Tak Masuk Akal! Batu Bara Melemah Meski Permintaan Energi Global Menguat
Harga batu bara global justru terperosok saat sentimen positif membanjiri pasar energi. Foto : Istimewa
Riau, SABANGMERAUKE NEWS - Harga batu bara global justru terperosok saat sentimen positif membanjiri pasar energi. Kontrak Mei ditutup di level US$120,4 per ton pada perdagangan Senin (20/4/2026), melemah 1,67% dan memperpanjang tren penurunan tajam dalam dua hari terakhir.
Data Refinitiv menunjukkan harga batu bara telah terkoreksi hingga 4,3% dalam dua sesi, meski pasar dibanjiri katalis positif, mulai dari lonjakan harga minyak hingga potensi peningkatan permintaan dari Asia dan Eropa.
Dari sisi fundamental, China kembali menghidupkan proyek konversi batu bara menjadi gas sebagai respons terhadap gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Salah satu proyek besar, Fuxin Project senilai US$3,7 miliar, kembali dilanjutkan setelah sempat terhenti karena kendala biaya dan lingkungan.
Langkah ini mencerminkan dorongan kuat Beijing untuk mengamankan pasokan energi domestik. Tercatat, ada sekitar 13 proyek serupa yang tengah dibangun atau direncanakan, dengan potensi peningkatan kapasitas gas sintetis hingga lebih dari 52 miliar meter kubik, setara 12% pasokan nasional.
Tak hanya itu, laporan Global Energy Monitor menyebut China akan mengoperasikan 85 unit PLTU baru tahun ini, mendominasi proyek global. Batu bara juga terus digunakan sebagai bahan baku gas, bahan bakar cair, hingga industri kimia.
Namun, sentimen positif tersebut belum mampu mengangkat harga. Permintaan akhir yang masih lemah menjadi faktor utama penahan. Meski utilitas mulai melakukan restocking menjelang musim panas, pembelian dari sektor industri dan trader tetap cenderung konservatif.
Harga batu bara domestik China pun relatif stabil, didukung mahalnya harga impor akibat tingginya ongkos logistik dan harga seaborne. Kondisi ini membuat batu bara lokal lebih kompetitif, tetapi belum cukup kuat mendorong reli harga global.
Di sisi lain, batu bara kokas mulai menunjukkan pemulihan setelah tekanan di awal bulan mereda. Kenaikan ini dipicu aktivitas restocking jelang libur panjang serta menguatnya harga coke, meski pelaku pasar masih menahan diri terhadap harga tinggi.
Sinyal tambahan datang dari Italia. Menteri Energi Gilberto Pichetto Fratin menyatakan pemerintah membuka opsi mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara jika harga gas melonjak hingga €70 per megawatt-jam.
Saat ini harga gas masih berada di kisaran €40, namun pemerintah telah menyiapkan skenario darurat. Italia bahkan menunda penutupan total PLTU batu bara hingga 2038, seiring ketidakpastian energi pasca konflik Timur Tengah.
Meski berbagai faktor tersebut berpotensi menopang permintaan, pasar batu bara global masih dibayangi ketidakseimbangan antara ekspektasi dan realisasi konsumsi. Selama permintaan riil belum pulih signifikan, tekanan harga diperkirakan masih berlanjut.(R-04)

