Rupiah Dibuka Melemah Terbatas di Tengah Ketidakpastian Global
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak tak menentu pada pembukaan Kamis, 16 Juli 2026. Data antarlembaga mencatat perbedaan arah pergerakan yang cukup tipis. Sejumlah faktor luar dan dalam negeri saling tarik-menarik posisi mata uang ini.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah berada di Rp18.071 per dolar. Angka ini turun tiga poin dari penutupan sesi sebelumnya di Rp18.068. Sumber Yahoo Finance justru mencatat posisi di Rp18.059 per dolar atau naik satu poin.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan fluktuasi berlanjut sepanjang hari. Rentang pergerakan diprediksi bergerak di antara Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar. Tekanan utama datang dari ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
"Presiden AS memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan Iran," jelas Ibrahim. "Iran membalas dengan menutup akses Selat Hormuz bagi kapal asing." Ia menambahkan serangan udara baru AS mulai diluncurkan sejak Rabu pagi.
Kedua negara kembali memutus kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bulan lalu. Ketegangan ini langsung mengerek harga minyak mentah dunia. Harga patokan kini menetap di angka 85,25 dolar AS per barel.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli turun drastis menjadi 16 persen. Data CME FedWatch sebelumnya mencatat peluang tersebut di angka 40 persen. Peluang kenaikan September juga turun dari 74 persen menjadi 60 persen.
Kondisi ini seharusnya menekan penguatan indeks dolar AS. Namun indeks dolar justru naik tipis 0,03 persen ke level 100,51. Pergerakan ini membuat rupiah sulit melaju lebih tinggi meski ada dukungan.
Salah satu penopang datang dari lembaga pemeringkat S&P Ratings. Lembaga itu mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB. Prospek ekonomi negara ini dinilai tetap stabil ke depannya.
Pemerintah mencatat kebutuhan pembiayaan utang bruto tahun ini mencapai Rp1.768 triliun. Angka ini muncul seiring pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ketergantungan pada sumber utang menjadi beban tersendiri bagi pasar.
Pasar Surat Utang Negara justru mencatat gerakan positif pagi ini. Intervensi otoritas mendorong aksi beli dari pelaku pasar. Imbal hasil surat utang tenor satu tahun turun 16,8 poin dasar menjadi 6,9 persen.
Imbal hasil tenor tiga tahun turun 1,5 poin ke angka 7,17 persen. Tenor sepuluh tahun menyusut tipis 0,2 poin di posisi 7,23 persen. Tenor sebelas tahun mencatat penurunan terbesar sebesar tiga poin dasar.
Namun aliran dana asing belum sepenuhnya masuk ke pasar. Selasa lalu tercatat penjualan bersih obligasi senilai 75,4 juta dolar AS. Pasar saham juga mencatat penjualan bersih sebesar 8,44 juta dolar AS.
Ini menandai hari kedelapan berturut-turut investor asing menjual aset. Aksi keluarnya dana asing menjadi beban tambahan bagi rupiah hari ini. Pelaku pasar domestik masih berusaha menahan laju pelemahan.
Mata uang negara Asia lain bergerak relatif stabil atau menguat. Dolar Taiwan naik paling tinggi 0,2 persen dibanding dolar AS. Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia masing-masing naik 0,16 dan 0,15 persen.
Peso Filipina, baht Thailand, dan yen Jepang hanya melemah sangat tipis. Pergerakan ini menunjukkan tekanan dolar lebih terasa pada rupiah. Faktor domestik menjadi penyebab utama perbedaan arah tersebut.
Secara teknikal, rupiah masih berpotensi melemah lebih dalam ke depannya. Dukungan pertama terlihat di posisi Rp18.100 per dolar. Dukungan kedua dan terkuat berada di angka Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar.
Jika rupiah berbalik arah menguat, hambatan pertama ada di Rp18.050. Hambatan selanjutnya yang cukup kuat berada di level psikologis Rp18.000. Pergerakan ini sangat bergantung pada perkembangan berita Timur Tengah.
"Pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS," tambah Ibrahim. "Setiap berita baru bisa mengubah arah pergerakan dalam hitungan menit." Ia menyarankan pelaku pasar memantau perkembangan dengan sangat ketat. R-02

