Bentrok Berdarah di Kebun PT SBP! 6 Tersangka Diburu Usai Hujani Korban dengan Bacokan dan Tembakan
Ilustrasi dan infografis pengungkapan kasus penyerangan berdarah karyawan PT SBP di Indragiri Hulu. Foto: SM News/Created by AI
RIAU, SabangMerauke News - Kasus penyerangan berdarah karyawan PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) di Kabupaten Indragiri Hulu memasuki babak baru. Polisi menetapkan enam orang sebagai tersangka setelah menemukan alat bukti yang dianggap cukup untuk mengungkap peristiwa tersebut.
Penetapan tersangka dilakukan Satreskrim Polres Indragiri Hulu setelah serangkaian penyelidikan berlangsung sejak insiden terjadi pada Senin, 1 Juni 2026. Pemeriksaan saksi, olah tempat kejadian perkara, serta analisis sejumlah barang bukti menjadi kunci dalam mengurai kronologi bentrokan yang menggemparkan warga sekitar.
Kapolres Indragiri Hulu, AKBP Eka Ariandy Putra, mengatakan penyidik telah menggelar perkara sebelum mengambil keputusan. Hasil penyelidikan mengarah kepada enam orang yang diduga terlibat langsung dalam aksi penyerangan tersebut.
“Setelah dilakukan gelar perkara dan ditemukan dua alat bukti yang cukup, penyidik menetapkan enam orang sebagai tersangka,” kata Eka Ariandy Putra, Rabu, 3 Juni 2026.
Enam tersangka itu masing-masing berinisial AI, E, LM, KZ, M, dan SM alias Ucil. Masing-masing diduga memiliki peran berbeda dalam peristiwa yang membuat sejumlah korban harus mendapatkan perawatan intensif.
Kejadian bermula ketika sekitar 30 petugas pengamanan PT SBP melakukan pengamanan aktivitas pengerjaan lahan perusahaan. Situasi awalnya berjalan normal seperti hari kerja biasa. Mesin bekerja, petugas berjaga, dan aktivitas lapangan berlangsung tanpa gangguan berarti.
Namun, suasana berubah saat sekelompok massa mendatangi lokasi. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 100 orang. Kedatangan kelompok tersebut membuat ketegangan langsung terasa di area perkebunan.
Awalnya hanya terjadi adu argumentasi. Suara perdebatan saling bersahutan di tengah hamparan lahan. Tidak ada yang menyangka situasi itu akan berubah menjadi bentrokan brutal dalam waktu singkat.
Ketegangan kemudian meledak menjadi aksi kekerasan. Senjata tajam dan senapan angin disebut muncul di tengah kerumunan. Dalam kekacauan itu, sejumlah korban berjatuhan dengan luka serius.
Korban bernama Zulkifli dan Leo Saputra mengalami luka tembak pada bagian punggung. Keduanya harus mendapatkan penanganan medis karena kondisi luka yang cukup berat. Proyektil peluru menjadi ancaman paling mengerikan dalam insiden tersebut.
Korban lain, Edi Yanto, mengalami luka bacok pada tangan serta luka tembak di bagian pangkal paha. Luka ganda itu membuat proses penanganan medis menjadi lebih rumit. Tenaga kesehatan harus bekerja ekstra menangani kondisi korban.
Beberapa korban lainnya mengalami luka robek, memar, serta luka akibat senjata tajam. Sebagian harus menjalani operasi karena benda asing masih tertinggal di dalam tubuh mereka. Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi para korban dan keluarga.
Hasil penyidikan mengungkap dugaan peran masing-masing tersangka. AI diduga membacok Edi Yanto menggunakan kapak saat bentrokan berlangsung. Serangan itu menjadi salah satu aksi yang menyebabkan korban mengalami luka serius.
Tersangka M diduga menyerang korban bernama Fessy menggunakan parang. Sementara SM alias Ucil disebut melukai Rudi Afriadi dengan senjata tajam. Polisi masih mendalami detail rangkaian kejadian untuk melengkapi konstruksi perkara.
Nama LM menjadi perhatian dalam hasil penyidikan. Polisi menduga LM membawa senapan angin ke lokasi bentrokan. Ia juga disebut sebagai orang pertama yang melepaskan tembakan saat kericuhan pecah.
Sementara itu, tersangka E dan KZ diketahui membawa parang saat berada di lokasi kejadian. Keberadaan senjata tersebut memperkuat dugaan keterlibatan mereka dalam aksi penyerangan. Penyidik masih menelusuri asal-usul seluruh senjata yang digunakan.
Eka Ariandy menegaskan penyidikan belum berhenti pada penetapan tersangka. Polisi masih mengumpulkan bukti tambahan untuk memperkuat berkas perkara. Langkah itu dilakukan agar proses hukum berjalan maksimal.
“Kami akan melakukan penangkapan terhadap para tersangka, melengkapi pemeriksaan korban, dan segera mengirimkan SPDP kepada jaksa penuntut umum,” tegas Eka.
Dalam proses penyidikan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti penting. Barang bukti itu terdiri dari pakaian korban yang berlumuran darah, proyektil peluru, hingga rekaman video saat kejadian berlangsung. Rekaman tersebut menjadi petunjuk penting untuk mengungkap peran setiap pelaku.
Video kejadian memperlihatkan situasi yang berlangsung kacau. Teriakan terdengar bersahutan saat massa dan petugas saling berhadapan. Momen itu kini menjadi salah satu bahan utama dalam proses pembuktian.
Kasus ini menyita perhatian masyarakat Indragiri Hulu. Bentrokan berdarah yang melibatkan senjata tajam dan tembakan jarang terjadi dalam skala sebesar ini. Warga berharap proses hukum berjalan cepat dan memberikan kepastian.
Di tengah penyidikan yang masih berlangsung, aparat terus memburu barang bukti lain yang belum ditemukan. Fokus penyidik kini mengarah pada senjata yang digunakan para tersangka saat bentrokan terjadi. Setiap potongan bukti dianggap penting untuk memperjelas peristiwa.
Peristiwa di PT SBP menjadi pengingat betapa cepat sebuah konflik dapat berubah menjadi tragedi. Adu mulut yang semula terdengar biasa mendadak menjelma menjadi kekerasan berdarah. Kini semua mata tertuju pada proses hukum yang sedang berjalan di Polres Indragiri Hulu.
Dengan enam tersangka yang sudah ditetapkan, kasus ini memasuki fase baru. Polisi berjanji mengusut tuntas seluruh rangkaian kejadian. Sementara para korban masih berjuang memulihkan kondisi setelah mengalami luka yang tidak ringan. R-02

