Tiga Bocah Silver di Pelalawan Mengaku Takut Pulang Jika Tidak Bawa Uang Rp500 Ribu
Ilustrasi dan infografis polisi mengamankan 3 anak manusia silver di Simpang Ramayana, Pangkalan Kerinci. Foto: SM News/Created by AI
RIAU, SabangMerauke News - Dugaan eksploitasi anak mengguncang Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Tiga anak yang bekerja sebagai manusia silver ditemukan mengemis di lampu merah kawasan Ramayana. Pengakuan salah satu anak kemudian mengungkap cerita yang jauh lebih memilukan.
Peristiwa ini bermula sekitar pukul 21.30 WIB. Warga melaporkan adanya keributan yang melibatkan tiga anak manusia silver di persimpangan Ramayana, Pangkalan Kerinci. Ketiganya terlihat saling berdebat di tengah aktivitas mengamen dan meminta uang dari pengguna jalan. Kondisi tersebut membuat warga curiga lalu menghubungi kepolisian.
Kapolsek Pangkalan Kerinci, AKP Shilton, bersama anggota langsung menuju lokasi. Saat tiba di tempat kejadian, petugas menemukan tiga anak yang masih berada di sekitar lampu merah. Mereka terdiri dari dua anak laki-laki berinisial MH (11) dan RA (9), serta seorang anak perempuan berinisial PW (9). Ketiganya kemudian dibawa ke Polsek Pangkalan Kerinci untuk dimintai keterangan.
Di ruang pemeriksaan, cerita yang muncul membuat suasana berubah. PW mengaku ketakutan untuk pulang ke rumah. Anak perempuan itu menyampaikan kekhawatirannya setelah tidak memperoleh uang sesuai target yang diminta.
Shilton mengatakan pengakuan tersebut menjadi titik awal pengembangan kasus. Polisi lalu menggali informasi lebih dalam terkait aktivitas ketiga anak tersebut selama berada di jalanan. Keterangan yang diperoleh mengarah kepada dugaan eksploitasi anak. Pemeriksaan pun diperluas kepada keluarga mereka. "Mereka ribut karena salah satu anak mengaku takut pulang," kata Shilton, Sabtu, 13 Juni 2026.
Informasi tersebut membuat polisi memanggil orang tua para anak ke kantor polisi. Dari hasil pemeriksaan awal terungkap bahwa dua anak laki-laki merupakan anak kandung pasangan MM dan SM. Sementara seorang anak perempuan berinisial PW merupakan cucu dari pasangan tersebut. Hubungan keluarga itu membuat penyidik semakin mendalami dugaan eksploitasi yang terjadi.
Menurut polisi, aktivitas manusia silver yang dijalani ketiga anak tersebut berlangsung di sejumlah titik keramaian. Mereka berdiri di bawah terik matahari maupun malam hari dengan tubuh dicat warna perak. Aktivitas itu dilakukan untuk memperoleh uang dari pengendara yang melintas. "Untuk terlapornya, orang tua korban berinisial MM dan SM," ujar Shilton.
Kasus ini segera menjadi perhatian aparat penegak hukum di Pelalawan. Penyidik berusaha memastikan apakah terdapat unsur pemaksaan dalam aktivitas yang dijalani anak-anak tersebut. Setiap keterangan diperiksa secara rinci. Polisi juga mengumpulkan informasi tambahan dari lingkungan sekitar.
Bagi sebagian pengguna jalan, keberadaan manusia silver mungkin sudah menjadi pemandangan biasa. Akan tetapi, di balik tubuh berwarna perak itu terkadang tersimpan cerita yang tidak terlihat dari kejauhan. Kisah tiga anak di Pangkalan Kerinci menjadi contoh bagaimana kehidupan jalanan dapat menyimpan persoalan yang lebih kompleks.
Selain fokus pada proses hukum, polisi juga memberi perhatian kepada kondisi psikologis para korban. Ketiga anak tersebut mendapat pendampingan khusus untuk mengurangi tekanan mental setelah mengalami peristiwa yang mereka hadapi. Pendekatan ini dilakukan agar anak-anak dapat merasa lebih aman saat memberikan keterangan.
Saat ini proses trauma healing terus berjalan. Pendampingan dilakukan agar kondisi emosional anak-anak berangsur membaik. Polisi ingin memastikan setiap anak memperoleh perlindungan selama proses penyelidikan berlangsung. Langkah tersebut dinilai penting mengingat usia mereka masih sangat muda.
Shilton menjelaskan penyelidikan masih berlangsung hingga saat ini. Penyidik masih memeriksa berbagai keterangan dan fakta yang ditemukan selama proses pendalaman kasus. Fokus utama berada pada dugaan eksploitasi anak yang melibatkan keluarga sendiri.
Polisi belum mengambil kesimpulan akhir sebelum seluruh fakta terkumpul. "Masih kami lakukan pemeriksaan mendalam," ujar AKP Shilton.
Kasus ini kembali mengingatkan tentang pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak di ruang publik. Anak-anak seharusnya memperoleh kesempatan tumbuh, belajar, dan bermain dalam lingkungan yang aman. Kehidupan jalanan membawa berbagai risiko yang dapat memengaruhi masa depan mereka.
Di Pelalawan, cerita tersebut bermula dari sebuah keributan kecil di lampu merah. Tidak ada yang menyangka insiden sederhana itu membuka dugaan praktik eksploitasi yang melibatkan anak dan cucu dalam satu keluarga. Dari suara tangisan seorang bocah perempuan, aparat akhirnya menemukan fakta yang lebih besar. R-02

