Indonesia Angkat Suara soal Pungutan Kapal Iran, Dunia Sepakat Menolak
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan sikap tegas menolak biaya tambahan jalur pelayaran strategis dunia. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Penolakan global terhadap rencana pungutan kapal di Selat Hormuz memicu ketegangan baru. Forum internasional dorong kebebasan navigasi tanpa biaya tambahan. Indonesia ikut bersuara, menegaskan jalur vital dunia harus aman, terbuka, serta bebas hambatan demi stabilitas perdagangan energi global.
Negara peserta konferensi internasional menolak pungutan kapal di Selat Hormuz yang diinisiasi Iran.
Konferensi digagas Inggris dan Prancis, diikuti puluhan negara termasuk Indonesia secara daring.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan sikap tegas menolak biaya tambahan jalur pelayaran strategis dunia.
Penolakan didasarkan prinsip kebebasan navigasi yang berlaku dalam hukum maritim internasional saat ini.
Sugiono menyebut seluruh peserta forum sepakat menolak pungutan terhadap kapal melintas kawasan tersebut.
Ia hadir mewakili Presiden dalam pertemuan yang membahas stabilitas jalur distribusi energi global.
“Kami menolak segala bentuk pungutan terhadap kapal yang melintas Selat Hormuz,” ujar Sugiono tegas.
Forum menilai kebijakan tersebut bertentangan prinsip kebebasan navigasi yang diakui dunia internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dan berbagai komoditas penting lintas negara.
“Kebijakan itu tidak sejalan dengan prinsip freedom of navigation yang berlaku global,” lanjut Sugiono.
Sugiono menjelaskan wilayah Selat Hormuz berbatasan dengan beberapa negara selain Iran.
Oman dan Uni Emirat Arab juga memiliki kepentingan terhadap keamanan serta kelancaran jalur pelayaran.
Situasi tersebut menuntut pengelolaan bersama tanpa kebijakan sepihak yang merugikan negara lain.
Negara peserta sepakat mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi yang konstruktif berkelanjutan.
Upaya menjaga stabilitas kawasan dinilai penting bagi keberlanjutan distribusi energi dan logistik global.
Semua pihak diminta menahan diri serta mengedepankan dialog dalam menghadapi dinamika kawasan sensitif.
Konferensi juga membahas wacana perlindungan militer bersifat damai bagi kapal melintas kawasan tersebut.
Konsep tersebut bertujuan memastikan keamanan tanpa meningkatkan eskalasi konflik di perairan strategis.
“Ada wacana pengawalan kapal melalui misi perlindungan militer yang bersifat damai,” kata Sugiono.
Rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan lanjutan dan belum menjadi keputusan resmi internasional.
Selain itu, forum menyoroti pentingnya pembersihan ranjau laut demi keamanan jalur pelayaran global.
Langkah demining dinilai krusial untuk menjamin keselamatan kapal dari berbagai negara pengguna jalur.
Selat Hormuz tidak hanya dilalui minyak, tetapi juga berbagai produk perdagangan internasional lainnya.
Karena itu, stabilitas kawasan menjadi kepentingan bersama bagi banyak negara di dunia saat ini.
Sugiono menegaskan komitmen Indonesia mendukung solusi damai demi menjaga kelancaran distribusi global.(R-03)

