Krisis Minyak Global, Exxon dan Chevron Kehilangan Puluhan Miliar Dolar
Exxon Mobil mencatat laba sebesar 85,14 miliar dolar Amerika pada periode tersebut. Foto : Istimewa
Washington, SABANGMERAUKE NEWS - Dampak konflik Timur Tengah langsung terasa pada kinerja dua raksasa migas Amerika Serikat.
Penutupan jalur vital energi global memicu gangguan distribusi minyak lintas kawasan utama dunia.
Akibatnya, laba perusahaan besar energi mengalami penurunan signifikan selama kuartal pertama tahun 2026.
Exxon Mobil mencatat laba sebesar 85,14 miliar dolar Amerika pada periode tersebut.
Angka tersebut turun tajam hingga 45 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Meski turun, capaian itu masih melampaui proyeksi analis Wall Street untuk kuartal pertama tahun ini.
Sementara itu, Chevron melaporkan laba bersih sebesar 48,61 miliar dolar Amerika.
Kinerja tersebut anjlok 36 persen dibandingkan capaian kuartal pertama tahun 2025 lalu.
Angka itu juga berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pendapatan lebih tinggi sebelumnya.
Gangguan distribusi minyak menjadi faktor utama yang menekan performa kedua perusahaan energi besar tersebut.
Penutupan Selat Hormuz menghambat arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global.
Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan pasokan serta lonjakan biaya logistik distribusi energi dunia.
CEO Darren Woods mengungkapkan konflik memengaruhi sekitar 15 persen produksi perusahaan tersebut.
Ia menegaskan gangguan rantai pasok berdampak langsung pada distribusi minyak ke berbagai pasar utama.
“Konflik ini menghambat pengiriman serta menekan pendapatan kuartal pertama perusahaan,” ujar Woods tegas.
Woods menjelaskan perusahaan mengalihkan sekitar 13 juta barel minyak ke pasar paling membutuhkan.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah krisis energi global.
Namun kebijakan tersebut berdampak negatif terhadap pencatatan pendapatan perusahaan secara keseluruhan kuartal tersebut.
Selain itu, waktu pemulihan distribusi minyak diperkirakan membutuhkan periode cukup panjang setelah konflik mereda.
Diperlukan hingga dua bulan agar aliran minyak kembali normal setelah jalur dibuka kembali.
Distribusi tambahan menuju konsumen global membutuhkan waktu sekitar satu bulan setelah pengiriman dimulai kembali.
Di sisi lain, CEO Mike Wirth menyatakan dampak konflik terhadap perusahaannya relatif lebih kecil.
Ia menjelaskan eksposur operasi Chevron di kawasan Timur Tengah tidak sebesar perusahaan energi lainnya.
“Dampak terhadap perusahaan kami relatif lebih kecil dibandingkan pemain industri lain,” kata Wirth menjelaskan.
Wirth menambahkan portofolio Chevron lebih tersebar di berbagai kawasan luar Timur Tengah saat ini.
Operasi utama perusahaan berada di Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, serta Afrika secara luas.
Diversifikasi geografis ini membantu perusahaan meredam dampak langsung konflik terhadap kinerja operasionalnya.
Meski demikian, tekanan global tetap terasa akibat fluktuasi harga minyak dan ketidakpastian geopolitik.
Pasar energi menghadapi volatilitas tinggi seiring eskalasi konflik di kawasan strategis dunia tersebut.
Investor pun mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kinerja sektor energi sepanjang tahun berjalan.
Analis menilai situasi ini berpotensi berlanjut jika konflik belum menemukan titik penyelesaian cepat.
Gangguan distribusi minyak dapat memperpanjang tekanan terhadap harga dan pasokan energi global.
Perusahaan migas dituntut meningkatkan fleksibilitas strategi menghadapi dinamika geopolitik yang terus berkembang.(R-03)

