Serangan Baru AS ke Iran Guncang Dunia, Harga Minyak Melonjak di Tengah Ancaman Perang
Serangan Amerika merusak salah satu jembatan di Iran. (sumber: Bloomberg)
JAKARTA, SabangMerauke News – Pasar energi dunia kembali kehilangan pijakan. Amerika Serikat melancarkan serangan militer lanjutan terhadap Iran. Eskalasi itu langsung mengerek harga minyak internasional.
Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi operasi tersebut. Serangan berlangsung untuk malam kedua berturut-turut. Targetnya berada di sejumlah instalasi strategis Iran.
Centcom menyatakan operasi bertujuan melemahkan ancaman terhadap pelayaran internasional. Fokus utama berada di kawasan Selat Hormuz. Jalur itu menjadi nadi distribusi energi dunia.
"Kami bertindak melindungi kebebasan pelayaran internasional," demikian pernyataan Centcom, Rabu, 8 Juli 2026.
Serangan berlangsung beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berbicara. Pernyataan itu disampaikan dalam KTT NATO di Turki. Trump mengisyaratkan operasi militer belum berakhir.
Pemerintah Amerika menuding Iran menyerang kapal-kapal komersial. Insiden terjadi di Selat Hormuz awal pekan ini. Washington menyebut tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
Sebagai respons, Amerika mencabut pengecualian sanksi minyak Iran. Kebijakan itu kembali menekan ekspor energi Teheran. Dampaknya langsung terasa di pasar global.
Harga minyak Brent melonjak hampir tujuh persen. Brent sempat menembus 80 dolar AS per barel. Minyak WTI juga naik sekitar enam persen.
Lonjakan tersebut menjadi yang terbesar dalam dua pekan. Investor bereaksi terhadap risiko gangguan pasokan. Kekhawatiran kembali menyelimuti pasar energi.
"Kami melihat risiko pasokan meningkat sangat cepat," kata analis Eurasia Group, Gregory Brew.
Menurut Brew, akar persoalan belum benar-benar selesai. Status pengelolaan Selat Hormuz masih diperdebatkan. Kondisi itu memicu eskalasi baru.
Ia menilai konflik belum tentu berubah menjadi perang penuh. Namun, lalu lintas pelayaran diperkirakan tetap terganggu. Pemulihan membutuhkan waktu lebih panjang.
Iran tidak tinggal diam menghadapi tekanan Washington. Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran mengancam balasan cepat. Pernyataan itu disampaikan melalui media sosial.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim menyerang pangkalan militer. Sasaran berada di Kuwait dan Bahrain. Klaim tersebut muncul setelah serangan Amerika.
Kedua negara saling menuduh melanggar kesepahaman damai. Nota itu sebelumnya menjadi dasar gencatan senjata sementara. Perundingan damai kini kembali terancam.
Trump bahkan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Ia mengancam memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Infrastruktur vital juga masuk dalam daftar sasaran.
"Kami memiliki banyak pilihan untuk meningkatkan tekanan," ujar Trump.
Pernyataan tersebut langsung mengguncang bursa global. Saham dan obligasi mengalami pelemahan. Investor beralih menuju aset yang dianggap aman.
Meski demikian, Trump masih membuka ruang diplomasi. Ia memastikan negosiator tetap bekerja. Jalur perundingan belum sepenuhnya ditutup.
"Saya berharap perang besar tidak kembali terjadi," kata Trump.
Harapan tersebut berbenturan dengan kenyataan lapangan. Serangan terus berlangsung selama dua hari. Ketegangan semakin sulit dikendalikan.
Perundingan Amerika dan Iran kini ditangguhkan. Iran masih menjalani masa berkabung nasional. Situasi politik domestik ikut memengaruhi diplomasi.
Salah satu pembahasan utama menyangkut Selat Hormuz. Jalur itu menghubungkan negara-negara produsen minyak Teluk. Gangguan kecil dapat memicu gejolak besar.
Masalah lain menyangkut dana Iran yang dibekukan. Nilainya mencapai miliaran dolar Amerika. Persoalan tersebut belum menemukan titik temu.
Program nuklir Iran juga belum terselesaikan. Negosiasi baru menghasilkan sedikit kemajuan. Kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing.
Ketidakpastian semakin membebani industri pelayaran. Pemilik kapal mempertimbangkan ulang rute pelayaran. Risiko keamanan meningkat setiap hari.
Pasar juga menyoroti kebijakan Rusia. Moskow menghentikan ekspor diesel. Langkah itu ikut mempersempit pasokan energi.
Harga diesel melonjak tajam sepanjang perdagangan. Kapasitas pengilangan global juga masih terbatas. Kombinasi faktor itu memperburuk tekanan harga.
Data terbaru Amerika memperlihatkan stok minyak meningkat. Namun, persediaan masih berada pada level rendah. Kondisi tersebut membatasi ruang intervensi pasar.
Analis memperingatkan volatilitas belum berakhir. Selama Selat Hormuz belum stabil, harga energi tetap rentan. Dunia kembali hidup dalam bayang-bayang konflik.
Konflik kali ini bukan sekadar pertarungan militer. Dampaknya merambat ke perdagangan internasional. Setiap rudal kini memiliki harga ekonomi.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia. Jalur sempit itu menentukan denyut energi global. Stabilitasnya menjadi kepentingan banyak negara.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah berikutnya. Diplomasi masih memiliki peluang. Namun, setiap keputusan dapat mengubah arah krisis dalam hitungan jam.

