Jasad Supir Truk Minyakita Dibawa Pulang Keluarga ke Sumatera Barat
Petugas mengevakuasi jasad supir truk yang ditemukan tewas di kabin truknya dalam kondisi terikat. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Kasus jasad dalam kabin truk bermuatan MinyaKita memicu perhatian luas serta spekulasi motif kriminal brutal. Jasad korban telah dibawa pulang oleh keluarganya ke Padang, Sumatera Barat. Penyelidikan terus berjalan sambil menunggu hasil autopsi guna memastikan penyebab kematian korban.
Korban bernama Hery Supardi, 55 tahun, warga Cilincing, Jakarta Utara, yang bekerja sebagai sopir. Jenazah telah dibawa keluarga menuju Padang, Sumatera Barat, setelah proses autopsi selesai dilakukan. Keluarga yang datang menjemput terdiri dari adik serta abang korban yang mendampingi pemulangan jenazah.
Kapolsek Payung Sekaki, AKP Rafidin Lumbangaol, menyampaikan perkembangan terbaru terkait kasus tersebut. “Korban sudah dibawa ke Padang setelah proses autopsi. Keluarga langsung menjemput,” ujar Rafidin, Kamis, 7 Mei 2026. Ia menambahkan hasil autopsi masih ditunggu guna memastikan penyebab kematian secara medis yang akurat.
Polisi masih mendalami apakah kematian terjadi akibat ikatan dan lakban atau faktor lain. “Kami menunggu hasil autopsi Dokkes untuk memastikan ada luka lain atau tidak,” ucap Rafidin. Pernyataan ini menegaskan penyelidikan berjalan hati-hati demi menghindari kesimpulan prematur terkait kasus.
Kasus bermula saat pengurus armada mencurigai pergerakan truk melalui sistem pelacak GPS kendaraan. Truk berhenti lama pada satu titik sehingga memicu kekhawatiran terhadap keselamatan sopir tersebut. Petugas segera menuju lokasi setelah menerima laporan guna memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Minggu, 3 Mei 2026, jasad korban ditemukan dalam truk di sebuah bengkel kawasan Payung Sekaki. Kondisi korban sangat memprihatinkan dengan tubuh terikat kuat serta wajah dililit lakban rapat. Posisi tubuh meringkuk di belakang kursi kemudi memperlihatkan indikasi kekerasan intens sebelum kematian.
Tali nilon putih melilit bagian pinggang hingga pundak untuk membatasi gerak korban secara total. Tangan korban ditarik ke belakang lalu dililit lakban hitam kuat agar tidak mampu melawan. Wajah tertutup lakban dan lapisan koran mempertegas dugaan pelaku berusaha menyamarkan identitas korban.
Kondisi tersebut mengarah pada dugaan aksi terencana dengan pola kekerasan yang sistematis dan terukur. Truk kemudian diparkir di bengkel, seolah ditinggalkan tanpa aktivitas mencurigakan dari luar. Detail ini memperkuat dugaan bahwa pelaku memiliki waktu yang cukup untuk menjalankan aksinya tanpa gangguan.
"Kondisi badan diikat tali dan bagian muka ditutup koran serta dilakban," kata AKP Anggi Rian, Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru. Tim forensik telah mengevakuasi jasad korban guna keperluan otopsi lebih lanjut di rumah sakit.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, menegaskan penyelidikan masih berlangsung intensif. “Penyelidikan terus berjalan, tim mengumpulkan bukti serta keterangan saksi untuk ungkap motif,” ujar Pandra. Ia menekankan bahwa setiap petunjuk akan dianalisis guna mengungkap pelaku serta latar belakang kejadian.
Tim identifikasi kini menyisir kabin truk untuk mencari sidik jari serta jejak penting lain. Bagian kemudi serta pintu kendaraan menjadi fokus utama dalam pengumpulan bukti forensik. Langkah ini diharapkan mampu mengarah pada identitas pelaku yang masih misterius hingga kini.
Barang bukti berupa truk pengangkut minyak goreng Minyakita telah diamankan di kantor polisi. Muatan minyak goreng dalam jumlah besar turut menjadi perhatian dalam penyelidikan motif kasus. Dugaan perampasan muatan atau konflik pribadi masih dianalisis sebagai kemungkinan utama kejadian tersebut.
Rafidin menyatakan perkembangan lanjutan akan disampaikan setelah hasil penyelidikan lebih lengkap tersedia. “Barang bukti sudah diamankan. Perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan kemudian,” ucap AKP Rafidin. Pernyataan ini menunjukkan proses penyidikan masih terus berjalan tanpa kesimpulan akhir sementara waktu.
Kasus ini memicu kekhawatiran di kalangan sopir angkutan barang terkait keamanan saat bekerja. Peristiwa tersebut menjadi pengingat keras tentang risiko tinggi dalam aktivitas distribusi logistik harian. Tekanan publik meningkat agar pelaku segera tertangkap dan keadilan bagi korban dapat ditegakkan. R-02

