Pemerintah Kejar Produksi Migas Rokan, Strategi Baru Hadapi Pelemahan Rupiah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempercepat peningkatan produksi migas dalam negeri. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempercepat peningkatan produksi migas dalam negeri. Langkah tersebut disiapkan untuk meredam dampak pelemahan rupiah terhadap sektor energi. Ketergantungan impor minyak masih menjadi tantangan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan peningkatan produksi terus diupayakan saat ini. Pemerintah mendorong penerapan teknologi migas non konvensional pada wilayah berpotensi besar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pasokan energi dari sumber domestik.
“Kalau produksi dalam negeri meningkat, impor berkurang dan tidak terpengaruh fluktuasi mata uang,” kata Yuliot. Menurutnya, peningkatan produksi akan memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan kebutuhan impor. Strategi tersebut juga membantu mengurangi tekanan biaya akibat kurs dolar Amerika Serikat.
Wilayah Kerja Migas Rokan disebut memiliki potensi besar untuk pengembangan teknologi tersebut. Saat ini, Pertamina Hulu Rokan masih melakukan kajian awal terkait implementasinya. Hasil kajian akan menjadi dasar pengembangan migas non konvensional pada kawasan tersebut.
Pemerintah juga menerima sejumlah tawaran teknologi dari berbagai pihak untuk pengembangan migas. Namun penerapannya masih menunggu penyelesaian kerangka regulasi yang sedang disusun. Kementerian ESDM bersama SKK Migas sedang mempercepat proses pembahasan aturan pendukung.
“Kalau bisa akhir Juni kerangka regulasinya selesai dan awal Juli diimplementasikan,” ujar Yuliot. Pemerintah menargetkan pengembangan tersebut berjalan secepat mungkin demi meningkatkan produksi. Seluruh pihak terkait saat ini berpacu menyelesaikan tahapan regulasi dan teknis.
Yuliot mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat mengembangkan sumber daya migas non konvensional. Produksi energi negara tersebut meningkat signifikan setelah teknologi baru diterapkan secara luas. Kondisi itu kemudian mendorong Amerika Serikat menjadi eksportir migas dalam beberapa tahun berikutnya.(R-04)

