Rumah Tergadai, Ibu Korban Penusukan Sujud di Baleho Bobby, Kisahnya Bikin Sumut Gempar
Ilustrasi dan infografis peristiwa orang tua sujud di depan baleho Gubernur Sumatera Utara. Foto: SM News/Created by AI
SUMUT, SabangMerauke News — Video seorang ibu yang bersujud di depan baliho Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mendadak viral di media sosial. Sang ibu setelah memohon bantuan biaya pengobatan anaknya yang mencapai Rp147 juta.
Peristiwa itu terjadi di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Kota Medan. Dalam rekaman yang beredar luas, sang ibu bersama suaminya tampak menangis sambil memohon pertolongan.
Suasana dalam video terasa pilu. Tidak ada teriakan atau kemarahan. Yang terdengar hanya suara seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan anaknya. "Pak bantu kami, anak saya terbaring di rumah sakit. Biayanya terlalu besar. Rumah pun sudah saya gadai," ucap sang ibu dalam video yang viral.
Pasangan suami istri itu diketahui berasal dari keluarga sederhana. Sang ibu mengaku suaminya bekerja sebagai nelayan. Mereka datang ke kantor gubernur membawa harapan terakhir. Setelah berdiri sambil menangis, keduanya berjalan menuju baliho bergambar Bobby Nasution dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya.
Di hadapan baliho tersebut, sang ibu kemudian bersujud. Momen itu membuat banyak warganet tersentuh. "Tolong Pak Bobby. Saya seorang ibu yang memohon. Tolong anak saya," katanya sambil menangis.
Di balik video yang mengaduk emosi itu, ternyata ada rangkaian peristiwa panjang yang dialami keluarga pasien. Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Faisal Hasrimy, menjelaskan pasien awalnya dirawat di RS Pertamina Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, pada Minggu, 31 Mei 2026.
Pasien datang dengan kondisi mengalami luka tusukan akibat benda tajam. Tim medis segera memberikan penanganan darurat. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyimpulkan pasien membutuhkan tindakan oleh spesialis bedah toraks kardiovaskular. Penanganan tersebut tidak tersedia di rumah sakit awal.
Karena alasan itu, pasien disarankan menjalani perawatan lanjutan di Kota Medan. Di titik inilah persoalan mulai berkembang. Keluarga pasien kemudian memilih melanjutkan pengobatan di RS Mitra Medika Premiere Medan.
Pilihan tersebut ternyata membawa konsekuensi besar. Rumah sakit yang dipilih tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Akibatnya, seluruh biaya pengobatan menjadi tanggungan keluarga pasien.
Menurut Faisal, keluarga sebenarnya sudah menerima penjelasan sejak awal. Mereka juga mengetahui estimasi biaya tindakan medis yang cukup besar. "Sebelum operasi dilakukan, keluarga telah menandatangani persetujuan tindakan medis dengan estimasi biaya sekitar Rp147 juta," kata Faisal Hasrimy.
Hari demi hari berlalu. Perawatan terus berjalan. Tagihan rumah sakit juga terus bertambah. Beban itu akhirnya terasa sangat berat bagi keluarga pasien. Mereka mengaku tidak lagi memiliki sumber dana.
Rumah yang menjadi tempat berteduh keluarga bahkan telah digadaikan. Langkah tersebut dilakukan demi membayar biaya pengobatan anak mereka. Meski sudah mengorbankan aset keluarga, jumlah yang harus dibayar masih sangat besar.
Kondisi itulah yang kemudian mendorong pasangan tersebut mencari bantuan ke Kantor Gubernur Sumatera Utara. Setelah video bersujud itu viral, Dinas Kesehatan Sumatera Utara langsung bergerak melakukan penelusuran. Tim kesehatan turun ke lapangan. Komunikasi dilakukan dengan rumah sakit tempat pasien dirawat.
Faisal mengatakan upaya tersebut bertujuan mencari jalan keluar agar beban keluarga pasien dapat berkurang. Dinas Kesehatan Sumut kemudian berkoordinasi dengan Direktur RS Pertamina Pangkalan Brandan dan manajemen RS Mitra Medika Premiere Medan.
Hasil komunikasi tersebut menghasilkan kabar yang sedikit melegakan. Rumah sakit memberikan potongan biaya kepada keluarga pasien. "Tagihan awal sebesar Rp147 juta. Setelah komunikasi dilakukan, jumlahnya berkurang menjadi Rp129,574 juta," ujar Faisal.
Potongan itu memang belum menghapus seluruh beban. Akan tetapi, jumlah yang harus dibayar menjadi lebih ringan. Keluarga pasien sebelumnya juga telah menyetor dana sebesar Rp45 juta. Dengan demikian, sisa kewajiban pembayaran turun menjadi Rp 84,574 juta.
Angka itu masih sangat besar bagi keluarga nelayan. Meski begitu, setidaknya ada pengurangan yang dapat membantu meringankan tekanan ekonomi mereka. Tidak hanya memberi keringanan biaya. Rumah sakit juga memberikan tambahan waktu pembayaran. Batas pelunasan diperpanjang hingga Selasa, 10 Juni 2026.
Langkah tersebut memberi ruang bagi keluarga untuk mencari solusi lanjutan. "Rumah sakit memberi waktu pembayaran sampai 10 Juni 2026. Kami masih terus mencari solusi agar beban biaya semakin berkurang," kata Faisal.
Kasus ini kemudian menjadi perhatian luas masyarakat Sumatera Utara. Banyak warga mempertanyakan mengapa biaya pengobatan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Sebagian lainnya menyoroti pentingnya pemanfaatan fasilitas kesehatan yang terhubung dengan BPJS Kesehatan.
Menanggapi hal itu, Faisal mengingatkan masyarakat agar memahami mekanisme layanan kesehatan yang tersedia. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara saat ini memiliki program Universal Health Coverage (UHC) serta Program Berobat Gratis Sumut Berkah.
Program tersebut memungkinkan warga memperoleh layanan kesehatan tanpa biaya tambahan di fasilitas yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Menurut Faisal, keluarga pasien juga telah mendapatkan penjelasan terkait mekanisme program tersebut.
"Dinkes Sumut sudah memberikan edukasi mengenai layanan UHC dan Probis Sumut Berkah agar masyarakat tidak terbebani biaya pengobatan," ujarnya.
Kasus yang viral ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang tagihan rumah sakit. Di baliknya ada kisah seorang ibu yang berusaha mempertahankan harapan. Ada keluarga sederhana yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi.
Ada pula pelajaran penting tentang akses layanan kesehatan dan pentingnya memahami fasilitas yang tersedia. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, satu adegan sederhana berhasil menyentuh jutaan hati.
Seorang ibu bersujud. Seorang ayah berdiri menemani. Seorang anak berjuang di ruang perawatan. Dan di antara tangis serta harapan itu, publik menunggu kabar baik bagi keluarga yang sedang berjuang menyelamatkan buah hati mereka. R-02

