Jadi Mata Uang Terkuat Asia, Rupiah Tetap Tertinggal Sepanjang 2026
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tajam Jumat sore. Posisi akhir perdagangan mencapai Rp17.921 per dolar AS. Angka ini naik 65 poin atau setara 0,36 persen dari penutupan sebelumnya.
Sebelumnya rupiah sempat berhenti di level Rp17.986 per dolar AS. Sepanjang pekan ini apresiasi mencapai 0,89 persen beruntun. Meski begitu sepanjang 2026 rupiah masih terdepresiasi 6,73 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti dua kekuatan utama. Faktor luar datang dari ketegangan geopolitik yang kembali memanas. Sementara faktor dalam berasal dari sinyal ekonomi nasional yang membaik.
"Konflik Timur Tengah memasuki bulan kelima dengan serangan terbaru ke Iran," ujar Ibrahim. "Ancaman penutupan jalur minyak Laut Merah membuat harga energi tetap tinggi," tambahnya.
Kondisi ini menjadi pedang bermata dua bagi pasar keuangan global. Lonjakan harga minyak berisiko membalikkan tren penurunan inflasi dunia. Hal ini menyulitkan rencana pemangkasan suku bunga bank sentral AS.
"Pejabat The Fed masih sangat berhati-hati mengambil keputusan kebijakan," jelas Ibrahim. "Mereka butuh bukti inflasi rendah berbulan-bulan sebelum memotong bunga," katanya lagi.
Data inflasi AS yang dirilis minggu ini memang menunjukkan penurunan tekanan harga. Namun pasar justru lebih fokus pada risiko kenaikan biaya energi. Hal ini membuat gerak dolar AS sedikit melambat.
Indeks nilai tukar dolar AS menyusut tipis 0,06 persen ke angka 100,7. Harga minyak mentah dunia stabil di angka 84,29 dolar per barel. Rupiah tampil paling mencolok menguat dibanding mata uang Asia lain.
S&P Ratings juga menegaskan peringkat Indonesia tetap layak investasi dengan prospek stabil. Penilaian ini mendorong kepercayaan investor asing terhadap aset dalam negeri. Arus dana masuk mulai terlihat di pasar obligasi negara.
Bank Indonesia merilis hasil survei dunia usaha kuartal II-2026. Saldo Bersih Tertimbang melonjak ke 12,97 persen dari sebelumnya 10,11 persen. Pertumbuhan ini didorong sektor pertanian, konstruksi, dan pariwisata.
Libur sekolah serta hari besar keagamaan mendongkrak kinerja akomodasi dan kuliner. Kapasitas produksi nasional naik menjadi 73,8 persen. Indeks manufaktur juga tetap di zona ekspansi sebesar 51,43 persen.
Meski begitu responden memperkirakan perlambatan tipis kuartal ketiga nanti. Angka SBT diprediksi turun ke level 11,75 persen. Optimisme masih terjaga di sektor perdagangan dan industri pengolahan.
Bank Indonesia berhasil meraup dana segar lelang SRBI sebesar Rp17 triliun. Total penawaran yang masuk mencapai angka Rp37,93 triliun. Minat terbesar datang pada instrumen berjangka waktu 12 bulan.
Imbal hasil surat utang negara bergerak beragam di sepanjang tenor. Obligasi jangka pendek turun sedangkan jangka panjang masih naik tipis. Investor asing tercatat menjual bersih obligasi sebesar 162,2 juta dolar.
Pekan depan pasar menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur BI. Bank sentral diprediksi menaikkan suku bunga acuan 25 poin dasar ke 6 persen. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.
Analis HSBC Paul Mackel mengingatkan sejumlah risiko yang membayangi. Defisit transaksi berjalan makin melebar dan cadangan devisa terus menurun. Iklim investasi portofolio juga belum sepenuhnya pulih.
Untuk perdagangan Senin depan rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.870 hingga Rp17.930. Secara mingguan rentang pergerakan diproyeksikan Rp17.750 sampai Rp18.050. Pelaku pasar diminta tetap waspada terhadap berita geopolitik mendadak.
"Analisis ini hanya sebagai bahan pembelajaran semata," tegas Ibrahim. "Bukan ajakan langsung untuk melakukan transaksi jual beli aset," pungkasnya. R-02

