Harga Sawit Anjlok Parah di Sumbar, Dari Rp2.000 Kini Tinggal Rp700 per Kilogram
Ilustrasi petani memanen buah kelapa sawit. (ist)
SUMBAR, SabangMerauke News - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mendadak bikin petani terdiam. Dalam hitungan hari, harga sawit jatuh secara brutal dari Rp2.000 menjadi Rp700 per kilogram. Kondisi ini langsung memukul petani swadaya yang sedang berjibaku menghadapi pupuk mahal dan kebutuhan rumah tangga yang semakin menggila.
Suasana kebun sawit di Kecamatan Lengayang mendadak berubah murung sejak akhir pekan lalu. Petani mulai sibuk menghitung kerugian dibandingkan dengan menghitung hasil panen harian. Banyak warga mengaku syok karena penurunan harga terjadi sangat cepat tanpa tanda jelas sebelumnya.
Endi, petani sawit di Kecamatan Lengayang, mengaku bingung menghadapi kondisi pasar yang mendadak jungkir-balik. Harga sawit sebelumnya masih bertahan stabil di angka Rp2.000 per kilogram. “Sekarang tinggal Rp700 per kilogram, turun sangat cepat,” kata Endi, Rabu, 27 Mei 2026.
Cerita serupa muncul dari berbagai sudut perkebunan sawit Kabupaten Pesisir Selatan. Para petani mulai mempertanyakan rantai distribusi hingga permainan harga tingkat pengepul. Sebagian warga bahkan memilih menunda panen karena hasil penjualan dianggap tidak masuk akal.
Endi menyebut pengepul sempat mengaitkan persoalan harga dengan kelangkaan bahan bakar solar. Operasional pengangkutan sawit disebut ikut tersendat selama beberapa hari terakhir. “Toke bilang karena solar langka, jadi pengiriman sawit terganggu,” ujar Endi.
Di Kecamatan Sutera, keresahan petani makin terasa ketika biaya kebun terus membengkak setiap bulan. Harga pupuk kini terasa seperti musuh utama petani sawit swadaya daerah pesisir. Sementara hasil panen malah anjlok sampai membuat banyak petani kehilangan semangat bekerja.
Linda, petani sawit di Kecamatan Sutera, mengaku pengeluaran kebun sudah tidak seimbang dengan pendapatan panen. Harga pupuk NPK sekarang mencapai Rp800 ribu per karung ukuran standar. “Harga sawit cuma Rp700 per kilogram, jelas petani kewalahan,” kata Linda.
Linda berharap pemerintah segera turun mencari solusi untuk menyelamatkan harga sawit tingkat petani kecil. Menurutnya, kebutuhan pokok sekarang terus naik tanpa kompromi sedikit pun. “Kalau dibiarkan lama, petani makin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Linda.
Gelombang penurunan harga sawit ternyata tidak cuma menghantam Kabupaten Pesisir Selatan saja. Kondisi serupa disebut terjadi di hampir seluruh daerah penghasil kelapa sawit Indonesia. Situasi itu mulai memicu kekhawatiran panjang kalangan petani swadaya di berbagai wilayah Sumatera.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Yul Afrizal, menjelaskan penurunan harga berkaitan dengan kebijakan baru tata kelola CPO nasional. Pemerintah pusat sedang menyiapkan mekanisme ekspor sawit melalui sistem satu pintu. Nantinya pengelolaan ekspor crude palm oil berada dalam kendali Danantara.
Yul Afrizal mengatakan perusahaan sawit sebelumnya bebas menjual CPO ke berbagai jalur perdagangan luar negeri. Kini mekanisme perdagangan mulai diarahkan menuju sistem terpusat secara nasional. “Ini proses penyesuaian kebijakan baru sektor sawit nasional,” kata Yul Afrizal.
Menurut Yul Afrizal, perubahan tata kelola membuat rantai perdagangan sawit sedang mengalami penyesuaian besar. Dampaknya terasa langsung sampai tingkat petani sawit di daerah penghasil bahan baku. Harga TBS akhirnya ikut terseret turun selama proses transisi berjalan.
Meski begitu, Yul Afrizal meminta petani tidak terlalu panik menghadapi kondisi sementara tersebut. Informasi dari Dewan Akasindo Pusat menyebut harga sawit berpotensi kembali membaik. Bahkan harga diperkirakan bisa melampaui angka normal setelah sistem berjalan stabil.
“Prediksi sementara, harga sawit akan kembali naik setelah mekanisme baru mulai stabil,” ujar Yul Afrizal. Ia menilai kondisi sekarang masih bagian dari proses adaptasi industri sawit nasional. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan harga tingkat petani.
Yul Afrizal turut membantah isu kelangkaan solar menjadi penyebab utama jatuhnya harga sawit daerah. Menurutnya, faktor terbesar berasal dari perubahan tata kelola ekspor crude palm oil nasional. “Tidak berkaitan dengan solar, ini efek kebijakan tata niaga sawit baru,” tegas Yul Afrizal.
Ia memastikan petani sawit swadaya tetap menjual hasil panen melalui perusahaan pengolahan daerah masing-masing. Perubahan hanya terjadi pada jalur penjualan crude palm oil menuju pasar ekspor internasional. Sistem perdagangan tingkat petani disebut masih berjalan seperti biasanya.
“Petani tetap menjual sawit ke perusahaan pengolahan daerah,” kata Yul Afrizal, menjelaskan mekanisme terbaru. Setelah diolah menjadi crude palm oil, produk kemudian disalurkan menuju Danantara. Jalur ekspor selanjutnya dikendalikan melalui sistem perdagangan satu pintu nasional.
Harapan petani sekarang sederhana, harga sawit kembali normal sebelum kondisi ekonomi rumah tangga semakin berat. Banyak warga mulai mengurangi pengeluaran harian demi bertahan menghadapi situasi tidak menentu. Kebun sawit yang dulu menjanjikan keuntungan kini berubah menjadi sumber kecemasan baru.
Turunnya harga sawit mendadak membuat banyak petani merasa seperti kehilangan pegangan ekonomi utama keluarga. Di tengah mahalnya pupuk dan kebutuhan pokok, hasil panen kini terasa makin menyesakkan. Jika harga terus bertahan rendah, gelombang keresahan petani sawit Sumatera Barat dipastikan semakin membesar. R-02

