Bukan Sekadar Mundur! Langkah India Tinggalkan COP33 Diduga Demi Kepentingan Domestik
India mengejutkan forum internasional setelah resmi mundur dari pencalonan tuan rumah COP33. Foto : Istimewa
India, SABANGMERAUKE NEWS - India mengejutkan forum internasional setelah resmi mundur dari pencalonan tuan rumah COP33. Langkah ini dinilai bukan sekadar keputusan teknis, melainkan strategi populis untuk mengamankan kepentingan domestik sekaligus mengatur ulang posisi diplomasi iklim global.
Pemerintah India resmi menarik diri dari pencalonan tuan rumah Conference of the Parties ke-33 melalui surat tertanggal 2 April. Keputusan ini menandai perubahan arah diplomasi bilateral dan multilateral India di tengah dinamika geopolitik serta melemahnya konsensus iklim global.
Langkah ini kontras dengan pernyataan Narendra Modi saat KTT iklim Dubai 2023 yang menegaskan ambisi memimpin agenda Global South. Dukungan kelompok BRICS pada 2025 sempat memperkuat posisi India sebagai kandidat utama kawasan Asia-Pasifik.
Analis menilai keputusan tersebut sarat pertimbangan populis yang berorientasi domestik menjelang dinamika politik nasional. India kini memilih fokus memperkuat agenda dalam negeri ketimbang mengambil risiko politik di panggung global.
Kepala International Forum for Environment, Sustainability and Technology, Chandra Bhushan, menyebut relevansi forum COP semakin menurun. “Relevansi COP terus melemah dalam mendorong aksi iklim global yang nyata,” ujarnya.
Ia menyoroti menurunnya kepercayaan antarnegara pasca pertemuan di Brasil yang minim komitmen konkret. Kondisi ini membuat forum iklim global kehilangan daya dorong politik tingkat tinggi.
Tekanan terhadap Perjanjian Paris juga memperburuk situasi setelah Amerika Serikat kembali menarik diri. Ketidakpastian komitmen negara maju membuat negara berkembang semakin berhitung ulang dalam keterlibatan global.
Dari sisi ekonomi, keputusan mundur dinilai sebagai langkah realistis untuk menghindari beban besar. Kepala sektor perubahan iklim IPE Global, Abinash Mohanty, menegaskan biaya penyelenggaraan tidak sebanding hasil yang diterima.
“Menjadi tuan rumah COP33 berarti mengeluarkan dana besar untuk proses global yang belum tentu adil,” kata Mohanty. Ia menambahkan India kini mengalihkan fokus ke platform strategis seperti International Solar Alliance.
Selain faktor biaya, India juga menghindari sorotan tajam terhadap ketergantungan pada batu bara. Status sebagai produsen batu bara besar berpotensi memicu tekanan internasional menjelang evaluasi global berikutnya.
Jurnalis lingkungan Jayanta Basu menilai keputusan ini terkait agenda politik menuju pemilu 2029. “Pemerintah memilih fokus pada prioritas domestik dibanding menghadapi tekanan global,” ujarnya.
Sementara itu, profesor University of Oxford Lavanya Rajamani menilai langkah ini tidak berdampak besar secara reputasi global. Namun, India dinilai kehilangan momentum untuk memperkuat kepemimpinan iklim di tingkat internasional.
Ke depan, India tampak mengadopsi pendekatan lebih selektif dalam diplomasi iklim. Fokus diarahkan pada kepentingan nasional sambil menunggu momentum global yang lebih menguntungkan.(R-03)

