Petani Sawit di Riau Selamat Dari Terkaman Harimau Sumatera
Seorang petani di Desa Mengkapan, Kabupaten Siak, nyaris menjadi korban serangan harimau sumatera saat bekerja. Foto : Istimewa
SIAK, SabangMerauke News - Seorang petani di Desa Mengkapan, Kabupaten Siak, nyaris menjadi korban serangan harimau sumatera saat bekerja. Korban berhasil menyelamatkan diri setelah memacu sepeda motor meninggalkan lokasi kejadian. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau langsung mengerahkan tim melakukan pemantauan lapangan.
Peristiwa tersebut dialami petani bernama Agus saat mengangkut tandan sawit menuju lokasi pengumpulan hasil panen. Insiden terjadi di kebun milik Ahmad Rokani, Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Kejadian berlangsung Selasa, 14 Juli 2026, sekitar pukul 10.00 WIB dalam kondisi aktivitas kebun normal.
Menurut laporan lapangan, Agus sedang mengendarai sepeda motor sambil membawa keranjang berisi tandan sawit segar. Aktivitas berlangsung seperti hari kerja biasa tanpa tanda keberadaan satwa liar di sekitar kebun. Situasi berubah mendadak ketika seekor harimau sumatera muncul dari arah belakang kendaraan korban.
Harimau tersebut langsung melompat menuju sepeda motor sambil mencakar keranjang sawit berada belakang kendaraan korban. Serangan berlangsung sangat cepat sehingga korban hanya memiliki waktu singkat menyelamatkan diri dari ancaman. Agus segera memacu sepeda motornya meninggalkan lokasi sebelum harimau kembali mendekat.
Keputusan tersebut membuat korban berhasil lolos dari serangan lanjutan meski sempat mengalami kepanikan luar biasa. Tidak terdapat laporan korban mengalami luka akibat kontak langsung dengan satwa dilindungi tersebut. Namun, kejadian itu memunculkan kekhawatiran warga sekitar terhadap keselamatan saat beraktivitas di kawasan perkebunan.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Supartono, membenarkan pihaknya menerima laporan mengenai insiden tersebut. Tim segera diterjunkan menuju lokasi untuk mengumpulkan fakta sekaligus melakukan pemantauan intensif terhadap kawasan kejadian. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah desa serta instansi terkait guna memastikan informasi lapangan tetap akurat.
“Kami menurunkan tim untuk melakukan pemantauan lapangan, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait guna memperoleh informasi yang akurat mengenai kejadian tersebut,” kata Supartono melalui keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli 2026.
Supartono menjelaskan korban berhasil menghindari serangan setelah meningkatkan kecepatan sepeda motor meninggalkan lokasi kejadian. Respons cepat tersebut mencegah harimau melakukan serangan lanjutan terhadap korban maupun kendaraan digunakan. Tim BBKSDA kemudian melakukan penelusuran guna mengetahui aktivitas satwa pada kawasan tersebut.
“Korban segera memacu kendaraannya untuk menyelamatkan diri sehingga berhasil menghindari serangan lebih lanjut,” ujar Supartono.
Empat hari setelah kejadian pertama, kemunculan harimau kembali dilaporkan warga sekitar Desa Mengkapan. Dua warga bernama Amir dan Dodi melihat satwa tersebut berada sekitar Kilometer Empat desa tersebut. Harimau terlihat keluar dari parit menuju badan jalan sebelum kembali masuk kawasan semak.
Saat berpapasan dengan kendaraan warga, harimau memilih berbalik menuju parit tanpa menunjukkan perilaku agresif. Satwa tersebut tidak mengejar kendaraan maupun mendekati warga berada sekitar lokasi saat kejadian berlangsung. Kondisi itu memperlihatkan harimau hanya melintas pada jalur pergerakan alaminya.
Hasil pengumpulan informasi lapangan menunjukkan kemunculan harimau bukan pertama kali terjadi pada kawasan tersebut. Satwa dilindungi tersebut diketahui beberapa kali melintas melintasi wilayah Desa Mengkapan selama beberapa tahun terakhir. Hingga sebelum insiden dialami Agus, tidak terdapat catatan serangan terhadap masyarakat sekitar.
“Berdasarkan informasi petugas lapangan, kemunculan harimau sumatera bukan kejadian baru. Satwa ini beberapa kali melintas kawasan tersebut, namun tidak pernah menyerang masyarakat,” jelas Supartono.
BBKSDA Riau memastikan pemantauan lapangan terus dilakukan bersama pemerintah daerah serta pemerintah desa setempat. Langkah mitigasi konflik satwa liar diperkuat guna mengurangi potensi pertemuan manusia dengan harimau sumatera. Upaya tersebut juga bertujuan menjaga kelestarian satwa sekaligus melindungi keselamatan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Petugas akan meningkatkan pengawasan terhadap jalur perlintasan harimau serta menyosialisasikan langkah pencegahan kepada masyarakat. Warga diharapkan memahami prosedur menghadapi kemunculan satwa liar tanpa memancing konflik baru. Pendekatan kolaboratif menjadi bagian penting menjaga keseimbangan ekosistem kawasan tersebut.
Supartono mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas dekat kawasan hutan maupun perkebunan berbatasan habitat satwa liar. Aktivitas seorang diri sebaiknya dihindari terutama menjelang sore hingga malam saat satwa mulai aktif bergerak. Warga juga diminta segera melaporkan kemunculan harimau kepada petugas jika ditemukan kembali.
“Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas seorang diri pada kawasan lintasan satwa liar, melakukan patroli lingkungan, serta segera melaporkan keberadaan harimau maupun satwa liar lainnya kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat,” pungkas Supartono.(R-04)

