Dolar Makin Perkasa, Namun Rupiah Justru Menguat Pagi Ini
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa 21 Juli 2026. Data Refinitiv menunjukkan mata uang Garuda naik 0,06 persen ke posisi Rp17.920 per dolar AS. Penguatan terjadi meski dolar AS tengah menguat di pasar keuangan global.
Sumber data Bloomberg mencatat posisi berbeda di sesi yang sama. Rupiah tercatat naik 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.937 per dolar AS. Perbedaan angka muncul akibat waktu sampling dan sumber data yang berbeda.
Pada perdagangan Senin kemarin, rupiah sempat tertekan cukup dalam. Nilainya menyentuh titik terendah Rp17.990 sebelum membaik di akhir sesi. Penutupan resmi berlangsung di posisi Rp17.948 setelah turun 27 poin.
Indeks dolar AS terpantau menguat 0,18 persen mendekati level 101 pagi ini. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak pertengahan Juli lalu. Rupiah tetap mampu mencatatkan penguatan meski dolar sedang perkasa.
Pasar global saat ini masih mencerna beragam sinyal dari Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi umumkan blokade laut Arab Saudi. Langkah itu langsung menambah risiko gangguan jalur pasokan energi dunia.
Harga minyak mentah bergerak tajam di dekat level tertinggi enam minggu. Fluktuasi komoditas ikut mempengaruhi selera risiko pelaku pasar. Di sisi lain, harapan gencatan senjata berikan sedikit nafas lega.
Iran disebut telah menerima proposal damai selama sepuluh hari dari mediator. Peluang meredanya konflik masih terbuka lebar ke depan. Namun ketidakpastian tetap tinggi dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Ahli strategi mata uang senior National Australia Bank Rodrigo Catril menilai situasi sangat berubah-ubah.
"Ada harapan ketegangan sedikit mereda dan jeda terjadi. Namun seluruhnya masih sangat fluktuatif," ujar Rodrigo.
Kondisi geopolitik berpotensi meningkatkan permintaan aset aman seperti dolar AS. Hal ini secara alami dapat mempersempit ruang gerak mata uang negara berkembang. Rupiah harus berjuang ekstra untuk bertahan di level penguatan.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Pertemuan bulanan dimulai hari ini dan berakhir besok Rabu. Pasar menantikan keputusan arah suku bunga acuan yang saat ini di angka 5,75 persen.
Sinyal kebijakan moneter akan sangat menentukan pergerakan rupiah ke depan. Pengetatan yang lebih agresif bisa memberikan tekanan jangka pendek pada pasar saham. Namun di sisi lain langkah itu memperkuat kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi.
Pergerakan mata uang kawasan Asia berjalan bervariasi pagi ini. Yen Jepang bergerak datar di posisi 162,50 per dolar AS. Euro sedikit melemah ke angka 1,1415 dolar, sementara poundsterling bertahan di 1,3434 dolar.
Dolar Selandia Baru mencatatkan penguatan 0,4 persen ke 0,5860 dolar. Angka itu menjadi level tertinggi sejak awal bulan Juni lalu. Dolar Australia juga sedikit lebih kuat di kisaran 0,7001 dolar terhadap dolar AS.
Pelaku pasar kini memantau setiap perkembangan dari dua arah sekaligus. Sentimen luar negeri akan terus menggerakkan kurs secara harian. Namun arah jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh langkah kebijakan otoritas moneter dalam negeri. R-02

