IHSG Tumbang Usai Reli Sembilan Hari, Keputusan BI Gagal Selamatkan Bursa
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah pada perdagangan Rabu 22 Juli 2026. Indeks sempat bangkit menguat namun belum mampu finis di jalur hijau. Penutupan merah ini mengakhiri reli penguatan yang berlangsung sembilan hari beruntun.
IHSG ditutup di posisi 6.334,48 poin pada akhir sesi. Angka ini turun tipis 0,09 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Rekor kenaikan sepuluh hari tanpa putus akhirnya gagal tercipta hari ini.
Indeks sempat mencicipi warna hijau sesaat setelah pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Suku bunga acuan dipertahankan di level 5,75 persen, melawan konsensus pasar yang memprediksi kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen. Kabar ini menjadi angin segar bagi sejumlah sektor sensitif bunga.
Saham di sektor properti dan otomotif merespon positif keputusan tersebut. BI Rate yang tidak naik diharapkan dapat menahan laju suku bunga kredit. Hal ini sangat krusial bagi minat masyarakat memiliki properti dan kendaraan bermotor.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan langkah kebijakan yang diambil hari ini. "BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain. Tujuannya meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas rupiah," ujar Perry dalam konferensi pers.
Suku bunga deposit facility juga tetap bertahan di level 4,75 persen. Sementara suku bunga lending facility tidak berubah di angka 6,5 persen. BI memilih memperkuat instrumen non-suku bunga dibanding menaikkan tarif utama.
Strategi ini menunjukkan bank sentral mengandalkan bauran kebijakan yang lebih komprehensif. Tidak hanya melalui penyesuaian BI Rate, tapi juga optimalisasi instrumen moneter lain. Pendalaman pasar keuangan dan insentif bagi investor juga menjadi bagian dari rencana tersebut.
Kebijakan ini tetap konsisten untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Di tengah tingginya ketidakpastian global, inflasi 2026 dan 2027 dijaga tetap dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus satu persen. Keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan tetap dijaga dengan hati-hati.
Top Gainers dan Laggards
Beberapa saham berhasil mencatatkan keuntungan signifikan di tengah pelemahan indeks. PT Barito Renewables Energy Tbk menjadi kontributor terbesar dengan tambahan 8,17 poin. PT Capital Financial Indonesia Tbk menyumbang 5,51 poin bagi pergerakan indeks.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk menambah 4,94 poin ke angka penguatan. PT Multipolar Technology Tbk menyumbang 3,08 poin dan PT Maha Properti Indonesia Tbk 2,63 poin. Sektor energi dan industri juga menunjukkan minat investor yang masih kuat.
Di sisi lain, koreksi saham berkapitalisasi pasar besar membebani laju IHSG secara keseluruhan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mengurangi indeks sebesar 7,34 poin. PT Amman Mineral Internasional Tbk memangkas 5,93 poin dari angka akhir.
PT Bank Mandiri Tbk menjadi pemberat berikutnya dengan pengurangan 4,93 poin. PT Telkom Indonesia Tbk mengurangi 4,64 poin dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk 3,02 poin. Saham bank dan telekomunikasi dominan menjadi penarik indeks ke zona merah.
Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan hari ini dipicu aksi ambil untung. Indeks telah naik signifikan selama beberapa pekan terakhir sehingga koreksi alami terjadi. Keputusan BI yang tak sejalan sebagian ekspektasi juga mempengaruhi sentimen pelaku pasar.
"Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan BI terhadap stabilitas rupiah dan inflasi. Sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik tetap terbuka," imbuh analis Phintraco dalam catatannya.
Pergerakan Mata Uang dan Bursa Regional
Seiring pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali tertekan. Rupiah melemah 0,16 persen dan bertahan di level Rp17.917 per dolar AS. Total depresiasi rupiah sejak awal tahun mencapai 7,42 persen terhadap mata uang Amerika.
Sebagian besar mata uang di kawasan emerging market Asia Pasifik juga terpantau melemah. Rupee India mencatat penurunan paling dalam yaitu 0,32 persen. Baht Thailand menyusul dengan pelemahan sebesar 0,30 persen terhadap dolar AS.
Hanya sedikit mata uang yang mampu bertahan atau menguat di kawasan ini. Ringgit Malaysia tetap menguat 0,07 persen sementara won Korea Selatan bergerak stagnan. Tekanan dolar AS yang masih kuat menjadi beban bersama bagi mata uang negara berkembang.
Di bursa saham Asia, indeks utama cenderung bergerak melemah pada hari ini. Koreksi dialami oleh Nikkei 225 Jepang, CSI 300 China, Sensex India, dan SETI Thailand. KLCI Malaysia, Hang Seng Hong Kong, serta PSEI Filipina juga mencatat penurunan.
IHSG sempat berada di zona hijau bersama TAIEX Taiwan dan Straits Times Singapura. Namun pada penutupan akhirnya indeks Indonesia kembali tergelincir ke angka negatif. Pelaku pasar tampak memasang mode menunggu dan melihat sebelum mengambil posisi baru.
Salah satu yang menjadi penantian pasar adalah pengumuman laporan keuangan Alphabet Inc, induk usaha Google. Pada kuartal lalu, Alphabet umumkan rencana menggandakan belanja modal tahun ini menjadi 190 miliar dolar AS. Investor akan menilai realisasi komitmen tersebut dan dampaknya terhadap keuntungan perusahaan.
Volume transaksi hari ini tercatat mencapai 46,42 miliar lembar saham. Nilai total transaksi turun 13,83 persen menjadi Rp18,56 triliun dari Rp21,54 triliun pada sesi sebelumnya. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,73 juta kali sepanjang perdagangan.
Sebanyak 272 saham mencatat kenaikan harga pada penutupan hari ini. Sementara 340 saham bergerak melemah dan 184 saham lainnya stagnan. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.394,68 dan terendah 6.284,88 selama sesi perdagangan.
Meskipun gagal melanjutkan reli, indeks masih bertahan kuat di atas level psikologis 6.300 poin. Keputusan BI memberikan sinyal positif bagi sektor tertentu namun belum cukup mengangkat seluruh pasar. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi dan sentimen global yang berkembang. R-02

