Dua Badai Tropis Kepung Jepang, 120 Penerbangan Dibatalkan dan Risiko Banjir Semakin Meluas
Ilustrasi
JEPANG, SabangMerauke News – Jepang menghadapi situasi darurat bencana setelah dua badai tropis bergerak menuju wilayahnya secara bersamaan. Pemerintah memperingatkan potensi hujan ekstrem, banjir, hingga tanah longsor yang dapat mengancam keselamatan warga. Dampak cuaca buruk itu juga langsung melumpuhkan sektor transportasi udara dengan pembatalan sedikitnya 120 penerbangan, sementara lebih dari satu juta penduduk diminta bersiap mengungsi.
Peringatan darurat dikeluarkan setelah badai tropis Mekkhala dan Higos diperkirakan saling berinteraksi di sekitar wilayah Jepang. Fenomena tersebut meningkatkan risiko cuaca ekstrem yang sulit diprediksi dan berpotensi memperparah dampak bencana di berbagai daerah.
Badai Mekkhala, yang sebelumnya berkategori topan, memang telah melemah menjadi badai tropis. Namun kekuatannya masih cukup besar dengan kecepatan angin mencapai 108 kilometer per jam. Hujan deras terus mengguyur wilayah Jepang bagian selatan dan barat sejak beberapa hari terakhir.
Badan meteorologi memperkirakan Mekkhala akan melintasi kawasan Kyushu, Shikoku, hingga Honshu sepanjang akhir pekan. Jalur tersebut mencakup sejumlah kota besar seperti Osaka, Nagoya, dan Tokyo, sehingga jutaan penduduk berpotensi merasakan dampak cuaca ekstrem.
Pada saat yang sama, badai tropis Higos bergerak di kawasan Samudra Pasifik menuju Jepang. Kedua sistem cuaca tersebut diperkirakan dapat memicu Fujiwhara effect, yaitu fenomena ketika dua badai saling memengaruhi sehingga arah lintasan maupun kekuatan badai menjadi lebih sulit diperkirakan.
Pemerintah Jepang pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hujan dengan intensitas sangat tinggi.
Juru Bicara Utama Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan curah hujan berpotensi mencapai tingkat yang sangat berbahaya.
"Ada risiko hujan yang sangat lebat hingga mencapai tingkat peringatan," ujar Kihara, dikutip dari CNA, Sabtu (27/6/2026).
Hingga saat ini, pemerintah menerima laporan sedikitnya empat orang menjadi korban, terdiri dari satu orang mengalami luka serius dan tiga lainnya mengalami luka ringan akibat cuaca buruk tersebut.
Selain korban luka, banjir juga dilaporkan merendam puluhan bangunan, terutama di Prefektur Kagoshima yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.
"Kami menyampaikan simpati yang tulus kepada semua pihak yang terdampak bencana ini, dan kami akan terus memperoleh gambaran yang akurat mengenai situasi kerusakan," kata Kihara.
120 Penerbangan Langsung Dibatalkan
Cuaca ekstrem turut melumpuhkan aktivitas penerbangan di Jepang. Dua maskapai besar, Japan Airlines dan All Nippon Airways, membatalkan total 120 penerbangan menuju maupun dari wilayah Okinawa dan Kagoshima demi menjaga keselamatan penumpang.
Pembatalan tersebut diperkirakan masih dapat bertambah apabila kondisi cuaca terus memburuk dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mengungkapkan pemerintah daerah telah mengeluarkan imbauan evakuasi kepada lebih dari satu juta warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor.
Wilayah Kyoto dan Osaka menjadi daerah yang terus dipantau karena permukaan air sungai dilaporkan mengalami peningkatan signifikan. Warga diminta segera berpindah ke lokasi yang lebih aman apabila menerima instruksi evakuasi.
Industri Ikut Terdampak
Dampak badai tidak hanya dirasakan sektor transportasi, tetapi juga dunia industri.
Produsen otomotif Toyota menghentikan sementara operasional salah satu pabriknya di Kyushu setelah akses jalan menuju fasilitas tersebut ditutup akibat banjir dan longsor.
Sementara itu, Nissan juga mengumumkan rencana penghentian sementara sejumlah lini produksinya sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca yang terus memburuk.
Di sektor pertahanan, militer Jepang turut membatalkan penerbangan perdana pesawat angkut V-22 Osprey menuju Pulau Miyako yang sebelumnya dijadwalkan dalam rangka latihan gabungan dengan Amerika Serikat.
Taiwan Juga Diterjang Cuaca Ekstrem
Tidak hanya Jepang, badai Mekkhala juga membawa dampak besar ke Taiwan.
Lebih dari 1.600 warga dievakuasi dari rumah mereka akibat banjir dan ancaman tanah longsor. Pemerintah setempat juga menutup sekolah serta perkantoran di sejumlah wilayah demi mengurangi risiko korban.
Bencana di Taiwan telah menyebabkan sedikitnya dua orang meninggal dunia. Seorang perempuan berusia 73 tahun dilaporkan tewas setelah terseret arus banjir di Kota Kaohsiung. Korban lainnya, perempuan berusia 49 tahun, ditemukan meninggal dunia di dalam mobil yang terendam banjir di Kabupaten Hsinchu.
Selain itu, seorang pria berusia 65 tahun masih dinyatakan hilang setelah pergi memeriksa lahan pertaniannya di Hsinchu.
Otoritas Taiwan juga memperingatkan potensi aliran puing berbahaya di kawasan pegunungan Hualien, Kaohsiung, dan Pingtung. Badan meteorologi setempat mencatat curah hujan di beberapa wilayah telah mencapai 88 sentimeter sejak Kamis.
Dengan dua badai tropis yang masih aktif dan berpotensi saling berinteraksi, pemerintah Jepang terus mengimbau masyarakat agar mengikuti informasi resmi, menghindari wilayah rawan bencana, serta segera melakukan evakuasi apabila diminta oleh otoritas setempat. Situasi cuaca diperkirakan masih berpotensi memburuk hingga beberapa hari ke depan. (R-05)

