Operasi Senyap Bareskrim di Terminal BRPS, Kurir 5 Kg Sabu Tak Berkutik
Ilustrasi dan infografis penangkapan kuris sabu jaringan Malaysia di Terminal BPRS Pekanbaru. Foto: SM News/Created by AI
JAKARTA, SabangMerauke News - Upaya penyelundupan sabu seberat lima kilogram berhasil digagalkan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri di Kota Pekanbaru, Riau. Seorang kurir berinisial Abdul Kodir, 45 tahun, diamankan dalam operasi tersebut. Penangkapan berlangsung di Terminal AKAP Bandar Raya Payung Sekaki (BRPS).
Kasus ini bermula dari informasi yang diterima penyidik beberapa waktu lalu. Informasi tersebut menyebut adanya pergerakan sabu dari Malaysia menuju wilayah Riau. Jalur yang digunakan diduga melewati Dumai sebelum bergerak ke Pekanbaru. Dari sana, barang haram itu direncanakan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Jawa.
Informasi tersebut tidak langsung ditelan mentah-mentah. Tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mulai menyusun potongan informasi. Setiap petunjuk dipelajari secara rinci. Pengamatan lapangan kemudian dilakukan di sejumlah titik yang dicurigai.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengatakan penyelidikan berawal dari laporan masyarakat. Informasi itu mengarah pada aktivitas jaringan lintas daerah yang cukup aktif. Dugaan sementara menunjukkan adanya hubungan antara pelaku di Riau dan Jawa Timur. Tim kemudian bergerak melakukan pendalaman.
"Bareskrim Polri memperoleh informasi mengenai adanya penyelundupan narkotika jenis sabu dari Malaysia ke wilayah Dumai dan Pekanbaru yang dikendalikan jaringan lintas provinsi Riau-Jawa Timur," kata Eko Hadi Santoso di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Pendalaman dilakukan Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Tim tersebut dipimpin Kombes Handik Zusen. Selama beberapa waktu, petugas melakukan pengamatan tertutup di sekitar terminal. Aktivitas penumpang dan kendaraan menjadi perhatian utama.
Di tengah keramaian terminal, petugas melihat seorang pria membawa tas berwarna biru. Gerak-geriknya dianggap berbeda dari penumpang lain. Pria tersebut terlihat berhati-hati saat keluar dari area terminal. Pengamatan kemudian dilakukan lebih dekat.
"Tim kemudian melakukan pengamatan dan mencurigai seorang laki-laki yang membawa tas keluar dari area terminal," ujar Eko Hadi.
Kecurigaan itu menjadi awal pengungkapan kasus besar. Petugas langsung menghentikan pria tersebut untuk pemeriksaan. Tas biru yang dibawanya kemudian dibuka di hadapan petugas. Hasilnya membuat penyidik menemukan barang bukti dalam jumlah besar.
Di dalam tas merek Ferrari berwarna biru, petugas menemukan lima bungkus sabu. Berat keseluruhannya mencapai sekitar lima kilogram. Barang haram itu dibungkus rapi untuk mengelabui pemeriksaan. Nilainya diperkirakan mencapai Rp9 miliar.
"Selanjutnya dilakukan penangkapan dan penggeledahan terhadap tersangka. Dari hasil penggeledahan ditemukan lima bungkus sabu dengan berat sekitar lima kilogram," jelas Eko Hadi.
Pria yang diamankan diketahui berinisial Abduk Kodir (45 tahun). Dalam jaringan tersebut, ia diduga berperan sebagai kurir. Tugasnya membawa sabu hingga sampai ke tangan penerima berikutnya.
Saat diperiksa, Kodir mulai membuka cerita. Ia mengaku menerima perintah dari seseorang berinisial ARI. Nama tersebut kini masuk daftar pencarian orang. Penyidik meyakini ARI memiliki peran penting dalam jaringan tersebut.
Menurut pengakuan tersangka, pekerjaan itu dilakukan karena iming-iming bayaran besar. Setiap bungkus sabu yang berhasil diantar dijanjikan upah Rp30 juta. Jika seluruh paket sampai ke tujuan, total bayaran mencapai Rp150 juta. Nilai itu jauh lebih besar dibanding penghasilan pekerjaan biasa.
"Tersangka mengaku dijanjikan upah sebesar Rp30 juta untuk setiap bungkus yang berhasil diantarkan sehingga total upah mencapai Rp150 juta," kata Eko Hadi.
Tidak hanya itu, tersangka juga telah menerima uang muka. Dana tersebut digunakan untuk biaya perjalanan dari Surabaya menuju Pekanbaru hingga Dumai. Skema itu memperlihatkan jaringan yang bekerja secara terorganisir. Setiap pergerakan telah dirancang sejak awal.
Meski demikian, perjalanan narkoba tersebut berakhir lebih cepat. Petugas berhasil menghentikan pengiriman sebelum sabu mencapai Jawa Timur. Jalur distribusi yang telah disiapkan pun terputus di Pekanbaru. Pengungkapan itu sekaligus membuka tabir jaringan yang lebih luas.
Setelah penangkapan, penyidik tidak berhenti pada satu tersangka. Pengembangan dilakukan menggunakan metode controlled delivery. Langkah tersebut bertujuan melacak penerima berikutnya dalam jaringan. Fokus pengembangan diarahkan ke Terminal Purabaya, Sidoarjo.
Di lapangan, situasi tidak mendukung pelaksanaan strategi tersebut secara maksimal. Penyidik kemudian mengalihkan fokus pada pendalaman jaringan. Berbagai informasi terus dikumpulkan dari hasil pemeriksaan tersangka. Nama-nama lain mulai bermunculan dalam penyelidikan.
Saat ini polisi masih memburu tiga orang yang telah masuk daftar buronan. Mereka berinisial ARI, Dayat, dan Bayu. Ketiganya diduga memiliki keterkaitan langsung dengan pengiriman sabu tersebut. Tim gabungan masih melakukan pencarian di sejumlah wilayah.
Bagi penyidik, pengungkapan ini bukan sekadar soal barang bukti. Lima kilogram sabu yang berhasil disita memiliki dampak besar. Nilai ekonominya mencapai miliaran rupiah. Dampak sosialnya jauh lebih besar dibanding angka tersebut.
Bareskrim Polri memperkirakan penyitaan sabu tersebut telah menyelamatkan sekitar 25 ribu jiwa. Angka itu dihitung berdasarkan potensi pengguna yang dapat terpapar narkotika. Semakin banyak sabu beredar, semakin besar pula risiko kerusakan sosial yang ditimbulkan. Karena itu, pengungkapan jaringan seperti ini menjadi sangat penting.
Kini Kodir menjalani pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Barang bukti lima kilogram sabu juga telah diamankan. Sementara itu, perburuan terhadap para buronan terus berlangsung. Dari sebuah tas biru di terminal Pekanbaru, terbuka jalur gelap narkoba lintas negara yang nyaris mengalir mulus menuju Pulau Jawa. R-02

