Uang Rp290 Juta Menguap Misterius, Nasib Sales Sembako Bengkalis Berakhir Di Jeruji Besi!
Wanita berinisial DA diamankan polisi atas dugaan penggelapan dana perusahaan tempatnya bekerja di Bengkalis. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News - Seorang sales PT Dely Makmur di Kabupaten Bengkalis berinisial DA ditahan Satreskrim Polres Bengkalis. Ia diduga menggelapkan uang perusahaan hingga mencapai Rp290 juta. Dana tersebut berasal dari hasil penjualan sembako dan rokok.
Kasus ini mencuat setelah perusahaan menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan. Ada sejumlah pembayaran pelanggan yang tercatat masuk. Namun, uang yang seharusnya berada di kas perusahaan justru tidak ditemukan. Selisih itu terus bertambah dari waktu ke waktu.
Manajemen kemudian melakukan penelusuran lebih lanjut. Hasil pemeriksaan internal mengarah pada transaksi yang ditangani DA. Temuan tersebut lalu dilaporkan ke Polres Bengkalis. Dari situlah penyelidikan dimulai.
Penyidik mulai memeriksa dokumen penjualan, bukti pembayaran, serta keterangan sejumlah saksi. Satu demi satu data dicocokkan. Hasilnya mengarah pada dugaan penggelapan. Polisi kemudian meningkatkan penanganan perkara ke tahap penyidikan.
DA diketahui bekerja sebagai sales pada PT Dely Makmur. Tugasnya menerima pembayaran dari pelanggan yang membeli sembako dan rokok. Setelah menerima uang, dana tersebut seharusnya disetorkan kepada kasir perusahaan. Namun, dugaan penyimpangan justru muncul dari proses itu.
Menurut hasil penyelidikan, sejumlah uang yang diterima dari pelanggan tidak masuk ke perusahaan. Dana tersebut diduga digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian lagi disebut dipakai untuk membayar utang. Nilainya pun tidak sedikit.
Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, melalui Kasatreskrim, Iptu Yohn Mabel, mengatakan kerugian perusahaan mencapai ratusan juta rupiah. Angka tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan transaksi yang telah dilakukan penyidik. Keterangan tersangka juga menjadi bagian dari proses pendalaman.
"Kerugian yang dialami perusahaan diperkirakan mencapai Rp290 juta. Berdasarkan pengakuan tersangka, uang tersebut digunakan untuk keperluan pribadi dan membayar utang," kata Yohn Mabel, Selasa, 2 Juni 2026.
Bagi sebuah perusahaan distribusi, kehilangan dana hampir Rp300 juta tentu bukan persoalan kecil. Uang tersebut merupakan hasil penjualan yang seharusnya menjadi pemasukan usaha. Ketika dana itu tidak masuk, operasional perusahaan ikut terdampak. Karena itulah, kasus ini langsung mendapat perhatian serius.
Dalam pemeriksaan, penyidik menemukan sejumlah pembayaran pelanggan yang tidak disetorkan sesuai prosedur. Padahal transaksi tersebut telah selesai dilakukan. Pelanggan sudah membayar kewajibannya. Namun, dana itu diduga berhenti di tangan tersangka.
"Dari hasil pemeriksaan, tersangka diduga telah menerima sejumlah pembayaran dari pelanggan, namun uang yang seharusnya disetorkan ke perusahaan justru digunakan untuk kepentingan pribadi," ujar Yohn Mabel.
Setelah alat bukti dinilai cukup, penyidik menetapkan DA sebagai tersangka. Polisi kemudian menerbitkan surat perintah penahanan. Langkah itu diambil agar proses penyidikan berjalan lancar. Pemeriksaan terhadap tersangka juga masih terus dilakukan.
"Terhadap tersangka DA telah dilakukan penahanan berdasarkan Surat Perintah Penahanan yang diterbitkan pada 2 Juni 2026 untuk kepentingan proses penyidikan," jelas Yohn Mabel.
Selain memeriksa tersangka, penyidik juga melengkapi berbagai dokumen pendukung. Berkas perkara sedang disusun secara bertahap. Koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum juga terus dilakukan. Tujuannya agar perkara segera masuk ke tahap berikutnya.
Polisi menjerat tersangka dengan dugaan penggelapan dalam jabatan. Kasus tersebut diatur dalam Pasal 488 juncto Pasal 486 KUHP. Ancaman pidana menjadi konsekuensi yang harus dihadapi apabila dugaan tersebut terbukti di pengadilan. Seluruh proses masih berjalan sesuai tahapan hukum.
Kasus ini menjadi pengingat bagi banyak perusahaan. Pengawasan transaksi dan laporan keuangan tidak bisa dianggap sepele. Kadang masalah besar justru berawal dari selisih angka yang terlihat kecil. Ketelitian menjadi benteng pertama untuk mencegah kerugian lebih besar. R-02

