Niat Ambil Getah Karet Berujung Maut, Dua Pria Hilang di Kolam Berbau Menyengat
Ilustrasi dan infografis tewasnya 2 petani di kolam penyimpanan getah karet di Pasaman Barat. Foto: SM News/Created by AI
SUMBAR, SabangMerauke News - Dua petani muda asal Pasaman tak pernah pulang setelah turun ke dasar kolam getah karet, Sabtu sore, 23 Mei 2026. Satu korban awalnya menyelam mengambil getah. Rekannya turun membantu. Namun keduanya justru ditemukan tak bernyawa di dasar kolam beton berbau menyengat di Jorong Rimbo Janduang, Pasaman Barat.
Sore itu langit Pasaman Barat belum gelap. Matahari masih menggantung malas di atas rumah-rumah warga Jorong Rimbo Janduang, Nagari Lingkungan Aua Baru, Kecamatan Pasaman. Anak-anak masih bermain dekat jalan kampung. Suara motor sesekali melintas pelan. Tidak ada tanda musibah bakal datang.
Sekitar pukul 16.00 WIB, empat pria datang ke rumah milik Syahmidi, 59 tahun. Mereka biasa membantu mengambil getah karet milik Syahmidi yang disimpan di dalam kolam ikan di samping rumah. Aktivitas itu sudah sering dilakukan. Tidak ada rasa takut. Tidak ada pikiran buruk.
Kolam beton ukuran empat kali enam meter itu tampak tenang dari atas. Airnya keruh pekat. Aroma asam menyengat menusuk hidung sejak beberapa meter mendekat. Namun, warga sekitar sudah terbiasa dengan bau itu.
Senpri, 32 tahun, menjadi orang pertama yang turun ke kolam. Pria asal Jorong Benai, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapattunggul itu menyelam perlahan ke dasar kolam mengambil getah karet yang terendam.
Rekan-rekannya menunggu di pinggir kolam sambil bercanda kecil. Mereka mengira Senpri akan segera muncul membawa getah seperti biasanya. Namun, menit demi menit berlalu tanpa suara.
Permukaan air tetap diam. Tidak ada gelembung. Tidak ada gerakan. Suasana mulai berubah canggung. Salah seorang rekannya memanggil nama Senpri berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam kolam.
Sekitar 15 menit kemudian, Tanjung, 25 tahun, langsung melepas baju dan turun ke kolam. Ia berusaha mencari rekannya di dasar kolam yang gelap dan berlumpur. “Tanjung masuk untuk memeriksa kondisi korban pertama,” ujar AKP Bermana Manda, Kapolsek Pasaman, Minggu, 24 Mei 2026.
Warga yang berada di lokasi masih berharap keduanya segera naik ke permukaan. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi panik. Setelah beberapa menit menyelam, Tanjung juga tak kunjung muncul.
Teriakan mulai pecah di sekitar rumah Syahmidi. Dua rekan korban bersama pemilik rumah langsung turun bersamaan ke dalam kolam. Mereka meraba dasar kolam dengan tangan kosong sambil menahan napas di air keruh berbau menyengat.
Di dasar kolam itulah tubuh Senpri dan Tanjung ditemukan. Keduanya sudah tidak bergerak. “Kedua korban ditemukan di dasar kolam dalam kondisi tidak sadar,” kata Bermana.
Tubuh korban kemudian ditarik ke atas menggunakan tenaga seadanya. Warga sekitar mulai berdatangan setelah mendengar suara minta tolong. Sebagian membantu evakuasi. Sebagian lagi hanya berdiri pucat melihat dua pria muda terbaring lemas di pinggir kolam.
Tangis keluarga mulai pecah saat kabar musibah menyebar ke kampung sekitar. Motor warga hilir mudik menuju lokasi kejadian. Jalan kecil di depan rumah Syahmidi mendadak ramai dipenuhi masyarakat.
Korban lalu dilarikan menuju RSUD Pasaman Barat di Jambak. Warga sempat berharap keduanya masih bisa diselamatkan. Namun, takdir berkata lain. Tim medis menyatakan Senpri dan Tanjung meninggal dunia sesaat setelah tiba di rumah sakit. “Korban diduga kehabisan napas saat menyelam di dasar kolam,” ujar Bermana. .
Polisi menduga kondisi kolam menjadi penyebab utama kematian kedua korban. Air kolam yang lama tertutup menghasilkan aroma menyengat dan minim oksigen. Dasar kolam juga dipenuhi endapan getah karet serta lumpur tebal.
Menurut warga sekitar, kolam penyimpanan getah seperti itu memang sering dipakai petani karet. Getah biasanya direndam agar kualitas tetap terjaga sebelum dijual. Namun, aroma dari kolam sering membuat orang luar pusing dan sesak napas. “Kolam dalam kondisi kotor dan berbau sangat menyengat,” kata Bermana.
Sore yang awalnya biasa berubah menjadi penuh duka. Anak-anak berhenti bermain. Pedagang kecil menutup lapak lebih cepat. Warga berkumpul sambil membicarakan tragedi yang terasa begitu cepat terjadi.
Senpri dikenal sebagai pekerja keras di kampungnya. Ia sehari-hari membantu keluarga dari hasil bertani dan mengambil getah karet. Sedangkan Tanjung dikenal pendiam dan ringan tangan membantu warga sekitar. Tidak ada yang menyangka aktivitas rutin mencari nafkah berubah menjadi perjalanan terakhir keduanya.
Warga sekitar mengaku peristiwa itu membuat banyak orang takut turun ke kolam penyimpanan getah tanpa alat pengaman. Selama ini pekerjaan itu dianggap biasa karena sudah sering dilakukan turun-temurun.
Namun tragedi Sabtu sore itu seperti tamparan keras bagi warga kampung. Kolam kecil di samping rumah ternyata bisa berubah menjadi jebakan mematikan hanya dalam hitungan menit.
Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara usai insiden. Garis polisi dipasang sementara di sekitar kolam beton tersebut. Namun, hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda kekerasan ataupun unsur pidana lain. “Kejadian ini murni musibah,” ujar Bermana.
Kabar meninggalnya dua petani muda itu cepat menyebar di media sosial warga Pasaman Barat. Banyak warga mengaku merinding membaca kronologi kejadian. Sebagian lain mengingatkan pentingnya keselamatan kerja meski pekerjaan terlihat sederhana. R-02

