Lima Karyawan Tumbang Diserang, Kemunculan Ekskavator Bikin Kasus PT SBP Makin Panas
Dua karyawan PT Sinar Belilas Perkasa dirawat usai diserang seratusan massa pada Senin, 1 Juni 2026. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News - Penyerangan terhadap karyawan PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) di Kabupaten Indragiri Hulu menyisakan banyak pertanyaan. Bukan hanya soal para pelaku yang belum tertangkap. Kemunculan sebuah ekskavator setelah aksi penyerangan juga ikut menjadi sorotan.
Insiden tersebut terjadi pada Senin, 1 Juni 2026. Sejumlah karyawan PT SBP menjadi korban serangan kelompok orang tak dikenal. Lima orang dilaporkan mengalami luka bacok dan luka tembak. Mereka masih menjalani perawatan akibat luka yang cukup serius.
Di tengah suasana mencekam itu, saksi mata bernama Edi Yanto mengaku melihat langsung kelompok penyerang datang ke lokasi. Mereka disebut tiba dalam jumlah yang cukup banyak. Yang membuat situasi semakin menegangkan adalah kelompok itu datang membawa berbagai jenis senjata. Beberapa di antaranya terlihat jelas di hadapan para karyawan.
"Massa membawa senjata tajam, tiga pucuk pistol dan satu senapan angin. Setelah itu mereka melakukan penyerangan terhadap karyawan PT SBP," kata Edi Yanto, saksi mata, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Edi, suasana berubah kacau hanya dalam hitungan menit. Karyawan yang berada di lokasi berusaha menyelamatkan diri. Sebagian berlari menjauh dari area kejadian. Sebagian lainnya berusaha menghindari serangan yang datang secara tiba-tiba.
Namun, cerita di lokasi belum berhenti sampai di situ. Saat karyawan sudah mundur dan situasi mulai sepi, sebuah alat berat tiba-tiba muncul. Ekskavator tersebut masuk ke area dekat lokasi penyerangan. Tidak lama kemudian, alat berat itu terlihat mulai beroperasi.
"Setelah karyawan mundur, terlihat satu unit ekskavator masuk ke area dekat lokasi penyerangan dan mulai bekerja. Hal itu juga disaksikan beberapa saksi lain di lapangan," ujarnya.
Keterangan itu kemudian menjadi perhatian banyak orang. Sebab waktu kemunculan ekskavator dinilai sangat berdekatan dengan aksi penyerangan. Para saksi berharap bagian tersebut tidak luput dari penyelidikan. Mereka ingin seluruh rangkaian kejadian dibuka secara utuh.
PT SBP juga menaruh perhatian besar pada kemunculan alat berat tersebut. Manajemen perusahaan menilai ada sejumlah fakta yang perlu ditelusuri lebih jauh. Karena itu, perusahaan meminta polisi tidak hanya fokus mengejar pelaku di lapangan. Hubungan antara penyerangan dan masuknya ekskavator juga diminta untuk diperiksa.
Humas PT SBP, Rahman Manurung, mengatakan seluruh fakta harus dibongkar hingga tuntas. Menurutnya, setiap bagian dari peristiwa itu saling berkaitan. Karena itu, penyelidikan tidak boleh berhenti pada pelaku yang terlihat di lapangan saja. Dalang di balik kejadian juga perlu diungkap.
"Kami meminta kepolisian mengurai hubungan antara pelaku penyerangan dengan alat berat yang masuk ke lokasi. Selain itu, siapa pun yang menjadi aktor intelektual di balik kejadian ini harus diungkapkan," tegas Rahman Manurung.
Perusahaan kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polres Indragiri Hulu. Laporan dibuat oleh karyawan PT SBP, Probo Sutejo. Laporan itu tercatat pada Senin, 1 Juni 2026. Sejak saat itu, penyelidikan mulai berjalan.
Dalam laporan tersebut, perusahaan menyampaikan dugaan penganiayaan berat dan upaya pembunuhan. Dugaan penggunaan senjata juga ikut dilaporkan. Perusahaan berharap para pelaku segera ditemukan. Proses hukum pun diminta berjalan sampai tuntas.
Rahman mengatakan perusahaan tidak melihat peristiwa itu sebagai konflik antara perusahaan dan masyarakat sekitar. Menurutnya, ada dugaan lain yang sedang menjadi perhatian. Dugaan tersebut berkaitan dengan persoalan penjualan lahan HGU perusahaan. Informasi itu juga telah disampaikan kepada penyidik.
Selain itu, para pelaku disebut menggunakan penutup wajah saat menjalankan aksinya. Cara tersebut membuat identitas mereka sulit dikenali. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi penyidik. Namun, para saksi berharap pelaku tetap bisa ditemukan.
Perusahaan juga mengungkap informasi lain yang cukup mengejutkan. Seorang operator alat berat disebut sempat ditodong menggunakan pistol. Operator tersebut lalu diperintahkan merusak kendaraan milik karyawan menggunakan ekskavator. Keterangan itu kini masuk dalam daftar fakta yang sedang didalami polisi.
"Kami meminta kepolisian segera menangkap pelaku penyerangan yang menggunakan senjata tajam dan pistol terhadap karyawan PT SBP," ujar Rahman.
Sementara itu, penyidik Polres Indragiri Hulu masih bekerja mengumpulkan berbagai keterangan. Sejumlah saksi telah dimintai penjelasan. Polisi juga terus menyusun kronologi lengkap kejadian. Setiap informasi yang masuk sedang dicocokkan satu per satu.
Kasat Reskrim Polres Indragiri Hulu, Iptu Adlin, mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Fokus penyidik saat ini adalah mengidentifikasi pelaku. Pemeriksaan saksi juga terus dilakukan. Polisi belum menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
"Kami masih melakukan penyelidikan dan penyidikan, termasuk pemeriksaan saksi-saksi untuk menentukan siapa para pelaku. Kalau sudah ada titik terang, nanti akan disampaikan," kata Iptu Adlin.
Hingga Selasa, 2 Juni 2026, para pelaku belum diamankan. Meski begitu, proses penyelidikan masih terus berjalan. Polisi diminta bergerak cepat mengungkap seluruh fakta. Sebab di balik luka para korban, masih ada misteri yang belum terjawab.
Misteri itu bukan hanya soal siapa yang menyerang. Tetapi juga tentang mengapa ekskavator muncul tepat setelah penyerangan terjadi. Pertanyaan tersebut kini menggantung di tengah penyelidikan. Dan jawabannya, masih ditunggu banyak orang. R-02

