Cekcok Berujung Maut di Kuranji, Tusukan Pisau Hentikan Napas Fahmi Seketika
Pria berinisial MAP (32 tahun) ditangkap polisi karena membunuh kerabatnya sendiri di Padang. (ist)
SUMBAR, SabangMerauke News - Peristiwa penusukan di Gunung Sarik Padang pada Selasa siang, 28 April 2026, mengguncang warga. Seorang pria bernama Fahmi (50 tahun) tewas usai ditusuk kerabatnya sendiri di perut.
Insiden berdarah ini terjadi sekitar pukul 12.15 WIB di depan rumah korban.
Lokasi kejadian berada di Jalan Gurun Panjang, Kampung Jambak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Situasi awal terlihat biasa sebelum percakapan berubah panas dan memicu pertikaian tajam. Warga sekitar sempat mendengar suara cekcok keras sebelum tragedi tak terelakkan terjadi.
Pelaku berinisial MAP (32 tahun) datang menemui korban dengan maksud yang belum sepenuhnya jelas. Percakapan singkat berubah menjadi adu mulut yang semakin memanas dalam hitungan menit. Ketegangan meningkat cepat hingga akhirnya kekerasan tak lagi bisa dihindari saat itu.
Kasubnit Opsnal Satreskrim Polresta Padang, Ipda Ryan Fermana, menjelaskan kronologi kejadian tersebut. “Awalnya adu mulut memanas hingga pelaku mengeluarkan pisau lalu menusuk korban,” ujar Ryan. Situasi berubah kacau ketika korban berusaha menghindar, namun gagal menyelamatkan diri sepenuhnya.
Korban sempat mencoba melarikan diri dari lokasi setelah serangan pertama terjadi mendadak. Langkah tergesa membuat korban tersandung kursi dan jatuh di area depan rumah. Kondisi itu dimanfaatkan pelaku untuk kembali melancarkan serangan yang lebih fatal.
Korban berhasil bangkit dan berusaha menjauh meski luka serius sudah menguras tenaga. Namun, sekitar 10 meter dari lokasi awal, korban kembali terjatuh akibat luka parah. Kondisi tubuh yang melemah membuat korban tidak lagi mampu melanjutkan usaha penyelamatan diri.
Keluarga segera membawa korban ke Rumah Sakit Siti Rahmah untuk mendapatkan penanganan medis. Upaya penyelamatan dilakukan secepat mungkin dengan harapan nyawa korban masih tertolong. Namun, luka tusuk di bagian perut terlalu parah untuk ditangani dalam waktu singkat.
“Korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 13.30 WIB setelah penanganan medis,” ujar Ryan. Kabar duka ini menyebar cepat dan membuat suasana lingkungan berubah menjadi penuh keheningan. Warga sekitar terlihat terpukul melihat insiden berdarah terjadi di siang hari yang terang.
Setelah kejadian, pelaku sempat melarikan diri meninggalkan lokasi dalam kondisi panik. Polisi bergerak cepat melakukan pendekatan kepada keluarga pelaku untuk mempercepat penangkapan. Langkah persuasif dilakukan agar situasi tetap kondusif tanpa memicu konflik lanjutan di lingkungan.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB. Pelaku akhirnya diserahkan keluarga kepada kepolisian bersama barang bukti berupa pisau. Penyerahan ini mempercepat proses hukum sekaligus meredam potensi ketegangan lanjutan di masyarakat.
“Pelaku sudah diamankan dan menjalani proses hukum di Polsek Kuranji,” ujar Ryan. Polisi langsung melakukan pemeriksaan intensif untuk menggali motif dan kronologi lebih rinci. Barang bukti diamankan guna memperkuat proses penyidikan yang sedang berlangsung saat ini.
Dari keterangan awal pelaku mengaku tidak menyangka kejadian berujung pada kematian korban. Pertikaian disebut dipicu masalah sepele terkait jaga malam dan pekerjaan proyek lingkungan. Hal kecil yang tidak terselesaikan berubah menjadi konflik besar dengan akibat tragis.
Polisi masih mendalami motif secara menyeluruh untuk memastikan fakta di balik kejadian. Olah tempat kejadian perkara dilakukan untuk merekonstruksi peristiwa secara detail dan akurat. Visum terhadap korban juga dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Padang sebagai bagian penyidikan.
Kasus ini kini ditangani Unit Reskrim Polsek Kuranji dengan dugaan penganiayaan berat. Pasal yang dikenakan mengarah pada tindakan kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Proses hukum akan berjalan sesuai aturan dengan fokus pada keadilan bagi korban.
Warga sekitar berharap kejadian serupa tidak terulang di lingkungan mereka lagi. Peristiwa ini menjadi pengingat keras tentang bahaya konflik kecil yang tidak terkendali. Emosi sesaat dapat membawa dampak besar yang tidak bisa diperbaiki kembali.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang kehilangan anggota tercinta. Lingkungan sekitar juga merasakan trauma akibat kejadian yang terjadi di siang hari terbuka. Rasa aman sempat terganggu meski situasi kini mulai kembali terkendali secara bertahap. R-02

