IHSG Rontok Brutal, Pasar Saham Indonesia Dihajar Tiga Pukulan Sekaligus
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jatuh tajam dan menutup perdagangan di level 5.873,37. Koreksi 1,89 persen mematahkan penguatan lima hari berturut-turut. Tekanan global, lonjakan harga minyak, serta evaluasi pasar Indonesia menjadi pemicu aksi jual besar di Bursa Efek Indonesia.
Perdagangan sepanjang hari bergerak dalam tekanan. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.984 sebelum terus melorot hingga menyentuh titik terendah 5.872. Penurunan terjadi hampir tanpa jeda sejak sesi pembukaan sampai penutupan.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 191 saham menguat. Sebanyak 482 saham melemah, sedangkan 116 saham bergerak datar. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp10,5 triliun dengan volume perdagangan lebih dari 22 miliar saham.
Gelombang pelemahan tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa saham Asia ikut bergerak di zona merah setelah ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali meningkat. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko dan beralih menuju instrumen yang dinilai lebih aman.
Harga minyak mentah dunia ikut melonjak lebih dari sembilan persen. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Pelaku pasar mulai menghitung kembali kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Tekanan bertambah setelah S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam status pemantauan. Evaluasi tersebut membuka peluang perubahan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market pada 2027 jika sejumlah aspek pasar belum mengalami perbaikan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai kombinasi sentimen global dan evaluasi tersebut memicu aksi ambil untung investor.
"Ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, kemudian investor melakukan profit taking setelah IHSG naik selama lima hari," kata Alrich, Rabu, 8 Juli 2026.
Ia juga menambahkan status pemantauan dari S&P DJI meningkatkan kehati-hatian investor, terutama investor asing, saat mempertimbangkan penempatan dana di pasar Indonesia.
Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait berakhirnya kesepakatan damai sementara dengan Iran memperbesar kekhawatiran pasar terhadap konflik Timur Tengah.
Situasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia. Harga minyak langsung melonjak dan memperkuat sentimen negatif di pasar saham global.
Selain faktor eksternal, indikator ekonomi domestik ikut menambah tekanan. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia turun menjadi 117,8 pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibanding Mei yang berada di level 120,9.
Penurunan itu menjadi level terendah sejak September 2025. Kondisi tersebut memperlihatkan optimisme masyarakat mulai melambat selama dua bulan berturut-turut.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan indeks dipengaruhi persepsi masyarakat terhadap lapangan kerja, tingkat pendapatan, serta prospek kegiatan usaha.
Perubahan tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati potensi perlambatan konsumsi rumah tangga pada paruh kedua 2026.
Dari sisi sektoral, saham barang baku mengalami tekanan paling besar dengan penurunan sekitar 4,35 persen. Sektor properti turun 2,68 persen. Sektor konsumen nonprimer melemah sekitar 2,49 persen.
Saham kapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG. Penurunan tajam terjadi pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), serta kelompok saham perbankan besar.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ikut memberi tekanan besar terhadap indeks.
Beberapa saham lapis kedua juga mengalami penurunan tajam. Saham PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA), PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND), serta PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) masuk daftar pelemahan terbesar pada perdagangan hari itu.
Dari sisi teknikal, sejumlah analis memperkirakan tekanan masih berlanjut pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Alrich memperkirakan IHSG memiliki area support di level 5.800 dan resistance di kisaran 5.900. Area tersebut menjadi batas penting untuk melihat arah pergerakan indeks berikutnya.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora, memperkirakan IHSG berpotensi bergerak menuju area support 5.843 hingga 5.798. Sementara area resistance berada di sekitar 5.984. "Pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed setelah risalah rapat dirilis," ujar Andhika.
Menurutnya, pelaku pasar masih memilih menunggu kepastian sebelum kembali meningkatkan aktivitas pembelian saham. Andhika merekomendasikan strategi buy on weakness pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Untuk BBCA, area support berada pada kisaran Rp5.550 hingga Rp5.840 per saham. Target resistance diperkirakan berada di rentang Rp6.550 sampai Rp7.175.
Sementara ADRO memiliki area support sekitar Rp2.220 hingga Rp2.240. Area resistance diperkirakan berada pada kisaran Rp2.350 sampai Rp2.400 per saham.
RHB Sekuritas juga melihat tekanan jual masih dominan. IHSG gagal bertahan di atas area Fibonacci sehingga momentum penguatan belum terbentuk.
Selama level support masih mampu dipertahankan, peluang pemulihan tetap terbuka. Jika level tersebut kembali ditembus, tekanan jual diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek.
Perdagangan Kamis besok diperkirakan masih bergerak hati-hati. Investor akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, arah suku bunga Amerika Serikat, serta respons pasar terhadap evaluasi S&P DJI. Kombinasi faktor tersebut masih menjadi penentu arah IHSG dalam beberapa hari mendatang. R-02

