Terkuak! Surat-surat Misterius Pemicu Ade Armando Mundur dari PSI
Ade Armando. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Keputusan mengejutkan datang dari politisi sekaligus akademisi, Ade Armando, yang resmi mengundurkan diri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Langkah ini bukan sekadar keputusan personal biasa, melainkan dipicu oleh dinamika tekanan yang semakin intens, baik dari luar maupun dampaknya terhadap partai.
Dalam konferensi pers yang digelar di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026), Ade secara terbuka mengungkap salah satu faktor utama yang mendorong dirinya mengambil keputusan tersebut: keberadaan surat-surat yang ditujukan kepada petinggi partai.
Ade menyebut ada pihak-pihak tertentu yang secara terang-terangan menyatakan penolakan terhadap dirinya. Surat-surat itu bahkan berisi ancaman tidak akan memberikan dukungan kepada PSI selama dirinya masih menjadi bagian dari partai tersebut.
“Dalam surat itu disebutkan, selama Ade Armando masih ada di PSI, mereka tidak akan mendukung partai,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa keberadaannya bukan hanya menjadi sorotan, tetapi juga dianggap sebagai beban politik bagi partai oleh sejumlah pihak eksternal.
Tekanan dari Laporan dan Serangan Publik
Tidak hanya soal surat, Ade juga menghadapi tekanan besar dari berbagai laporan hukum yang ditujukan kepadanya. Ia mengungkapkan bahwa puluhan organisasi masyarakat, termasuk sejumlah tokoh, telah melaporkannya ke kepolisian.
Laporan tersebut berkaitan dengan polemik video ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla yang diduga dipotong dan diunggah ke media sosial. Kasus ini kemudian memicu gelombang kritik dan serangan yang meluas, tidak hanya kepada dirinya secara pribadi, tetapi juga menyeret nama PSI.
Ade menilai, situasi ini berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya serangan hanya tertuju pada dirinya, kali ini dampaknya meluas hingga ke partai. Bahkan, ia menyebut serangan di media sosial berlangsung sangat masif dan melibatkan figur-figur besar.
“Saya melihat ini bukan sekadar kritik biasa. Ada upaya yang terorganisir untuk menyerang saya dan sekaligus menyerang PSI,” ujarnya.
Demi Menyelamatkan Partai
Dalam situasi tersebut, Ade akhirnya memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral. Ia menegaskan, keputusan ini bukan karena konflik internal dengan PSI, melainkan demi menjaga stabilitas dan nama baik partai.
Ia menyadari bahwa setiap pernyataan dan sikapnya kerap dikaitkan langsung dengan PSI. Kondisi ini berpotensi merugikan partai secara politik, terutama di tengah tekanan publik yang semakin kuat.
“Tidak ada konflik antara saya dan PSI. Tapi saya mundur demi kebaikan bersama,” tegasnya.
Langkah ini juga diambil agar berbagai serangan yang selama ini ditujukan kepadanya tidak lagi berdampak pada rekan-rekannya di partai.
Pihak PSI sendiri menyatakan menerima keputusan tersebut setelah melalui diskusi panjang. Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menyebut pengunduran diri Ade merupakan langkah yang rasional dalam situasi yang dihadapi.
Menurutnya, Ade sendiri yang menginisiasi diskusi dan menyampaikan kekhawatiran bahwa polemik yang menimpanya bisa berdampak lebih luas terhadap partai.
PSI juga memahami bahwa posisi Ade sebagai figur publik membuat setiap pernyataannya mudah dikaitkan dengan identitas partai. Dalam kondisi tekanan yang meningkat, keputusan mundur dinilai sebagai jalan terbaik untuk menjaga kepentingan bersama.
Bukan Akhir, Tapi Strategi
Meski mundur dari PSI, Ade menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bersalah atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia juga menyebut laporan hukum yang masuk kemungkinan akan terus berlanjut dan tidak akan dicabut.
Namun demikian, ia memilih untuk menghadapi persoalan tersebut sebagai individu, bukan lagi sebagai representasi partai.
Keputusan ini sekaligus menunjukkan strategi politik yang lebih luas: memisahkan persoalan pribadi dari institusi, agar dampaknya tidak merembet dan merugikan organisasi. (R-03)

