Inflasi AS Jatuh, Rupiah Jadi Paling Kinclong di Asia
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu sore, 15 Juli 2025. Data Bloomberg mencatat apresiasi 0,13 persen ke Rp18.068 per dolar AS. Sementara acuan Jisdor Bank Indonesia berada di Rp18.064 atau naik 0,19 persen.
Pergerakan ini menjadikan rupiah salah satu penguat terbaik di kawasan Asia. Peso Filipina, yuan China, dan ringgit Malaysia turut menguat terbatas. Sebaliknya won Korea Selatan dan baht Thailand justru melemah signifikan.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan ini didorong data AS. Indeks harga konsumen bulanan tercatat turun 0,4 persen pada Juni. Penurunan itu menjadi yang pertama sejak masa pandemi tahun 2020.
"Inflasi inti tahunan melambat jadi 2,6 persen, di bawah ekspektasi 2,8 persen," ujar Lukman. Angka ini meredam kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga The Fed. Peluang pengetatan moneter pada pertemuan Juli menurun drastis.
Sentimen positif lain datang dari keputusan S&P Global Ratings. Lembaga itu mempertahankan peringkat kredit Indonesia BBB dengan pandangan stabil. Status ini menjaga minat investor asing terhadap aset domestik.
Namun ruang penguatan rupiah tak seluas harapan pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Harga minyak mentah dunia ikut naik dan menahan laju rupiah.
Untuk perdagangan Kamis besok, pasar menantikan data inflasi produsen AS. Angka PPI yang juga di bawah perkiraan bisa menambah dukungan. Lukman memproyeksikan rentang pergerakan di Rp18.000 hingga Rp18.100.
Di parlemen, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mulai menagih janji. Gubernur BI Perry Warjiyo pernah menyatakan rupiah akan menguat Juli-Agustus. Targetnya kembali ke rentang asumsi APBN Rp16.200–Rp16.800 per dolar.
"Jika belum tercapai, BI harus jelaskan langkah yang sudah diambil," kata Misbakhun. Selisih kurs yang lebar membebani biaya bahan baku industri impor. Tekanan inflasi barang jadi sulit dihindari jika kondisi berlanjut.
Pemerintah dan BI berkoordinasi menjaga harga BBM subsidi tetap stabil. Langkah ini menahan inflasi namun membebani anggaran negara. Menteri Keuangan melaporkan tambahan belanja hingga Rp132 triliun tahun ini.
Revisi postur APBN naik menjadi Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen. Beban subsidi dan kompensasi energi melonjak akibat harga minyak. Risiko pembengkakan belanja valas masih membayangi keuangan negara.
Perry Warjiyo sebelumnya menjelaskan pelemahan berkarakter musiman. Permintaan valas tinggi terjadi pada April hingga Juni untuk dividen. Pembayaran utang luar negeri juga menyedot pasokan dolar AS.
"Pengalaman menunjukkan Juli dan Agustus biasanya berbalik menguat," ujar Perry. Ia telah melewati berbagai krisis moneter sejak 1998 hingga pandemi. Faktor global seperti perang dan risiko CDS tetap menjadi beban.
Di pasar obligasi, sentimen positif mulai terlihat nyata. Imbal hasil surat utang turun di berbagai tenor waktu. Tenor sepuluh tahun turun 1,8 bps menjadi 7,24 persen.
Bank Indonesia juga sukses lelang SRBI sebesar Rp15 triliun. Minat penawaran mencapai Rp30,66 triliun, sedikit naik dari sebelumnya. Likuiditas domestik tetap terjaga meski arus modal bergejolak.
Penguatan rupiah tidak berarti tekanan telah usai sepenuhnya. Pertumbuhan ekonomi China melambat ke titik terendah tiga tahun terakhir. Ini berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia ke pasar utama.
Kebijakan tarif perdagangan AS masih berpotensi berubah sewaktu-waktu. Ketegangan di Laut China Selatan menambah risiko rantai pasok. Volatilitas nilai tukar tetap menjadi hal yang perlu diwaspadai.
Analis Bloomberg Technoz menyimpulkan kemajuan ini hasil kombinasi faktor. Meredanya sikap hawkish The Fed dan stabilitas kredit S&P berperan besar. Dukungan domestik diperlukan agar penguatan berlanjut berkelanjutan.
Pelaku pasar diimbau tak terlalu cepat optimis berlebihan. Pergerakan harian masih bergantung berita global yang cepat berubah. Stabilitas makroekonomi menjadi kunci daya tahan rupiah ke depan. R-02

