Rupiah Kembali Tertekan, Dolar Menguat dan Defisit Dagang Tambah Beban Pasar
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Perdagangan awal pekan kembali menghadirkan tekanan bagi rupiah. Mata uang Garuda membuka perdagangan di zona merah pada Senin pagi, 6 Juli 2026. Pelemahan terjadi setelah penguatan pada akhir pekan lalu.
Data perdagangan menunjukkan rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar dibuka di kisaran Rp17.970 hingga mendekati Rp17.993 per dolar AS. Angka tersebut membawa rupiah semakin dekat ke level psikologis Rp18.000.
Pelemahan itu bukan terjadi tanpa sebab. Pasar kembali mengarahkan perhatian kepada pergerakan dolar Amerika. Sentimen global masih menjadi penggerak utama.
Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat. Penguatan terjadi setelah pelaku pasar menanti sejumlah data ekonomi penting. Salah satunya adalah indeks ISM Services Amerika Serikat.
Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai dolar sedang memperoleh momentum baru. "Penguatan dolar membuat ruang gerak rupiah menjadi lebih terbatas," ujarnya.
Meski demikian, situasi global sebenarnya tidak sepenuhnya negatif. Pekan lalu, dolar sempat mengalami koreksi cukup dalam. Pelemahan dipicu melambatnya pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat.
Data nonfarm payrolls berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meredakan peluang kenaikan suku bunga agresif. Harapan terhadap kebijakan yang lebih lunak sempat menguat.
Namun optimisme itu belum cukup mengangkat rupiah. Pasar kini kembali memburu dolar sebagai aset aman. Akibatnya, mata uang berbagai negara ikut melemah.
Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona negatif. Yuan China, yen Jepang, dan won Korea Selatan ikut terkoreksi. Ringgit Malaysia serta peso Filipina mengalami tekanan serupa.
Tekanan juga terjadi pada mata uang negara maju. Euro, poundsterling, dolar Australia, hingga franc Swiss ikut melemah. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan dolar berlangsung cukup luas.
Di dalam negeri, pasar menghadapi tantangan berbeda. Defisit neraca perdagangan menjadi perhatian investor. Kondisi ini mengakhiri tren surplus yang berlangsung bertahun-tahun.
Badan Pusat Statistik mencatat defisit perdagangan mencapai 1,61 miliar dolar Amerika. Angka tersebut terjadi pada Mei 2026. Defisit mengakhiri surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Perubahan itu menimbulkan kekhawatiran baru. Investor mulai mempertanyakan ketahanan sektor eksternal Indonesia. Tekanan terhadap rupiah pun semakin besar.
Ekonom BCA Jennifer Calysta Farrell dan Victor George menilai tekanan ekspor masih berpotensi berlanjut. "Sejumlah faktor dapat mempersempit ruang penguatan rupiah," tulis keduanya.
Mereka menyoroti perlambatan permintaan global. Kebijakan Federal Reserve juga masih menjadi perhatian. Ketidakpastian komoditas ikut menambah risiko.
Program biodiesel B50 juga dinilai berpengaruh. Kebutuhan minyak sawit domestik diperkirakan meningkat. Akibatnya, alokasi ekspor berpotensi berkurang.
Di sisi lain, impor diperkirakan tetap tinggi. Belanja pemerintah masih menjadi pendorong utama. Permintaan barang impor diperkirakan tetap bertahan.
Kombinasi faktor tersebut menciptakan tekanan berlapis. Rupiah menghadapi tantangan dari luar dan dalam negeri. Pasar pun bergerak lebih berhati-hati.
BCA memperkirakan Bank Indonesia masih memiliki ruang kebijakan. Tambahan kenaikan suku bunga dinilai mungkin dilakukan. Langkah itu diarahkan menjaga stabilitas rupiah. "Kebijakan moneter tetap menjadi instrumen penting menjaga kepercayaan pasar," tulis riset BCA.
Pelaku pasar juga menunggu data cadangan devisa Indonesia. Angka tersebut akan menjadi indikator penting. Investor ingin melihat kekuatan pertahanan eksternal Indonesia.
Lukman Leong mengatakan pasar cukup sensitif terhadap data tersebut. "Cadangan devisa akan menjadi salah satu penentu arah perdagangan berikutnya," katanya.
Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050. Pergerakan akan dipengaruhi sentimen global. Faktor domestik juga tetap menentukan.
Bank Indonesia sebelumnya menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen. Kebijakan itu difokuskan menjaga stabilitas ekonomi. Nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama.
Meski tekanan masih terasa, peluang pemulihan belum tertutup. Stabilitas dolar dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah. Perbaikan data domestik juga bisa mengubah arah pasar.
Kini perhatian investor tertuju pada serangkaian data ekonomi. Setiap angka berpotensi menggerakkan pasar keuangan. Rupiah pun kembali menghadapi pekan yang penuh ujian. R-02

