Naik Tipis Hari Ini, Rupiah Belum Lolos dari Bayang-Bayang Dolar AS
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah menguat pada Selasa, 7 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup di Rp17.980 per dolar Amerika Serikat. Penguatan terjadi saat tekanan global masih membayangi pasar keuangan.
Kenaikan tersebut memberi ruang bernapas bagi rupiah. Posisinya tetap berada dekat level Rp18.000 per dolar AS. Angka itu masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Perdagangan pasar spot mencatat penguatan Rp15. Nilainya naik sekitar 0,08 persen dibanding penutupan sebelumnya. Kurs Jisdor juga bergerak naik menjadi Rp17.988 per dolar AS.
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas rupiah. Langkah intervensi dilakukan di pasar domestik dan luar negeri. Upaya itu menjaga keseimbangan permintaan valuta asing.
Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Beberapa mata uang kawasan mencatat kenaikan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut ikut menopang pergerakan rupiah.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar. Nilainya naik sekitar 0,49 persen. Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan sekitar 0,29 persen.
Rupee India juga bergerak positif. Yen Jepang ikut menguat. Peso Filipina dan dolar Singapura mencatat kenaikan terbatas.
Sebagian mata uang Asia bergerak melemah. Dolar Taiwan terkoreksi paling dalam. Yuan China juga turun tipis terhadap dolar AS.
Meski begitu, indeks dolar Amerika Serikat tetap bertahan tinggi. Nilainya berada di kisaran 100,95. Kondisi itu menunjukkan dolar masih cukup kuat.
Pelaku pasar mulai mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Ekspektasi kebijakan yang lebih longgar memberi ruang penguatan mata uang Asia. Rupiah ikut memperoleh sentimen positif.
Penguatan hari ini belum mengubah gambaran besar. Rupiah masih berada dalam tekanan jangka menengah. Pelemahan bertahap sudah berlangsung sejak 2021.
Lembaga keuangan global UBS memandang penguatan tersebut sebagai jeda sementara. Tren pelemahan dinilai belum selesai. Risiko eksternal dan domestik masih cukup besar.
Dalam laporan terbarunya, UBS menilai tekanan rupiah lebih banyak berasal dari kondisi dalam negeri. Neraca eksternal dinilai melemah. Arus modal asing juga terus menurun.
UBS mencatat aliran investasi asing berada pada level terendah hampir dua dekade. Kondisi tersebut memengaruhi kepercayaan investor. Ketidakpastian kebijakan ikut memberi tekanan.
Permintaan komoditas dari China juga melambat. Situasi tersebut mempersempit sumber devisa Indonesia. Dampaknya terasa terhadap keseimbangan transaksi eksternal.
Cadangan devisa Indonesia menunjukkan sedikit perbaikan. Posisinya meningkat menjadi 145,6 miliar dolar Amerika Serikat. Sebelumnya berada pada angka 144,9 miliar dolar AS.
Kenaikan cadangan devisa ditopang oleh penerimaan pajak. Penerimaan jasa juga ikut memperkuat posisi tersebut. Angka itu memberi tambahan ruang untuk menjaga stabilitas pasar.
UBS memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada semester kedua 2026. Kisaran Rp18.500 hingga Rp19.000 per dolar AS masih menjadi proyeksi. Prediksi itu mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi.
Laporan tersebut juga mengulas defisit transaksi berjalan. Nilainya diperkirakan melebar hingga sekitar 1,5 persen terhadap produk domestik bruto. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, kebijakan Federal Reserve masih menjadi perhatian utama. Sikap bank sentral Amerika Serikat sangat memengaruhi arus modal global. Dampaknya langsung terasa pada pasar negara berkembang.
UBS juga menilai Indonesia memerlukan selisih suku bunga lebih tinggi terhadap Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas rupiah. Perhitungan menunjukkan kebutuhan tambahan sekitar 150 basis poin.
Perhatian lain tertuju pada pasar obligasi. Yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun berada di kisaran 7,13 persen. Nilai tersebut masih lebih rendah dibanding SRBI tenor 12 bulan.
Menurut UBS, imbal hasil obligasi belum cukup menarik. Investor diperkirakan menunggu kenaikan yield di atas 7,5 persen. Kondisi itu dinilai memberi kompensasi lebih baik terhadap risiko nilai tukar.
UBS juga menilai stabilitas rupiah memerlukan kebijakan yang konsisten. Disiplin fiskal menjadi salah satu faktor penting. Perbaikan iklim investasi juga dibutuhkan.
"Laju normalisasi imbal hasil obligasi masih berpotensi terhambat perlambatan pertumbuhan ekonomi," tulis UBS dalam laporannya.
Bank Indonesia masih memiliki pekerjaan besar menjaga keseimbangan pasar. Pelaku usaha juga terus memantau arah rupiah. Pergerakan mata uang nasional tetap menjadi penentu berbagai aktivitas ekonomi.
Penguatan rupiah hari ini memberi sinyal positif. Jalan menuju stabilitas penuh masih panjang. Pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia, perkembangan ekonomi domestik, serta keputusan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. R-02

