Angka 19.000 Sapi Bikin Geger, BGN Tegaskan Ini Hanya Simulasi
Kepala Badan Gizi Nasional meluruskan isu kebutuhan sapi dalam program makan bergizi gratis nasional. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Kepala Badan Gizi Nasional meluruskan isu kebutuhan sapi dalam program makan bergizi gratis nasional.
Program Makan Bergizi Gratis kembali menjadi sorotan setelah muncul angka kebutuhan sapi nasional besar.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan angka tersebut sekadar simulasi teknis perhitungan kebutuhan.
Penjelasan disampaikan guna meredam kekhawatiran publik terkait potensi tekanan harga pangan nasional meningkat tajam.
Dadan menjelaskan simulasi dilakukan dengan asumsi seluruh dapur layanan memasak menu berbahan daging sapi.
Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi diasumsikan membutuhkan satu ekor sapi untuk sekali memasak.
“Ini hanya pengandaian, tinggal jumlahkan total SPPG dikalikan satu ekor sapi,” kata Dadan.
Ia menekankan skenario tersebut tidak mencerminkan kebutuhan riil program pada operasional harian berjalan.
Kebutuhan aktual sangat bergantung pada variasi menu yang disusun masing-masing dapur layanan gizi.
Pendekatan fleksibel diterapkan untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan di pasar domestik.
Dalam praktiknya, satu dapur layanan dapat membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi.
Jumlah tersebut setara satu ekor sapi jika seluruh kebutuhan protein hewani berasal dari daging.
“Sekali masak butuh sekitar 350 kilogram, berarti setara satu ekor sapi,” ujarnya.
Menu dalam program tidak hanya berbasis daging sapi, melainkan mencakup telur, ayam, ikan.
Variasi menu ini dirancang guna memastikan keseimbangan gizi sekaligus menghindari tekanan pasokan komoditas tertentu.
Diversifikasi bahan pangan menjadi strategi utama menjaga keberlanjutan program berskala nasional tersebut.
BGN menegaskan tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional dalam pelaksanaan program.
Langkah tersebut diambil untuk mencegah lonjakan permintaan bahan pangan secara serentak di seluruh wilayah.
Kebijakan seragam berpotensi memicu kenaikan harga signifikan akibat tekanan permintaan tinggi dalam waktu singkat.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak nyata ketika konsumsi seragam terjadi dalam skala sangat besar.
Saat peringatan ulang tahun Presiden, menu nasi goreng dan telur disajikan untuk puluhan juta penerima.
“Hari itu butuh 36 juta telur, harga sempat naik sekitar tiga ribu rupiah,” jelasnya.
Lonjakan kebutuhan tersebut setara sekitar 2.200 ton telur dalam satu hari pelaksanaan kegiatan nasional.
Kondisi ini menjadi pelajaran penting dalam merancang strategi distribusi pangan untuk program berskala besar.
BGN kemudian memperkuat pendekatan adaptif berbasis potensi sumber daya lokal masing-masing daerah.
Pendekatan lokal memungkinkan pemanfaatan bahan pangan sesuai ketersediaan dan preferensi masyarakat setempat.
Selain menjaga harga tetap stabil, strategi ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
“Kalau menu nasional dipaksakan, tekanan tinggi, harga pasti naik,” tegas Dadan menutup penjelasan.(R-03)

