Bobby Nasution Buka Suara Soal Kompensasi Blackout Sumatera, PLN Bakal Ganti Rugi?
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, menerima audiensi GM PLN UID Wilayah Sumut di Ruang Kerjanya, Selasa (26/5/2026). (sumber: Diskominfo Sumut)
SUMUT, SabangMerauke News - Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, akhirnya buka suara soal tuntutan kompensasi PT PLN usai blackout Sumatera selama lebih dari 20 jam. Pemadaman listrik massal itu membuat jutaan warga Sumatera Utara kelimpungan sejak Jumat, 22 Mei 2026 malam. UMKM tumbang, jaringan internet semrawut, warung kopi gelap, sementara charger ponsel berubah menjadi barang rebutan.
Bobby menyampaikan respons saat menghadiri kegiatan di Lapangan Merdeka, Binjai, Rabu, 27 Mei 2026. Ia mengaku sudah bertemu PLN untuk membahas insiden listrik padam massal tersebut. Bobby meminta agar blackout besar seperti kemarin tidak kembali muncul tahun depan.
“Kemarin sudah minta ke PLN kalau bisa jangan lagilah,” ujar Bobby Nasution. Kalimat pendek itu langsung menyebar cepat di media sosial warga Sumatera Utara. Banyak warga merasa ucapan itu terdengar sederhana, padahal dampak blackout kemarin terasa seperti hidup masuk mode darurat.
Listrik padam serentak terjadi Jumat, 22 Mei 2026, pukul 18.44 WIB di sejumlah wilayah Sumatera. Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, hingga Riau ikut terkena dampaknya. Sebagian kawasan bahkan baru kembali menyala setelah lebih dari 20 jam.
Di tengah panas malam dan sinyal internet yang menghilang, warga mulai mencari colokan seperti berburu harta karun. Minimarket penuh dengan antrean warga yang numpang mengisi daya ponsel. Sementara pelaku usaha kecil cuma bisa duduk memandangi kulkas dan mesin kopi mati total.
Fadli, karyawan coffee shop di Jalan Brigjen Katamso, Medan, mengaku usahanya langsung lumpuh. Mesin kopi mati membuat pelanggan batal datang sejak malam blackout berlangsung. Warung kopi mendadak berubah menjadi tempat nongkrong tanpa kopi.
“Pelanggan nelpon buka enggak, kami bilang tutup karena mesin kopi mati,” kata Fadli. Ia menyebut tempat kerjanya tidak memiliki genset cadangan saat listrik padam. Akibatnya, penjualan harian langsung ambruk dalam semalam.
Tak cuma warung kopi, banyak UMKM makanan juga kelabakan menyelamatkan stok dagangan beku. Es krim mencair, bahan makanan rusak, minuman dingin berubah hangat sebelum sempat terjual. Sebagian pedagang memilih menutup toko lebih cepat karena kondisi makin kacau.
Di tengah kekacauan itu, desakan kompensasi terhadap PLN mulai bermunculan dari berbagai kelompok masyarakat. Lembaga Bantuan Hukum Medan menjadi salah satu yang paling keras menyuarakan tuntutan tersebut. LBH Medan menilai pelanggan memiliki hak untuk mendapatkan ganti rugi akibat buruknya layanan kelistrikan.
Direktur LBH Medan, Irvan Saputra, menyebut aturan hukum sudah sangat jelas mengatur hak konsumen listrik. Ia menyinggung Undang-Undang Perlindungan Konsumen serta aturan ketenagalistrikan nasional. Menurutnya, pelanggan tidak semestinya menanggung kerugian sendirian.
“Konsumen berhak mendapat kenyamanan, keamanan, serta pelayanan listrik yang baik,” ujar Irvan Saputra, Selasa, 26 Mei 2026. Ia menilai blackout panjang menunjukkan mutu pelayanan listrik sedang bermasalah. Kondisi itu otomatis memunculkan kewajiban kompensasi terhadap pelanggan terdampak.
Irvan juga menyoroti Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2019 terkait mutu pelayanan PLN. Aturan itu mengatur kompensasi ketika pelayanan kelistrikan tidak berjalan normal. Blackout lebih dari 20 jam dinilai masuk kategori gangguan serius terhadap pelanggan.
“PLN wajib memberi kompensasi atas buruknya mutu pelayanan kelistrikan,” kata Irvan lagi. Ia menyebut jutaan pelanggan mengalami kerugian ekonomi akibat pemadaman massal tersebut. Dampaknya terasa mulai dari rumah tangga kecil hingga pelaku usaha besar.
Data sementara mencatat sekitar 8,3 juta pelanggan terdampak blackout di sejumlah wilayah Sumatera. Angka itu membuat blackout kemarin terasa seperti film bencana versi listrik nasional. Bedanya, tidak ada suara ledakan, hanya kipas mati dan sinyal menghilang perlahan.
Respons Bobby soal kompensasi akhirnya ikut menjadi sorotan publik. Ia mengaku pembahasan kompensasi memang belum dilakukan saat bertemu PLN sebelumnya. Namun, Bobby berjanji akan membicarakan persoalan tersebut dalam pertemuan lanjutan.
“Terkait kompensasi memang belum dibicarakan. Nanti coba dibahas lagi dengan PLN,” ujar Bobby. Pernyataan itu memunculkan harapan baru bagi warga terdampak blackout panjang. Meski begitu, sebagian warga masih menunggu langkah nyata, bukan sekadar janji pertemuan.
Sementara itu, PLN menyebut blackout dipicu gangguan transmisi 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Jambi. Gangguan tersebut disebut terjadi akibat cuaca buruk di wilayah transmisi listrik utama. Efeknya langsung menjalar ke sejumlah provinsi di Sumatera.
Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sumatera Utara, Darma Saputra, meminta maaf atas insiden tersebut. PLN mengaku langsung bergerak melakukan pemulihan bertahap setelah gangguan ditemukan. Proses normalisasi dilakukan sambil menjaga keamanan sistem kelistrikan regional.
“PLN terus melakukan percepatan pemulihan agar pasokan segera normal,” kata Darma Saputra. Ia meminta masyarakat memantau informasi melalui aplikasi PLN Mobile dan kanal resmi perusahaan. Namun, bagi warga, notifikasi aplikasi terasa kurang berguna saat baterai ponsel tinggal satu garis.
Blackout Sumatera kemarin akhirnya meninggalkan cerita panjang di tengah masyarakat. Ada warga tidur kepanasan tanpa kipas, ada mahasiswa stres tugas kuliah tertunda. Sebagian warga bahkan mengaku baru sadar pentingnya power bank setelah listrik benar-benar menghilang.
Kini sorotan publik tertuju pada langkah PLN setelah badai blackout mulai mereda. Warga menunggu kepastian kompensasi sambil berharap listrik tetap stabil menjelang Idul Adha. Sebab satu malam tanpa listrik saja sudah cukup membuat Sumatera terasa seperti kembali ke tahun 1990-an. R-02

