Emas Turun Lagi, Pasar Bersiap Menghadapi Kejutan Baru dari The Fed
Ilustrasi harga emas. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Harga emas dunia mengakhiri pekan dengan tekanan. Logam mulia itu gagal mempertahankan penguatan sehari sebelumnya. Pasar kini lebih fokus pada ancaman inflasi global.
Pada perdagangan Jumat, harga emas ditutup di level US$4.120,08 per troy ons. Nilainya melemah sekitar 0,03 persen. Penurunan itu mengakhiri pekan dengan catatan negatif.
Dalam sepekan, harga emas terkoreksi sekitar 1,31 persen. Kondisi tersebut berbalik dari pekan sebelumnya. Saat itu emas masih menguat lebih dari dua persen.
Perubahan arah pasar dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Dampaknya langsung menjalar ke pasar energi dunia.
Harga minyak Brent melonjak sekitar 5,4 persen sepanjang pekan. Lonjakan dipicu kekhawatiran terhadap pasokan global. Investor mulai menghitung ulang risiko inflasi.
Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran baru. Inflasi diperkirakan bertahan lebih lama. Situasi itu mengubah ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, menjelaskan perubahan tersebut. Menurutnya, pelaku pasar sedang mengurangi kepemilikan logam mulia. Perhatian mereka beralih kepada risiko inflasi.
"Ketegangan AS dan Iran kembali memengaruhi sentimen pasar," ujar Bart Melek. "Harga emas bergerak menuju kisaran US$4.100."
Emas selama ini dikenal sebagai aset pelindung nilai. Namun kondisi sekarang menghadirkan tantangan berbeda. Ancaman inflasi justru menghidupkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Ketika suku bunga meningkat, daya tarik emas biasanya melemah. Investor cenderung memilih instrumen berbunga seperti obligasi. Perubahan preferensi itu memberi tekanan tambahan.
"Semua indikator menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi," kata Bart Melek. "Bank sentral diperkirakan tetap bersikap sangat hati-hati."
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Amerika semakin besar. Peluang tersebut mencapai sekitar 69 persen untuk September. Perhitungan itu berasal dari CME FedWatch Tool.
Risalah rapat Federal Reserve bulan Juni memperlihatkan pandangan yang lebih ketat. Sejumlah pejabat mengkhawatirkan tekanan inflasi. Sikap tersebut memperkuat ekspektasi pasar.
Fokus investor kini beralih ke data ekonomi berikutnya. Laporan inflasi Amerika akan dirilis pekan depan. Pasar juga menunggu pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.
Kedua agenda tersebut diperkirakan menentukan arah perdagangan. Investor mencari sinyal mengenai kebijakan moneter berikutnya. Setiap pernyataan berpotensi menggerakkan harga emas.
Di tengah tekanan global, kondisi pasar fisik menunjukkan cerita berbeda. Permintaan emas di India melemah. Harga diperdagangkan dengan diskon cukup besar.
Sementara itu, pasar China memperlihatkan stabilitas. Permintaan tetap terjaga sepanjang pekan. Bank sentral China juga terus memperkuat cadangan emas.
Cadangan emas China meningkat signifikan selama Juni. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dua setengah tahun. Langkah itu menunjukkan strategi diversifikasi aset.
Perbedaan kondisi antarnegara memperlihatkan dinamika pasar emas. Sebagian investor mengurangi kepemilikan. Sebagian lain justru terus menambah cadangan.
Ketidakpastian global belum menunjukkan tanda mereda. Konflik geopolitik masih membayangi pasar energi. Inflasi tetap menjadi tantangan utama ekonomi dunia.
Selama ketidakpastian berlangsung, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi. Investor akan mencermati setiap perkembangan geopolitik. Kebijakan bank sentral juga tetap menjadi penentu utama arah pasar.
Pekan depan diperkirakan menjadi fase penting bagi pelaku pasar. Data inflasi dan arah suku bunga akan menjadi penentu. Harga emas pun kembali diuji di tengah pertarungan antara inflasi, perang, dan kebijakan moneter. R-02

