Selat Hormuz Bergejolak, Rupiah Langsung Tersungkur Tembus Rp18.100 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Rupiah membuka perdagangan awal pekan dalam tekanan kuat. Ketegangan baru di Timur Tengah memicu penguatan dolar Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, harga minyak dunia melonjak tajam.
Pada perdagangan Senin pagi, 13 Juli 2026, rupiah dibuka melemah. Nilainya bergerak di kisaran Rp18.075 per dolar AS. Dalam hitungan menit, pelemahan berlanjut hingga menembus Rp18.100.
Data perdagangan menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp18.110 per dolar AS. Posisi tersebut memperlihatkan tekanan besar sejak awal transaksi. Pelemahan membalikkan penguatan yang tercatat pada akhir pekan sebelumnya.
Pemicu utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang. Situasi itu memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz. Jalur laut tersebut mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ancaman gangguan distribusi energi langsung mengubah arah investasi global.
Investor kemudian memburu aset yang dianggap lebih aman. Dolar Amerika Serikat kembali menjadi pilihan utama. Permintaan yang meningkat membuat mata uang Negeri Paman Sam menguat.
Indeks dolar AS bertahan di atas level 101. Penguatan tersebut memberi tekanan kepada sebagian besar mata uang Asia. Rupiah ikut berada dalam kelompok mata uang yang melemah.
Won Korea Selatan mengalami pelemahan terdalam. Yen Jepang, baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan China ikut terkoreksi. Hanya dolar Taiwan sempat mencatat penguatan terbatas.
Harga minyak mentah Brent ikut melonjak tajam. Nilainya mendekati 79 dolar AS per barel pada perdagangan Asia. Kenaikan tersebut memperkuat kekhawatiran inflasi global.
Analis menilai lonjakan harga energi dapat memperlambat penurunan inflasi dunia. Kondisi itu membuka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Pasar kembali menghitung risiko kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
"Kenaikan harga minyak mengubah ekspektasi pasar terhadap inflasi global," demikian gambaran sentimen pelaku pasar. Investor kini kembali berhati-hati. Arus modal mulai bergerak menuju aset berdenominasi dolar.
Tekanan juga tercermin pada pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun naik ke sekitar 4,23 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal 2025.
Kenaikan imbal hasil membuat investasi dolar semakin menarik. Dana asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Akibatnya, mata uang emerging markets menghadapi tekanan berlapis.
Indonesia menghadapi tantangan dari dua sisi sekaligus. Rupiah harus berhadapan dengan dolar yang semakin kuat. Pada saat sama, harga minyak yang meningkat memperbesar kebutuhan devisa impor energi.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia cukup sensitif terhadap lonjakan harga energi. Beban impor berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Tekanan terhadap neraca pembayaran juga dapat bertambah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Namun arah pergerakan masih cenderung melemah. Pasar terus mencermati perkembangan geopolitik.
"Pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110," ujarnya. Ia menilai sentimen global masih mendominasi perdagangan. Faktor eksternal menjadi penentu utama arah pasar.
Sementara itu, analis mata uang Lukman Leong memperkirakan tekanan belum berakhir. Ketidakpastian geopolitik dinilai masih membayangi pasar. Harga minyak tetap menjadi variabel penting.
"Rupiah berpotensi bergerak pada rentang Rp18.000 sampai Rp18.150 per dolar," katanya. Menurutnya, pelaku pasar terus mengawasi perkembangan konflik. Reaksi investor masih sangat dipengaruhi berita dari Timur Tengah.
Di tengah tekanan tersebut, ekonomi Indonesia masih memperoleh kabar positif. Dana Moneter Internasional atau IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar lima persen pada 2026. Asian Development Bank juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,2 persen.
Meski demikian, sentimen positif tersebut belum mampu mengangkat rupiah. Pasar global masih lebih fokus pada risiko geopolitik. Dolar tetap menjadi tujuan utama investor.
Pelemahan rupiah juga membawa konsekuensi bagi dunia usaha. Biaya impor bahan baku dapat meningkat. Tekanan terhadap harga barang berpotensi semakin besar.
Pemerintah dan Bank Indonesia kini menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah kebijakan moneter akan terus menjadi perhatian pelaku pasar. Kepercayaan investor menjadi faktor penting dalam meredam gejolak.
Jika konflik Timur Tengah terus memanas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda. Pergerakan harga minyak, dolar AS, serta kebijakan Federal Reserve masih menjadi penentu arah pasar dalam beberapa pekan mendatang. R-02

