Balasan Pedas Mojtaba Khamenei ke Trump Bikin Geger: Tanda Tangan Presiden AS Tak Berharga
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Foto: Dok SM News
TEHERAN, SabangMerauke News – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, akhirnya menyampaikan pesan keras kepada Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim dirinya telah tewas akibat serangan gabungan AS-Israel. Dalam pernyataan terbarunya, Mojtaba menegaskan bahwa Washington akan menerima “pelajaran yang tak terlupakan” dari Iran dan sekutu regionalnya.
Pernyataan tersebut dibacakan di televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/7/2026), setelah berbulan-bulan Mojtaba tidak terlihat di hadapan publik. Ketidakhadirannya memicu spekulasi luas, terutama setelah Trump menyebut bahwa putra Ayatollah Ali Khamenei itu “90 persen telah tiada”.
Dilansir Al Jazeera, Minggu (19/7/2026), Mojtaba Khamenei menuduh Amerika Serikat berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Ia menyebut tindakan Washington sebagai bukti bahwa komitmen Presiden AS tidak dapat dipercaya.
“Pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh Setan Besar sehubungan dengan kesepakatan tersebut sekali lagi membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah,” bunyi pernyataan yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei.
Ia juga menambahkan bahwa intimidasi, hegemoni, dan kebiadaban merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin Amerika Serikat.
“Sekarang musuh Amerika berusaha untuk memicu perang dan menderita biaya yang lebih berat dan penghinaan lebih lanjut, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran yang terkasih dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan bagi mereka,” lanjut pernyataan tersebut.
Klaim Trump soal Mojtaba Khamenei
Sebelumnya, Donald Trump dalam wawancara dengan media AS Fox News menyatakan bahwa para pemimpin terbaik Iran telah tewas akibat serangan AS-Israel. Ia juga mengklaim bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan besar telah meninggal dunia.
“Mereka tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap. Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah. Para pemimpin mereka semuanya telah tewas,” ujar Trump.
Dalam pernyataannya, Trump sempat salah menyebut mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai “Khomeini”, nama pemimpin Revolusi Iran Ruhollah Khomeini yang wafat pada 1989.
“Putranya, 90 persen telah tiada,” kata Trump, merujuk pada Mojtaba Khamenei.
Spekulasi Berbulan-bulan
Mojtaba Khamenei memang tidak terlihat di depan publik sejak serangan udara AS-Israel yang terjadi pada 28 Februari lalu. Ia dilaporkan berada di kediaman yang sama dengan ayahnya saat serangan terjadi, namun selamat karena berada di ruangan berbeda.
Ketidakhadirannya semakin memicu spekulasi ketika ia tidak hadir dalam pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba baru merilis pernyataan resmi setelah upacara pemakaman ayahnya selesai pada 9 Juli 2026.
Dalam surat yang ditandatangani pada 10 Juli, ia menegaskan bahwa pembalasan terhadap serangan tersebut merupakan kehendak bangsa Iran.
“Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan,” tulisnya.
Eskalasi Konflik AS-Iran
Pernyataan Mojtaba Khamenei muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan.
Amerika Serikat disebut menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air. Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan.
Iran dilaporkan menyerang infrastruktur sipil di Kuwait, negara yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS. Kuwait pun mengimbau warganya untuk melakukan penghematan listrik.
Selain itu, Iran juga disebut menyerang pangkalan militer AS di Yordania, yang mengakibatkan dua tentara Amerika tewas.
Dengan munculnya kembali Mojtaba Khamenei dan pernyataan keras yang disampaikan, konflik antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan semakin memanas. Dunia internasional kini menyoroti kemungkinan eskalasi lebih lanjut yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah. (R-05)

