BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Berjuang Hadapi Tekanan Minyak Dunia dunia
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward belum banyak berubah pagi ini. Pada pembukaan Kamis, 23 Juli 2026, rupiah di luar negeri melemah terbatas 0,01 persen ke level Rp17.967 per dolar AS pada pukul 07.45 WIB. Menjelang pembukaan pasar spot, rupiah mendapat tenaga dan menguat 0,04 persen ke posisi Rp17.958 per dolar AS.
Di pasar spot domestik, rupiah justru dibuka melemah 0,20 persen ke posisi Rp17.910 per dolar AS. Pelemahan ini memutus momentum positif perdagangan sebelumnya saat rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke level Rp17.870. Indeks dolar AS terpantau melemah 0,07 persen ke posisi 101,058 pada pukul 09.00 WIB pagi ini.
Pergerakan rupiah sempat tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga komoditas energi naik 1,65 persen ke 95,62 dolar AS per barel meski indeks dolar sedikit terpangkas 0,03 persen menjadi 101,09. Lonjakan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi global.
Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menggempur dua kapal tanker minyak di Laut Merah. Mereka sebelumnya mengancam membuka lini pertempuran baru dalam perang yang melibatkan Iran. Serangan ini menambah ketegangan yang sudah memanas akibat aksi militer AS terhadap Iran selama 12 malam berturut-turut.
Ancaman gangguan muncul di dua jalur utama perdagangan minyak dunia sekaligus. Selat Hormuz saat ini nyaris sepenuhnya diblokade oleh Iran. Sementara Selat Bab el-Mandeb di sisi lain Semenanjung Arab mulai dikuasai Houthi yang berbasis di Yaman.
Gubernur BI Perry Warjiyo menilai pergerakan rupiah masih cukup terjaga hingga pertengahan Juli. "Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," ujar Perry menjelaskan kondisi pasar.
Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam RDG Juli. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility bertahan di 6,50 persen. Langkah ini diambil setelah BI menaikkan suku bunga kumulatif 100 basis poin sejak Mei untuk menjaga stabilitas rupiah.
BI memilih mengambil jeda untuk mengevaluasi dampak kebijakan sebelumnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Pihaknya juga memperkuat sejumlah insentif guna menarik arus modal asing masuk. Stabilitas rupiah dijaga tanpa harus kembali mendorong kenaikan suku bunga di dalam negeri.
Samuel Sekuritas menilai perhatian pasar kini bergeser ke arah kebijakan fiskal negara. "Ke depan, menjaga kepercayaan investor akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mempertahankan defisit fiskal di bawah 3 persen dari PDB," sebut Samuel Sekuritas dalam catatan risetnya.
Rata-rata harga minyak sepanjang tahun telah mencapai 88 dolar AS per barel. Sementara asumsi dasar APBN hanya mencatat 70 dolar AS per barel sebagai acuan. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor bahan bakar bagi Indonesia.
Sekitar 60 persen kebutuhan bensin domestik saat ini masih dipenuhi melalui impor dari luar negeri. Gangguan pasokan dan kenaikan harga otomatis menambah tekanan permintaan dolar AS. Kondisi ini menjadi beban tambahan bagi pergerakan rupiah ke depan.
Permata Institute for Economic Research memperkirakan pelemahan rupiah akan mencapai puncaknya pada kuartal III 2026. Tekanan berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS pada periode tersebut.
Dari sisi eksternal, tekanan terbesar berasal dari kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah. Permintaan dolar AS sebagai aset aman juga masih tinggi di pasar global. Ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi menambah beban mata uang negara berkembang.
Dari domestik, neraca eksternal yang mulai rapuh membayangi kepercayaan pasar. Neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit 1,16 miliar dolar AS, defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Impor tumbuh 22,16 persen secara tahunan sementara ekspor justru mengalami pelemahan.
Impor yang kuat memang mencerminkan aktivitas domestik dan agenda pertumbuhan ekonomi. Namun hal itu juga menaikkan kebutuhan dolar AS terutama untuk bahan baku, barang modal, dan energi. Arus modal asing belum benar-benar solid karena masih banyak ditopang oleh instrumen SRBI.
PIER memproyeksikan rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp17.906 per dolar AS pada kuartal IV 2026. Penguatan ini terjadi dengan tiga syarat utama yang harus terpenuhi. Pertama, tekanan global mereda dan harga minyak kembali landai ke level wajar.
Kedua, terjadi perbaikan sentimen terhadap mata uang Asia di semester kedua. Tren dolar AS diharapkan lebih lunak seiring penyesuaian kebijakan The Fed. Ketiga, pasar melihat APBN tetap kredibel dan cadangan devisa negara terjaga cukup memadai.
Secara teknikal, rupiah masih memiliki peluang menguat pada perdagangan hari ini. Level resistance terdekat berada di angka Rp17.840 per dolar AS. Jika berhasil ditembus, potensi penguatan selanjutnya menembus level Rp17.800 setelah memutus garis tren sebelumnya.
Level paling optimistis untuk penguatan rupiah pada kerangka waktu harian berada di Rp17.710 per dolar AS. Jika berbalik arah melemah, support pertama ada di level Rp17.900. Support psikologis selanjutnya berada di angka Rp17.950 dan batas krusial Rp18.000 per dolar AS. R-02

