8,4 Kg Sabu Lolos dari Medan, Tumbang di Bandara Silangit Saat Mau Terbang ke Kalimantan
Polisi menangkap tersangka penyelundupan 8,4 kg sabu dan cartridge pod berisi narkotika di Bandara Internasional Sisingamangaraja XII, Tapanuli Utara, Kamis, 4 Juni 2026. (sumber: Polres Taput)
SUMUT, SabangMerauke News - Bandara Silangit terlihat seperti biasa pada Kamis pagi, 4 Juni 2026. Penumpang sibuk menyeret koper, petugas memeriksa bagasi, dan jadwal penerbangan berjalan normal. Tidak ada yang menyangka, dari sebuah tas yang tampak biasa, petugas justru menemukan sabu dalam jumlah besar.
Cerita ini bermula dari pemeriksaan acak di area bagasi Bandara Internasional Sisingamangaraja XII Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara. Saat itu petugas merasa ada yang janggal dari barang bawaan seorang penumpang. Kecurigaan tersebut tidak datang tanpa alasan. Setelah tas dibuka, isinya di dalamnya langsung membuat suasana berubah tegang.
Pria itu diketahui berinisial RAS alias Adul, 24 tahun, warga Kota Sibolga. Dari dalam tasnya ditemukan sabu seberat 4.265 gram. Petugas juga menemukan 99 cartridge vape merek Batman yang diduga berisi cairan narkotika. Sejak detik itu, kasus yang awalnya terlihat sederhana berubah menjadi pengungkapan besar.
Kasi Humas Polres Tapanuli Utara, Aiptu Walpon Baringbing, mengatakan temuan tersebut terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Petugas bandara lebih dulu mencurigai tas milik RAS saat pemeriksaan berlangsung. Pemeriksaan lanjutan kemudian dilakukan bersama personel kepolisian. Hasilnya, narkoba ditemukan tersimpan rapi di dalam barang bawaan tersangka.
"Setelah tas diperiksa petugas kepolisian, ditemukan sabu seberat 4.265 gram dan cartridge pod yang diduga mengandung narkotika," kata Walpon.
Saat RAS diamankan, ada satu kejadian lain yang membuat petugas semakin waspada. Seorang pria yang diduga dari satu rombongan dengannya mendadak menghilang dari area bandara. Pria itu belum sempat menjalani pemeriksaan barang bawaan. Kepergiannya justru memunculkan kecurigaan baru.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mendapat informasi bahwa RAS tidak berangkat sendirian. Ada seorang rekannya yang juga membawa barang mencurigakan. Informasi itu langsung ditindaklanjuti. Polisi bergerak cepat sebelum pria tersebut semakin jauh.
Beberapa jam kemudian, petugas menemukan pria itu di Terminal Madya Tarutung. Ia diketahui berinisial EST alias Tampu, 37 tahun, warga Kabupaten Mandailing Natal. Saat ditemukan, EST tidak lagi berada di kawasan bandara. Polisi menduga ia sengaja kabur setelah melihat rekannya ditangkap.
Pengakuan EST membuat cerita ini semakin terang. Ia mengaku panik ketika mengetahui petugas mengamankan RAS. Apalagi, tas miliknya sudah masuk ke area pemeriksaan. Rasa takut membuatnya memilih melarikan diri. Langkah itu justru menjadi awal petugas membongkar seluruh rencana mereka.
Polisi lalu berkoordinasi dengan petugas bandara untuk mengamankan tas milik EST yang masih tertinggal. Ketika tas tersebut dibuka, petugas kembali menemukan sabu dalam jumlah besar. Beratnya mencapai 4.164 gram. Jumlah itu hampir sama dengan yang ditemukan dari tas RAS.
Tidak hanya sabu, petugas juga menemukan puluhan cartridge vape berbagai rasa. Ada yang bertuliskan Manggo, Grape, dan Pineapple. Seluruh barang langsung diamankan sebagai barang bukti. Temuan itu memperkuat dugaan adanya modus baru penyelundupan narkoba.
Jika digabungkan, total sabu yang disita mencapai 8.429 gram atau sekitar 8,4 kilogram. Angka tersebut tergolong besar untuk pengiriman melalui jalur udara domestik. Nilainya diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Polisi menduga barang itu merupakan bagian dari jaringan peredaran lintas provinsi.
Menurut pengakuan kedua tersangka, sabu tersebut dibawa dari Medan. Tujuan akhirnya adalah Kalimantan. Mereka berencana memanfaatkan jalur penerbangan untuk mempercepat pengiriman. Rencana itu akhirnya kandas sebelum pesawat lepas landas. "RAS dan EST mengakui membawa sabu dari Medan untuk dibawa ke Kalimantan," ujar Walpon.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana jaringan narkoba terus mencari celah baru. Bandara yang menjadi pintu mobilitas masyarakat juga kerap dilirik sebagai jalur distribusi. Di balik koper dan tiket penerbangan, tersimpan operasi yang tidak selalu terlihat mata. Untungnya, satu kecurigaan kecil petugas mampu menghentikan perjalanan barang haram tersebut.
Kini RAS dan EST masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Tapanuli Utara. Penyidik memburu pemasok, penerima, dan pengendali di balik pengiriman tersebut. Satu per satu rantai jaringan sedang ditelusuri. Polisi berharap pengungkapan di Bandara Silangit ini menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar.
Pagi yang awalnya terlihat biasa itu akhirnya berubah menjadi operasi besar pemberantasan narkoba. Sebuah tas mencurigakan membuka tabir perjalanan 8,4 kilogram sabu yang nyaris terbang ke Kalimantan. Di ruang pemeriksaan bandara, rencana besar itu berakhir sebelum sempat mengudara. R-02

