
Pada Kamis, 14 Mei 2026, kedua korban bersama keluarga datang ke Polres Pesisir Selatan. Polisi langsung menerima laporan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap korban. Setelah itu, korban menjalani pemeriksaan medis untuk kepentingan penyelidikan.
Kabar laporan polisi rupanya cepat terdengar oleh pelaku. Tak lama setelah laporan dibuat, Z langsung meninggalkan rumah dan menghilang tanpa jejak. Warga sekitar bahkan sempat ikut mencari keberadaan pria tersebut.
Beberapa lokasi di sekitar Airpura sempat diperiksa warga karena diduga menjadi tempat persembunyian pelaku. Gang sempit, rumah kosong, hingga kebun sekitar kampung ikut dicari. Namun, sampai sekarang pelaku belum ditemukan.
Keluarga sempat menerima informasi bahwa pelaku kabur menuju Pekanbaru, Riau. Meski begitu, keluarga percaya Z masih berada di sekitar wilayah Airpura. Polisi juga masih terus melakukan pengejaran dan pengembangan kasus.
“Ada kabar dia lari ke Pekanbaru, tapi dugaan kami masih dekat sini,” kata Titik. Keluarga berharap pelaku segera ditangkap supaya korban merasa aman. Mereka juga meminta proses hukum berjalan cepat.
Kasus tersebut langsung membuat warga sekitar geger dan tidak percaya. Selama ini keluarga korban terlihat hidup normal seperti warga lainnya. Tidak ada yang menyangka dua anak itu ternyata menyimpan luka begitu panjang.
Beberapa tetangga mengaku korban memang terlihat pendiam selama ini. Namun, warga tidak pernah curiga bahwa ada kekerasan berat yang terjadi di rumah tersebut. Kini cerita itu justru menjadi pembicaraan hampir seluruh kampung.
Saat ini kedua korban masih berada bersama keluarga untuk mendapat pendampingan. Kondisi mental korban disebut masih sangat terguncang akibat pengalaman panjang tersebut. Keluarga terus berusaha memberi rasa aman sambil menunggu proses hukum berjalan.
Polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi tambahan untuk memperkuat penyelidikan. Aparat memastikan pengejaran terhadap pelaku terus dilakukan. Kasus tersebut kini menjadi perhatian serius masyarakat Pesisir Selatan.
Di balik tenangnya kampung kecil Airpura, dua anak ternyata bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Mereka memilih diam sambil menyimpan luka sendirian di rumah sendiri. Kini keberanian untuk kabur dan bercerita akhirnya membuka jalan agar kasus itu diproses secara hukum. R-02

