Meski Dunia Berguncang, Rupiah Menguat Berkat S&P Global Rating
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada penutupan perdagangan Selasa (14/7). Posisi naik 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp18.091 per dolar AS. Sebelumnya pada penutupan hari Senin angka berada di Rp18.109 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan ini didorong sentimen positif. Laporan S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5 persen per tahun. Proyeksi ini berlaku untuk tiga tahun ke depan meski harga BBM naik.
"Lembaga ini pertahankan peringkat kredit Indonesia BBB dengan prospek stabil," ujar Ibrahim di Jakarta. Status ini menempatkan Indonesia tetap dalam kategori layak investasi. Kekuatan ekonomi terlihat dari kebijakan makro dan beban utang yang terukur.
S&P menilai peringkat tersebut bertahan karena prospek pertumbuhan yang kuat. Pengelolaan fiskal bijak dan utang luar negeri lebih ringan dibanding negara sebaya. Kebijakan hilirisasi dan penguasaan sumber daya mineral menjadi pendorong utama.
Langkah ini berpotensi meningkatkan nilai ekspor dan pendapatan negara secara berkelanjutan. Padahal kuartal I/2026 ekonomi Indonesia tumbuh tinggi di angka 5,6 persen. Pertumbuhan itu berjalan di tengah gejolak pasar keuangan yang cukup tajam.
Sepanjang semester I pasar saham kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi. Nilai tukar rupiah juga tercatat melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS. S&P memproyeksikan pertumbuhan tahun ini mencapai 5,1 persen.
Pertumbuhan diprediksi melambat di kuartal berikutnya akibat ketidakpastian eksternal. Tingkat suku bunga dalam negeri yang masih tinggi juga menjadi faktor penahan. Ekonomi tetap berjalan meski bergerak lebih hati-hati ke depannya.
Sentimen global datang dari kebijakan baru Presiden AS Donald Trump. Ia memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran mulai Selasa. Washington juga memungut biaya keamanan 20 persen pada kargo lewat Selat Hormuz.
Kapal terkait Iran menjadi sasaran blokade sementara kapal netral tetap lewat. Investor khawatir eskalasi militer mengganggu jalur pasokan minyak dunia. Sekitar seperlima kebutuhan minyak global melintasi perairan strategis tersebut.
Ketegangan memuncak setelah Iran menyerang aset AS di Kuwait dan kapal di Selat Hormuz. Tindakan balasan berpotensi merusak infrastruktur energi regional secara luas. Harga minyak mentah bisa melonjak tinggi dan memicu gelombang inflasi baru.
Pasar keuangan dunia kembali menekan harga saham dan membebani mata uang negara berkembang. Risiko kenaikan biaya energi menjadi kekhawatiran utama bagi pemulihan ekonomi. Bank sentral di berbagai negara harus menimbang ulang arah kebijakan suku bunga.
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller memberi sinyal ketat lain. Jika data Indeks Harga Konsumen pekan ini tinggi, kenaikan suku bunga mungkin diambil. "Inflasi inti tinggi akan memaksa pertimbangan menaikkan suku bunga segera," ujar Waller.
Meski tegas, ia masih melihat peluang inflasi turun ke target dua persen tanpa langkah tambahan. Pasar tenaga kerja juga dinilai sudah mendekati tingkat kesempatan kerja maksimal. Kebijakan moneter AS masih menjadi variabel yang paling ditunggu pasar.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia juga menguat. Posisi JISDOR hari ini berada di Rp18.099 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.131 per dolar AS. R-02

