Defisit APBN Tembus Rp180,4 Triliun, Menkeu Purbaya Malah Sebut Fiskal Indonesia Sangat Aman
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga hingga Mei 2026. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga hingga Mei 2026. Defisit APBN tercatat Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap produk domestik bruto. Angka tersebut dinilai masih berada dalam batas aman sesuai target pengelolaan anggaran.
Purbaya menyebut perbaikan penerimaan pajak menjadi penopang utama stabilitas fiskal nasional saat ini. “Defisitnya sampai dengan Mei 2026 sebesar 0,70 persen dan terkendali,” ujarnya. Kinerja perpajakan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.
Pendapatan negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen. Realisasi tersebut berasal dari pajak, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak. Sementara belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4 persen.
Penerimaan pajak tercatat Rp834,4 triliun atau meningkat 22,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kepabeanan dan cukai mencapai Rp123,8 triliun dengan pertumbuhan sebesar 0,7 persen. PNBP menyumbang Rp226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen sepanjang periode tersebut.
“Perbaikan paling besar terjadi pada pajak dibandingkan kondisi tahun lalu,” kata Purbaya. Menurutnya, penerimaan pajak berpotensi tumbuh lebih tinggi hingga akhir tahun berjalan. Pemerintah terus mendorong reformasi perpajakan guna memperkuat pendapatan negara.
Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun. Transfer ke daerah tercatat mencapai Rp306,1 triliun sepanjang lima bulan pertama. Akselerasi belanja dilakukan guna mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Belanja negara tetap tumbuh 34,4 persen dan sesuai target,” ujar Purbaya. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara percepatan belanja dan kesehatan fiskal. Langkah tersebut dinilai penting menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Purbaya juga menyoroti surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun hingga Mei 2026. Indikator tersebut menunjukkan kemampuan fiskal membiayai kewajiban tanpa tekanan berlebihan. Surplus primer menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pengelolaan APBN.
“Jangan dibilang ugal-ugalan karena pajaknya naik dan defisitnya terjaga,” tegas Purbaya. Ia menilai berbagai indikator fiskal menunjukkan kondisi anggaran negara tetap sehat. Pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat terus dipertahankan sepanjang tahun.(R-04)

