Sempat Hijau Cerah, IHSG Tiba-tiba Amblas di Penghujung Hari
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, di zona merah. Indeks turun 19,17 poin atau 0,30 persen ke posisi 6.315,31. Pelemahan terjadi setelah sempat mencatat penguatan di awal sesi.
Tekanan terbesar datang dari saham berkapitalisasi besar. Sektor keuangan dan perindustrian menjadi penyebab utama koreksi. Sepanjang hari indeks bergerak di kisaran 6.306 hingga 6.454.
Penutupan kali ini makin memperpanjang tren penurunan. Sehari sebelumnya indeks juga sudah terkoreksi tipis. Indeks LQ45 turun lebih dalam yaitu 0,86 persen ke level 627,12.
Nilai transaksi mencapai Rp23,7 triliun. Sebanyak 62,9 miliar lembar saham berpindah tangan. Transaksi terjadi sebanyak 3,17 juta kali sepanjang hari.
Dari keseluruhan emiten, 321 saham berhasil menguat. Sebanyak 299 saham tercatat melemah. Ada pula 176 saham yang bergerak diam di tempat.
Saham PT Futura Energi Global memimpin kenaikan tajam. Harganya melonjak 24,39 persen menjadi Rp306 per lembar. PT Maha Properti menyusul naik 19,87 persen ke harga Rp13.875.
PT Champ Resto Indonesia menguat 15,57 persen ke Rp282. PT Bersama Zatta Jaya naik 14,93 persen ke Rp77. Keempat saham ini menjadi top gainers harian.
Di sisi lain, PT Saraswanti Indoland terpuruk paling dalam. Sahamnya turun 11,86 persen menjadi Rp104. PT Harapan Duta Pertiwi melemah 9,38 persen menyusul di belakangnya.
PT Sentral Mitra Informatika turun 8,40 persen. PT Widodo Makmur Unggas terkoreksi 8,33 persen. PT Fortune Indonesia menutup hari dengan penurunan 6,89 persen.
Berdasarkan nilai transaksi, PT Bumi Resources paling aktif diperdagangkan. Nilainya mencapai Rp2,21 triliun dalam satu hari. PT Chandra Asri Pacific tercatat sebesar Rp1,67 triliun.
PT Bank Central Asia mencapai Rp1,31 triliun. PT Dian Swastatika Sentosa senilai Rp1,02 triliun. PT Darma Henwa menyusul sekitar Rp993,81 miliar.
Secara volume perdagangan, Bumi Resources tetap memimpin dengan 120,18 juta lembar. Posisi berikutnya ditempati BNBR, JGLE, ZATA, dan DEWA. Sektor perindustrian menjadi penyebab penurunan terbesar sebesar 1,32 persen.
Sektor barang konsumen nonprimer turun 1,16 persen. Sektor keuangan melemah 0,89 persen. Sektor kesehatan mencatat penurunan tipis 0,10 persen.
Sebaliknya, sektor properti justru melesat naik 3,13 persen. Barang konsumen primer bertambah 1,56 persen. Sektor energi mencatat penguatan 1,52 persen.
Sektor transportasi dan logistik naik 1,33 persen. Teknologi bertambah 0,71 persen. Barang baku dan infrastruktur juga mencatat penguatan terbatas.
Di bursa valas, rupiah melemah 0,2 persen ke Rp17.915 per dolar AS. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak mencapai 97,25 dolar per barel. Indeks dolar AS sendiri justru sedikit terpangkas.
Mata uang kawasan bergerak beragam hari ini. Won Korea Selatan menguat paling tajam. Dolar Taiwan, yuan lepas pantai, dan dolar Singapura ikut menguat terbatas.
Sebaliknya, yen Jepang, baht, dan ringgit ikut melemah seperti rupiah. Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate di angka 5,75 persen. Langkah ini diambil setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin sejak Mei lalu.
Kebijakan ini ditempuh guna menopang sektor riil yang sedang bangkit. Survei perbankan menunjukkan lonjakan permintaan kredit pada kuartal kedua. Saldo Bersih Tertimbang melonjak jadi 93,08 persen dari sebelumnya 38,74 persen.
Kredit diprediksi masih tumbuh pada kuartal ketiga tahun ini. Namun perhatian pasar kini beralih ke posisi fiskal negara. Rata-rata harga minyak tahun ini mencapai 88 dolar per barel.
Angka itu jauh di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar per barel. Kenaikan harga dipicu gangguan pasokan akibat eskalasi konflik. Kondisi ini membebani biaya impor bahan bakar nasional.
Sekitar 60 persen kebutuhan bensin dalam negeri masih bergantung impor. Tiffani Safinia dari ICDX menjelaskan penyebab pelemahan rupiah. Ekspektasi The Fed menahan suku bunga tinggi mendorong aliran dana ke dolar.
“Pelemahan rupiah ke Rp17.936 per dolar AS terutama dipengaruhi sentimen global. Masih kuatnya dolar akibat ekspektasi The Fed pertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” ungkap Tiffani.
Pasar masih memperkirakan ada satu kali kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun. Rapat FOMC pekan depan diprediksi mempertahankan posisi sembari cermati inflasi. Hal ini membuat arus modal ke negara berkembang masih selektif.
“Keputusan BI pertahankan suku bunga tunjukkan fokus jaga nilai tukar. Namun selisih imbal hasil belum cukup menarik modal asing masuk,” jelasnya. Kurs JISDOR BI juga tercatat melemah ke Rp17.919 per dolar AS. R-02

