Rupiah Tembus Rp18.128, Konflik AS-Iran Bikin Pasar Kalang Kabut
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali kehilangan tenaga pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat. Posisi itu melemah 114 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan datang dari luar negeri dengan kekuatan besar. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Ketidakpastian itu mendorong investor memburu dolar sebagai aset perlindungan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR ikut bergerak turun. Nilainya berada di Rp18.090 per dolar AS. Sebelumnya, kurs referensi Bank Indonesia tercatat Rp18.005 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan penyebab utama pelemahan tersebut. Menurutnya, investor mengalihkan dana menuju dolar AS. Langkah itu dilakukan demi mencari aset yang dianggap lebih aman.
"Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven," ujar Amru.
Gelombang perpindahan dana semakin kuat setelah konflik Timur Tengah memburuk. Risiko geopolitik membuat pasar global kehilangan ketenangan. Mata uang negara berkembang ikut menerima tekanan.
Harga minyak mentah ikut melonjak. Minyak West Texas Intermediate bergerak mendekati 74 dolar AS per barel. Kenaikan itu memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi dunia.
Inflasi tinggi dapat mengubah langkah bank sentral Amerika Serikat. Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi itu membuat dolar semakin menarik.
Investor juga menunggu data klaim pengangguran Amerika Serikat. Data tersebut menjadi petunjuk penting arah kebijakan moneter berikutnya. Setiap perubahan langsung memengaruhi pergerakan mata uang global.
Di tengah tekanan itu, kondisi ekonomi domestik masih relatif bertahan. Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang lebih besar. Posisinya naik menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026.
Sebulan sebelumnya, cadangan devisa tercatat 144,9 miliar dolar AS. Tambahan itu memperkuat ruang intervensi Bank Indonesia. Stabilitas pasar tetap dijaga melalui berbagai instrumen moneter.
"Kenaikan cadangan devisa memperkuat kemampuan menjaga stabilitas rupiah," kata Amru.
Selain cadangan devisa, inflasi Indonesia masih terkendali. Faktor tersebut membantu menahan tekanan lebih dalam. Namun kekuatan domestik belum sepenuhnya mengalahkan sentimen global.
Amru menilai arah rupiah dalam waktu dekat masih bergantung pada perkembangan internasional. Gejolak geopolitik terus membentuk psikologi pasar. Investor bergerak mengikuti setiap perkembangan baru.
Pada perdagangan pagi, tekanan sebenarnya sudah terlihat. Rupiah sempat berada di Rp18.066 per dolar AS. Nilai itu melemah 52 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, melihat pola pelemahan terjadi hampir merata. Mayoritas mata uang Asia mengalami tekanan serupa. Penyebab utamanya berasal dari meningkatnya risiko geopolitik.
"Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia," ujar Josua.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat kembali menyerang Iran. Harapan terciptanya perdamaian kembali memudar. Risiko konflik berkepanjangan semakin besar.
Pasar juga mengkhawatirkan keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz. Kawasan itu menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan kecil saja dapat mengubah keseimbangan pasokan energi global.
Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat mencabut konsesi penting bagi Iran. Kebijakan tersebut membatasi ruang ekspor minyak Iran. Pasar langsung memperkirakan pasokan energi dunia akan mengetat.
Harga minyak kemudian menembus 75 dolar AS per barel. Lonjakan itu memperbesar tekanan terhadap negara pengimpor energi. Indonesia ikut merasakan dampaknya melalui pelemahan rupiah.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Open Market Committee turut mengubah ekspektasi pasar. Dokumen itu menunjukkan inflasi Amerika Serikat masih mengkhawatirkan. Peluang penurunan suku bunga pun semakin mengecil.
Kondisi tersebut memperkuat posisi dolar terhadap berbagai mata uang dunia. Investor memilih menahan dana dalam aset berbasis dolar. Arus modal ke negara berkembang ikut melambat.
Meski begitu, Bank Indonesia tetap memiliki amunisi menjaga stabilitas pasar. Intervensi dilakukan melalui pasar valuta asing. Langkah itu dipadukan dengan kebijakan moneter lainnya.
Pelaku usaha kini mencermati perkembangan global setiap hari. Pergerakan harga minyak menjadi indikator penting berikutnya. Konflik Timur Tengah juga terus menentukan arah pasar.
Josua memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Kisaran perdagangan berada antara Rp17.975 hingga Rp18.125 per dolar AS. Semua bergantung pada perkembangan sentimen internasional.
Pasar keuangan Indonesia kini berada di persimpangan penting. Faktor domestik masih memberikan bantalan. Namun gelombang global tetap menjadi penggerak utama arah rupiah dalam jangka pendek. R-02

